Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
NKK/BKK Zaman Now | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

NKK/BKK Zaman Now

Tafsir Perdamaian

Inna arsalnaka rahmatan lil alamin adalah pesan universal yang disampaikan Tuhan dengan instrumen bahasa Arab kepada Muhammad Saw. untuk membumikan Islam rahmah kepada setiap...

LGBTIQ, Religion, and Human Rights in Indonesia

IntroductionAustralia has just found the result of marriage postal survey regarding the same-sex marriage (SSM). Roughly 61,6% of Australian citizen has voted for a...

Amerika Serikat Pasca Trump

Membayangkan sebuah negara ketika beralih kekuasaan politik memang sangat menarik. Manuver, Gaya, dan Arah haluan pun bisa 180 derajat berbeda. Haluan ini menjelaskan bahwa...

Setelah 25 Tahun Genosida Muslim Bosnia

11 Juli kemarin adalah hari yang sangat pilu dirasa bagi warga Bosnia-Herzegovina. Di Srebrenica, 25 tahun yang lalu, umat Islam setempat menghadapi genosida dari pasukan...
Egip Satria Eka Putra
Ketua MPM KM Universitas Andalas, Padang

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang lama berupa Dewan Mahasiswa dan diganti dengan format yang baru.

NKK/BKK adalah sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim Soeharto pada tahun 1977-1978 untuk memecah kemasifan gerakan yang dilakukan mahasiswa pada saat itu.

NKK/BKK ini bertujuan untuk membatasi kegiatan politik mahasiswa, bahkan mahasiswa dilarang untuk berpolitik di kampus. Maka, penulis berpandangan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membungkam kebebasan mahasiswa di kampus. Diterapkan pada masa pemerintahan orde baru yakni pada saat Menteri Pendidikan Daoed Joesoef dan dilanjutkan pada masa kepemimpinan Nugroho Notosusanto.

Jika kita liat sejarah, lahirnya kebijakan NKK/BKK ini dilatar belakangi oleh beberapa peristiwa yang bersejarah bagi pergerakan mahasiswa. Kala itu ketika memasuki pertengahan tahun 1970-an. Di mana pada saat itu pergerakan mahasiswa sedang massifnya bergejolak.

Tepatnya ditahun 1974 dan tahun 1978. Di mana di tahun 1974 meletus Peritiwa Malari. Peristiwa Malari adalah gerakan pertama mahasiswa secara monumental untuk menentang kebijakan pembangunan Soeharto. Pergerakan Mahasiswa pada saat itu ditujukan terhadap kebijakan Orde Baru yang pro terhadap modal asing sebagaipenjajahan baru di Indonesia terutama terhadap Jepang.

Peristiwa selanjutnya terjadi pada tahun 1978. Sama halnya dengan gerakan 1974, aksi ini muncul karena kekecewaan mahasiswa terhadap konsep ekonomi yang dijalankan Soeharto serta kekecewaan terhadap praktik politik Orba yang semakin jauh dari nilai-nilai demokrasi. Bahkan, pada masa itu mahasiswa dengan berani mengkampanyekan penolakan terhadap Soeharto yang ingin kembali mencalonkan dirinya menjadi Presiden.

Untuk menghindari aksi-aksi berikutnya dari mahasiswa, maka dari itulah pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan melalui SK menteri pendidikan dan kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).

Inti dari dua kebijakan ini adalah untuk mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa. Dimana mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori bukan praktik. Pemerintah Orde Baru melakukan intervensi dalam kehidupan kampus, dengan dalih stabilitas politik dan pembangunan. Kebijakan ini benar-benar menjauhkan mahasiswa darirealita sosial yang ada.

Kebijakan ini sebagai bagiandari upaya depolitisasi kampus dan meredam aktivitas politik mahasiswa.Mahasiswa dilarang berpolitik, ataupun melakukan aktivitas yang berbau politik,kebebasan intelektual kampus di kebiri, dan kontrol yang kuat kepada organisasi-organisasi mahasiswa diperketat. Kampus menjadi sebuah penjara berpikir bagi mahasiswanya.

Gerakan mahasiswa pun akhirnya “tertidur”.Kebijaksanaan NKK/BKK ini kemudian lebih diperketat lagi ketika Mendikbud dijabatoleh Nugroho Notosusanto. Pemerintah memberlakukan transpolitisasi yaitu ketika mahasiswa ingin berpolitik, mahasiswa harus disalurkan melalui organisasi politik resmi semacam Senat, BEM, dan lain-lain, di luar itu dianggap ilegal.

Dalam kurun waktu ini jugalah diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS),sehingga aktivitas mahasiswa dipacu hanya untuk cepat selesai studi/kuliah danmeraih IP yang tinggi.

Aktivitas mahasiswa berupa demonstrasi dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai dengan iklim masyarakat ilmiah. Kegiatan kemahasiswaan terbatas pada wilayah minat danbakat, kerohanian, dan penalaran saja. Selain itu, dalam Tri Darma PerguruanTinggi dinyatakan bahwa fungsi perguruan tinggi adalah menjalankan pendidikan,penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Depolitisasi yang diterapkan saat itu sungguh efektif, mahasiswa menjadi study oriented sehingga selama puluhan tahun kegiatan mahasiswa jauh dari aktivitas mengkritisi kebijakan penguasa. Inilah hal-hal yang membuat mahasiswa semakin mengalami depolitisasi dan semakin terasing dari lingkungannya. Kemudian yang terjadi adalah demoralisasi di tingkatan mahasiswa.

Mencermati dinamika beberapa kampus saat ini, Sistem seperti NKK/BKK kini mulai kembali terasa di kampus-kampus. Dengan model baru yakni “NKK/BKK Zaman Now”. Beragam bentuk praktiknya yang dapat kita temui dilapangan saat ini.

Ada larangan mengenakan cadar dikampus, ada pula yang diskosrsing dan bahkan di DO karena berorasi di lingkungan kampus, mendoktrin dan melarang para mahasiswa  untuk demo, melakukan upaya yang sangat represif ketika mahasiswa berunjuk rasa, dan lain sebagainya. Bahkan berorganisasi dianggap bodoh. Kampus sebagai ruang pengembangan kapasitas intelektual, kini ibarat “industri pencetak mesin”.

Bukankah membatasi orang berpendapat itu melawan hukum ? Setiap orang punya hak dalam menyampaikan pendapat, dimana tertulis dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Selain itu, kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam pasal 19 dan 20 Deklaratio Universal of Human Right PBB.

Mahasiswa zaman now dihadapkan kepada NKK/BKK bentuk baru dengan cara-cara yang lebih halus dan elegan. Gerakan politik moral mahasiswa dialihkan perhatiannya. Aktivitas kemahasiswaan hanya dibatasi kepada aktivitas pemuasan kebutuhan keilmuan dan penelitian semacam seminar, lokakarya, dan semacam itu saja. Hal ini berakibat kepada pengucilan peran politik mahasiswa terhadap negara.

Hari ini NKK/BKK hadir kembali, meskipun tidak dengan format yang sama persis pada era 1980-an. Cara-cara yang lebih halus dipilih agar mahasiswa tidak dapat sama sekali atau telat memahami perkembangandan situasi politik yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara. Cara-cara yang dimaksud ini pun juga banyak ditunjang oleh media-media yang menampilkan promosi, iklan, berita, maupun opini yang diarahkan kepada pengucilan gerakan politik mahasiswa.

Dari hal-hal yang telah dipaparkan diatas, maka bisa kita simpulkan bahawa pergerakan mahasiswa saat ini sedang berada dalam skema penghancuran. Dalam artian, mahasiswa coba dibiarkan menjadi pemuda yang apatis, individualis dan cukup mengejar cita-cita pribadi, memperkaya diri sendiri, tanpa merasa perlu berkontribusi terhadap perbaikan jalannya pemerintahan. Demikianlah depolitisasi yang hari ini sedang terjadi dan akan sampai kapankah terus terjadi?.

Membaca sepak terjang mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari karakter asasi yang dimilikinya. Dari dulu hingga kapan pun, mahasiswa adalah aktor-aktor penting renaisans bangsa.

Di belahan bumi mana pun, mahasiswa selalu tampil sebagai agen pembaharu. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat harus terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya.“…Karena sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan besar selalu diawali oleh kibaran bendera Universitas”, (Petikan Pidato Hariman Siregar, 31 Desember 1973).

Egip Satria Eka Putra
Ketua MPM KM Universitas Andalas, Padang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.