Jumat, Maret 28, 2025

Neurosains Trauma: Ketika Luka Sejarah Tertanam di Otak Kita

Agil Maulana Firmansyah
Agil Maulana Firmansyah
Alumni Fisip Universitas Wiraraja
- Advertisement -

Trauma bukan hanya urusan individu. Suatu bangsa pun bisa terluka akibat peristiwa besar yang mengguncang, seperti penjajahan, genosida, perang saudara, atau krisis ekonomi berkepanjangan. Luka ini tidak hanya meninggalkan jejak dalam sejarah, tetapi juga tertanam dalam pola pikir, perilaku, dan cara suatu masyarakat menatap masa depan.

Neurosains menunjukkan bahwa trauma kolektif bisa memengaruhi cara kerja otak generasi berikutnya, baik secara biologis maupun psikologis. Jika benar demikian, mungkinkah sebuah bangsa benar-benar pulih dari luka sejarahnya?

Ketika sebuah masyarakat mengalami peristiwa traumatis, otak individu-individu di dalamnya beradaptasi untuk bertahan. Amigdala, bagian otak yang berfungsi dalam merespons ketakutan dan stres, menjadi lebih aktif. Hipokampus, yang bertanggung jawab terhadap memori, menyimpan pengalaman buruk itu sebagai peringatan.

Sementara itu, korteks prefrontal, yang mengatur pengambilan keputusan, bisa terpengaruh sehingga membuat orang menjadi lebih waspada, curiga, atau bahkan takut mengambil risiko.

Yang menarik, trauma ini tidak berhenti pada individu yang mengalaminya. Ilmu epigenetika menunjukkan bahwa stres berat bisa meninggalkan jejak biologis yang diwariskan ke generasi berikutnya. Studi tentang keturunan korban Holocaust, misalnya, menemukan bahwa mereka memiliki kadar hormon stres yang berbeda dibanding populasi lainnya. Ini bukan soal mereka mendengar cerita-cerita kelam dari orang tua atau kakek-nenek mereka, tetapi tubuh mereka secara biologis telah “mewarisi” respons terhadap ketakutan dan kecemasan. Fenomena serupa bisa ditemukan pada keturunan masyarakat yang pernah dijajah, mengalami represi politik, atau hidup dalam ketidakstabilan ekonomi berkepanjangan.

Di Indonesia, luka kolektif akibat penjajahan selama ratusan tahun, tragedi politik 1965, hingga krisis ekonomi 1998 bukan sekadar catatan sejarah. Jejaknya masih terasa dalam cara kita mempercayai pemerintah, merespons konflik sosial, hingga membangun hubungan antargolongan.

Trauma kolektif semacam ini bisa menciptakan budaya ketidakpercayaan, di mana masyarakat cenderung skeptis terhadap institusi negara atau bahkan terhadap sesama. Ia juga bisa melahirkan generasi yang lebih berhati-hati dalam berbicara, karena terbiasa melihat perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang berbahaya.

Namun, neurosains juga memberikan harapan. Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas—kemampuan untuk berubah, belajar, dan beradaptasi. Ini berarti bahwa meskipun trauma bisa diwariskan, ia bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Luka kolektif dapat dipulihkan jika masyarakat secara sadar membangun narasi baru tentang masa lalu, bukan dengan menutupinya, tetapi dengan memahami dan mengolahnya secara sehat.

Salah satu cara penyembuhan adalah melalui rekonsiliasi sejarah. Bangsa yang ingin pulih tidak boleh terjebak dalam sikap “melupakan demi masa depan,” karena yang terlupakan sering kali tetap hidup dalam bentuk yang lebih laten. Mengakui masa lalu, mengajarkannya secara jujur di sekolah, dan membangun ruang diskusi yang sehat adalah langkah penting agar trauma tidak terus-menerus diwariskan sebagai ketakutan, melainkan dipahami sebagai pelajaran.

Pendidikan yang objektif tentang sejarah juga berperan besar. Generasi muda yang memahami akar masalah bangsanya secara utuh akan lebih mampu mencari solusi dibanding mereka yang hanya mewarisi ketakutan atau kebencian tanpa pemahaman yang jelas. Banyak negara yang telah melalui konflik besar, seperti Jerman pasca-Nazi atau Rwanda pasca-genosida, menunjukkan bahwa menghadapi masa lalu dengan jujur adalah salah satu kunci untuk membangun masa depan yang lebih sehat.

- Advertisement -

Selain itu, seni, budaya, dan media juga bisa menjadi alat penyembuhan. Narasi yang disampaikan melalui film, sastra, atau musik bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengeksplorasi luka kolektif, bukan untuk memperpanjang dendam, tetapi untuk menemukan cara baru dalam memahami dan menghadapinya. Banyak karya seni besar lahir dari bangsa yang pernah terluka, dan justru menjadi titik awal bagi mereka untuk bangkit.

Tentu saja, proses penyembuhan ini tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab individu. Negara memiliki peran besar dalam menciptakan kebijakan yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan mental dan sosial. Masyarakat yang pernah mengalami ketidakadilan harus diberi ruang untuk memulihkan diri, bukan dipaksa untuk “move on” tanpa penyelesaian.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah sebuah bangsa bisa sembuh dari trauma bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang kesadaran kolektif. Jika kita memahami bagaimana trauma bekerja di tingkat otak dan masyarakat, kita bisa mulai mencari cara yang lebih efektif untuk memutus rantai ketakutan yang diwariskan. Karena pada dasarnya, sebuah bangsa bukan hanya dibentuk oleh sejarahnya, tetapi juga oleh bagaimana ia memilih untuk memahami dan mengolah masa lalunya.

Agil Maulana Firmansyah
Agil Maulana Firmansyah
Alumni Fisip Universitas Wiraraja
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.