Jumat, April 23, 2021

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

Pandemik Covid-19 dalam Perspektif PAUD

Hadirnya pandemik Covid 19 secara nyata memunculkan multiplier efect, semua sisi kehidupan terdampak, seluruh umat manusia secara langsung atau tidak langsung merasakannya. Ketika kebijakan belajar...

Lakukan Hal Ini Agar Sosialisasi Nyata Terjalin Lebih Intens!

Gadget, kata yang sudah sangat tidak asing lagi saat dibaca pada manusia zaman now yang kemungkinan besar menggunakannya. Karena sebagian besar yang kita lakukan...

Hiruk-Pikuk Kurikulum Sekolah Di Indonesia

Alasan perubahan kurikulum yang tidak jelas, tanpa ada evaluasi yang komprehensip terhadap pelaksanaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Komunitas Air Mata Guru melalui Federasi Serikat...

Fahri Hamzah Adalah Kebanggaan Indonesia

Beberapa waktu yang lalu jagat twitter diramaikan dengan twitwar yang melibatkan antara politisi muda berbakat bernama Tsamara Amany dan Wakil Ketua DPR Indonesia bernama...
Alif Rahman
Seorang pengajar bahasa Inggris yang suka menulis dan berkarya.

What? Chaos macam apa lagi ini?

Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar jenis premium. Hingga akhir-akhir ini kabar itu semakin jelas, dan semakin marak di media massa perbincangannya. Jadi ini beneran?

Tentu pikiran saya tertuju pada efek langsung yang akan ditimbulkan dari hilangnya premium. Sudah jelas barang-barang akan naik dan inflasi. Pasalnya, biaya transportasi harus menambah cost saat mengganti premium yang harganya paling terjangkau, dengan pertalite yang harganya lebih tinggi, atau bahkan pertamax yang biasanya hanya digunakan oleh transportasi mevvah.

Karena memang di kampung saya mata pencarian sebagian besar masyarakat adalah tani sawit, termasuk orang tua saya, maka saya langsung teringat soal nasib para petani sawit serta buruh tani-nya.

Saya juga langsung ingat Mas Siswo, seorang buruh tani yang bekerja di kebun sawit orang tua saya di kampung. Lha emangnya apa hubungannya dengan mas Siswo yang jauh di kampung?

Jadi gini. Mas Siswo dan teman-temannya ini yang biasa memanen sawit orangtua saya tiap dua pekan sekali. Proses memanen itu bukan hanya menjatuhkan buah yang bisa beratnya 20 Kg itu dari pohon, tapi juga melangsir, atau membawa buah yang dipanen dari tiap pohon yang luasnya bisa 4 hektar kira-kira, menuju ke tempat penimbangan.

Jarak dari kebun sawit ke tempat penimbangan memang tidak terlalu jauh. Tapi dengan jalan yang cukup tricky dan tidak mungkin dibawa jalan kaki, tentu saja harus ada kendaraan bermesin untuk membawanya. Dalam hal ini, biasanya buruh tani menggunakan sepeda motor.

Karena ini adalah kerja kasar dan melewati medan becek serta berlubang-lubang, maka sayang sekali kalau sepeda motor yang digunakan untuk melangsir buah sawit adalah sepeda motor yang cukup bagus. Maka dari itu, ada sepeda motor khusus (biasanya tipe bekas yang sudah usang), yang dimodifikasi untuk keperluan mengangkut buah sawit tersebut.

Nah, untuk penghematan cost, bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan sepeda motor modifikasi tersebut adalah bahan bakar jenis premium yang notabene-nya paling terjangkau dibandingkan jenis lain. “Cuma motor langsir kok harus pake pertalite atau pertamax.” Begitu kata Mas Siswo saat kami mengobrol soal rencana pemerintah menghapus BBM jenis premium.

Oh iya, satu lagi, selain melangsir buah sawit, buruh tani biasanya juga menjaga kebersihan kebun sawit tersebut dan merawat dari rumput-rumput yang meninggi. Jadi, buruh tani sawit juga diberi tanggung jawab untuk menebas rumput di kebun sawit secara rutin. Karena biasanya sekapling kebun sawit saja luasnya bisa dua hektar, dan biasanya satu petani itu memiliki beberapa kapling kebun, tidak mungkin menggunakan tangan manual untuk menebas rumput-rumput tersebut.

Setidaknya penebasan rumput tersebut perlu menggunakan mesin rumput. Dan dalam logika akal sehat, semua yang bernama mesin apalagi yang otomatis, tentu perlu menggunakan energi, yang tidak lain adalah bahan bakar. Karena memang belum ada mesin rumput yang digerakkan oleh tenaga listrik atau tenaga solar, maka mesin rumput yang digunakan petani sawit di kampung kami jelas menggunakan bahan bakar minyak, yang tentu biasanya premium.

Kalau premium diganti pertamax, apakah tidak terlalu mevvah untuk sebuah mesin rumput?

Mari selanjutnya kita bicara hitung-hitungan cost. Karena memang petani sawit biasanya sangat rentan dengan seratus-dua ratus rupiah perubahan harga, maka kenaikan ongkos jalan ini akan berpengaruh signifikan. Kalau dikalikan, perubahan harga seratus rupiah saja bisa menjadi berjuta-juta pada hasil akhirnya.

Dimulai dengan ongkos langsir. Karena premium dihapus, pelangsir menggunakan pertalite. Di kampung, harga premium biasanya Rp. 8.000, sementara pertalite berkisar di harga Rp. 10.000. selisih Rp. 2.000. jika dalam satu kapling sawit, hasil panen mencapai dua ton, butuh sekitar dua liter untuk 3 sepeda motor yang membawa hasil panen tersebut.

Selisih Rp. 2.000 dikali 2 liter dikali 3 motor, kenaikan ongkos dalam satu kapling sawit bisa Rp. 12.000. Selanjutnya, yang agak besar adalah biaya perawatan pemotongan rumput per bulan. Dengan mesin rumput, biasanya menggunakan sekitar 4-5 liter per hektar, dua hektar bisa 10 liter. Rp. 2000 x 10 liter bisa Rp. 20.000 per kaplingnya. Kalau satu petani bisa memiliki sawit empat sampai 5 kapling, maka biaya yang dikeluarkan bisa bertambah ratusan ribu, bukan? Dan tentu saja keperluan kenaikan itu dibebankan untuk sang pemilik ladang.

Eh, tunggu dulu, itu baru soal kebunnya saja. Bagaimana dengan proses pengiriman ke pabrik? Nah, biasanya ongkos minyak mobil truk sawit untuk ke pabrik tentu ditanggung oleh toke sawit (semacam tengkulak). Namun, kalau masalahnya sudah harga BBM naik, maka biasanya ada seperti “uang jalan” yang biasa dibebankan ke petani juga, yang kemungkinan juga ikut naik, meski tak seberapa. Namun kalau dikali setiap panen, maka tiap bulan uang jalan itu bisa cukup membebani petani.

Belum lagi pajak perbaikan jalan yang berlubang karena pengangkutan sawit baik jalan kea rah kebun sawit atau jalan umum di desa tersebut.

Kalau memang harga sawit normal dan stabil, tidak akan ada masalah yang serius di kalangan petani. Saya bisa jamin tidak akan ada demo berjilid-jilid seperti demo pada omnibus law. Namun, kalau harga sawit anjlok, yang mana tiap tahun ada masa-masa anjloknya, keadaan bisa lain lagi. Apalagi ketika keadaan sawit sedang trek  atau hasil panennya turun jauh dari biasanya, sementara cost operasional yang saya sebutkan tadi tentu tidak akan bisa dinego lagi, ya kita hanya bisa merasa kasihan pada petani sawit.

Alif Rahman
Seorang pengajar bahasa Inggris yang suka menulis dan berkarya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.