Selasa, Maret 5, 2024

Muhammadiyah vs BRIN, Menyoal Kontribusi BRIN untuk Bangsa

Hendy Setiawan
Hendy Setiawan
Mahasiswa Departemen Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Perbedaan ada karena kita ada. Perbedaan adalah satu bentuk kenikmatan yang wajib kita syukuri tanpa mengeliminasi kultur identitas masing-masing sebagai identitas jadi diri yang melekat.

Beberapa hari belakangan ini Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mendadak menjadi sebuah biduan yang ramai diperbincangkan di media social. Munculnya BRIN sebagai biduan seksi tidak lepas dari kritik Begawan Pakar Astronomi BRIN yakni Prof Thomas Jamaludin yang menyebut bahwa metode wujudul hilal yang digunakan dan dipedomani Muhammadiyah merupakan konsep yang sudah usang (uzur).

Kritik pakar astronomi itu kemudian ramai diperbincangkan bahkan bila dilihat dari komentar-komentar netizen berpendapat bahwa sebetulnya perbedaan ini sudah menjadi biasa dan tidak perlu diperdebatkan kembali. Pernyataan ini tentu amat disayangkan karena selain tendensius juga membuka ruang baik dalam ruang maya maupun di masyarakat efek kegaduhan yang tidak kondusif.

Dalam sebuah blog pribadinya yang terbit tahun 2012 silam pakar astronomi ini mengungkap beberapa alasan mengapa metode yang digunakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah ini telah uzur. Namun demikian bagaimanapun perbedaan yang ada kemudian tidak boleh menjadi penghalang untuk menyatukan umat. Bahkan pernyataan yang menyebut Muhammadiyah lebih mementingkan ego organisasi nampaknya ada kesalahan alamat dalam berpikir seorang pakar astronomi BRIN tersebut. Lebih-lebih menetendensikan persoalan ukhuwah Islamiah.

Ego Muhamamdiyah atau ego BRIN?

Nampaknya lembaga BRIN belum bangun dari tidurnya bahwa organisasi Muhammadiyah telah berkiprah panjang dalam membangun peradaban bangsa ini. Sementara BRIN yang baru saja lahir tanpa merefleksikan dirinya sudah keluar dari kapasitasnya dan berbicara tentang agama. Inilah yang semestinya menjadi kontras sebelum melakukan kritik maka harus dipertimbangkan dulu apa yang sudah kalian perbuat untuk kemajuan bangsa?

Seorang pakar astronomi berbicara tentang agama dalam konteks ukhuwah Islamiyah jelas di luar kapasitasnya. Oleh karena itu, Muhammadiyah sebagai organisasi termapan dan cukup maju tidak perlu gentar menghadapi kritik astronom dari BRIN yang tidak produktif bagi kemajuan organisasi.

Kritik pakar astronomi BRIN kepada Muhammadiyah seolah-olah telah meragukan kapasitas Muhammadiyah sebagai organisasi. Publik barangkali tahu bagaimana kepengelolaan organisasi Muhammadiyah sangat elegan yang selalu menghadirkan perubahan dan kemajuan tidak hanya bagi organisasinya, namun untuk bangsa dan negara.

Oleh karena itu apabila disebut ego organisasi, maka pertanyaanya yang muncul adalah BRIN tau apa tentang ego organisasi? Bagaimana seorang ahli saintek berbicara tanpa pemetaan yang jelas tentang sosial humaniora keumatan? Dua pertanyaan ini menjadi pekerjaan bagi BRIN agar tidak mudah membuat kegaduhan di tengah harmonisasi kehidupan umat yang sudah terbangun toleransi yang sangat baik.

Yang harus dipahami ialah persatuan bisa terbangun tanpa mengasimilasi karakter identitas masing-masing. Seolah-olah yang disampaikan pakar astronomis ini menyatukan itu harus berangkat dari suatu persamaan sehingga yang timbul ialah pernyataan provokatif umat.

Sejak dari dulu perbedaan dalam menentukan 1 Syawal, 1 Ramadan, dan 1 Dzulhijah sudah menjadi hal yang lumrah dan tidak perlu diperdebatkaan kembali. Apabila yang dipersoalkan ialah mengapa otoritas penentuan waktu-wantu terebut ada di ormas Islam, bukan di tangan negara? Maka jawabaan yang paling menohok yang harus dijawab oleh paakar astronomis ini ialah sejauh mana saudara tahu tentang otoritas negara? Indonesia tetaplah Indonesia sehinggga tidak bias dikomparasikan dengan negara-negara lain yang otoritasnya bersifat ada di pemerintah negara.

Toleransi umat yang utama

Sadar atau tidak dalam konteks manusia beragama harus tetap menjunjung tnggi nilai-nilai toleransi. Hal itu didasarkan pada semangat satu tujuan bahwa toleransi akan memperkuat dan membangun keharmonisan umat.

Oleh karena itu perbedaan ialah satu keniscayaan yang tidak bias dipaksakan oleh siapa pun. Apalagi bicara tentang bagaimana setiap ormas memiliki otoritas dan memandu para kadernya sesuai dengan aturan kaidah agama yang dipedomaninya. Perbedaan penentuan waktu baik menggunakan Rukyat maupun hisab adalah sesuatu yang seharsnya bisa dimengerti mengapa mereka menggunakan itu semua. Oleh karenanya pernyataan Prof Thomas ini sangat disayangkan dan justru menunjukkan ketidak-mengertian dalam melihat perbedaan ini dari perspektif ilmu sosial.

Sebagai seorang yang membawa nama lembaga BRIN tentu harus berhati-hati dalam melontarkan pernyataanya. Lebih-lebih di era demokratisasi yang sangat luar biasa ini sehingga public memiliki tingkat literasi yang cukup mapan sehingga banyak yang menyayangkan pernyataan BRIN tersebut. Justru pernyataan tersebut akan berdampak kepada trust dari masyarakat terhadap kinerja BRIN itu sendiri.

Apabila suatu lembaga sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakat maka pertanyaannya ialah akan mengabdi kepada siapa BRIN nantinya? BRIN harus massif membuktikan kinerja sesuai dengan kapasitasnya demi kemajuan bangsa dan perubahan yang lebih baik.

Evaluasi diri bagi BRIN menjadi penting sebelum nantinya dievaluasi oleh masyarakat melalui konstruksi kepercayaan yang ada di masyarakat. Hal ini didasari pada satu kegeelisahan yang sama di masyarakat yang alih-alih menyebut bahwa mengapa BRIN justru cenderung prvokatif dan memecah belah umat di tengah harmonisasi yang tengah terbangun?

Hendy Setiawan
Hendy Setiawan
Mahasiswa Departemen Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.