Sabtu, Juni 22, 2024

Minim Empati, Korban Pelecehan Seksual pada Laki-Laki

Indra Dwi Putra
Indra Dwi Putra
Hanya penulis amatir, dan mahasiswa biasa.

Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa pun, termasuk laki-laki. Pelecehan atau bahkan kekerasan seksual terhadap laki-laki seringkali diremehkan dan diabaikan oleh masyarakat. Akan tetapi, sangat penting untuk diingat bahwa pelecehan seksual terhadap laki-laki merupakan masalah yang eksis dan benar-benar ada di sekitar kita.

Jumlah kasus sebenarnya mungkin lebih tinggi dari yang dilaporkan karena banyak korban laki-laki yang enggan melaporkan kejadian yang dialaminya karena berbagai alasan, seperti malu, takut diremehkan, takut tidak dipercaya, takut ditertawakan, dan adanya stigma yang dibangun oleh masyarakat bahwa laki-laki tidak boleh lemah.

Sayangnya, laki-laki yang dianggap memiliki kekuatan, ketangguhan, dan karakter yang kuat membuat mereka tidak dipercaya sebagai manusia yang bisa juga menjadi korban. Terkadang masyarakat masih beranggapan bahwa pelecehan seksual terhadap laki-laki sebagai masalah yang tidak begitu penting bahkan malah dijadikan sebagai bahan candaan sehingga menyebabkan korban merasa tidak terlindungi dan diabaikan.

Contoh kasus lama seorang public figure pada 2017, Saipul Jamil, yang ditetapkan sebagai pelaku pelecehan seksual, dan melakukan tindakan pencabulan terhadap seorang remaja laki-laki. Kasus ini sempat mendapat perhatian media yang luas di Indonesia dan viral pada waktu itu. Namun, sangat disayangkan bahwa masyarakat kita saat itu terbagi menjadi dua kubu, ada yang membela korban, dan ada yang tidak berempati kepada korban.

Beberapa komentar yang ‘tidak berempati kepada korban’ yang ditemukan di TikTok terkait kasus pelecehan seksual, “Paling juga mau sama mau”, “Ah… korbannya pura-pura trauma, padahal suka”, “Padahal korbannya juga sejenis”, “Suka sama suka ini mah”, “Bayarnya kurang nih”, “Masa iya ga mampu lari atau kemana begitu atau teriak”, dan masih banyak lagi. Ditambah si pelaku malah bebas berkeliaran di TV, yang di mana ini bisa membuat korban menjadi lebih trauma, karena terus melihat sosok pelaku yang mencabulinya.

Kasus lainnya yang dilansir oleh Detik.com pada Senin, 26 April 2021, tentang seorang remaja laki-laki yang menjadi korban pemerkosaan penyanyi dangdut di Probolinggo. Korban mengatakan dirinya diperkosa setelah dicekok paksa minuman keras hingga mabuk. Penyanyi tersebut adalah seorang janda berusia 28 tahun berinisial DP yang berdomisili di Kota Probolinggo.

Berikut beberapa komentar yang ditemukan pada kolom komentar di Detik.com, “Seorang remaja laki laki di perkosa oleh biduan auto ena ena lah anti lapor²”, “Diperkosa balik aja, biar impas”, “Gak usah repot-repot pak polisi….. ini kasus yang samat sangat gak bermutu laporannya dan gak masuk akal”, “Enak kenapa lapor”, “masih 16 taun aja udah lemah”, dan masih banyak lagi.

Pada dua kasus di atas, keduanya sama-sama memiliki beberapa komentar yang mencerminkan bahwa sebagian masyarakat kita masih minim empati terhadap korban pelecehan yang dialami laki-laki. Padahal, siapapun korbannya efek dari pelecehan seksual tetaplah sama. Laki-laki bisa juga terkena serangan psikis seperti trauma, rasa malu, hilangnya rasa kepercayaan diri, dan kecemasan.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tidak meremehkan kasus pelecehan seksual pada laki-laki, dan menjadikan korban sebagai bahan candaan. Semua korban berhak mendapatkan empati, perlindungan, dan keadilan.

Indra Dwi Putra
Indra Dwi Putra
Hanya penulis amatir, dan mahasiswa biasa.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.