Minggu, Juli 21, 2024

Metafisika Mulla Sadra

Zerlina Ftrn
Zerlina Ftrn
Nama: ZERLINA AFIDES FITRIAN TTL: wonosobo 11 desember 2002 mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Anak pertama dari 3 bersaudara

Metafisika adalah salah satu topik penting dalam filsafat Islam. Para filsuf Islam awal telah membahas masalah metafisika dalam filsafat mereka dengan perdebatan dan konflik. Setelah beberapa abad, Mulla Sadra muncul, dianggap berhasil oleh beberapa filsuf, dalam mengatasi masalah metafisika dalam filsafat Islam dengan menggabungkan pemikiran metafisika yang berkembang dalam filsafat Islam sebelumnya.

Teori Mulla Sadra didasarkan pada beberapa mazhab penting dalam filsafat Islam. Ini termasuk mazhab Peripatetik dan Neoplatonis, yang dia pelajari dari Al-Farabi dan Ibn Sina, mazhab iluminasi Suhrawardi, mazhab tasawuf Ibn Arabi, dan tradisi kalam yang berkembang secara filosofis dari Nashiruddin Al-Thusi.

Dalam upaya Mulla Sadra untuk menggabungkan pemikiran metafisika, dia tidak hanya menggabungkannya secara dangkal; dia malah membuat sintesis baru dari pemikiran metafisika dengan dasar filosofis yang kokoh. Bagaimanapun, sintesis ini menghasilkan filsafat Islam, khususnya Hikmah Al-Muta’aliyah atau disebut fisafat Al-Hikmah.

Pembicaraan tentang wujud (eksistensi) adalah dasar pemikiran metafisik Mulla Sadra. Sebelum ini, para filsuf Islam telah berdebat tentang perbedaan antara mahiyah (esensi) dan wujud. Problem tersebut adalah menentukan prinsip-prinsip dasar realitas. Sangat penting untuk membedakan keduanya: pertanyaan tentang wujud mengacu pada keber-ada-an sesuatu, sedangkan mahiyah mengacu pada ke-apa-an sesuatu. Sebelum ini, Suhrawardi menganggap mahiyah sebagai prinsip dasar dari realitas, sedangkan wujud hanya dianggap sebagai aksiden dari mahiyah.

Mulla Sadra mengkritik Suhrawardi karena berpendapat bahwa wujud adalah yang menjadi prinsip dasar dari realitas, bukan mahiyah. Kritik ini didasarkan pada kesalahan filosofis Suhrawardi dalam membaca karya Ibn Sina. Selain itu, kritik Mulla Sadra menghasilkan pemikiran tentang realitas wujud (ashalah al-wujud) karena argumennya yang logis.

Dalam metafisika, perdebatan antara wujud (eksistensi) dan mahiyah (esensi) telah menjadi fokus utama para filsuf Islam sepanjang sejarah. Wujud merujuk pada keberadaan aktual suatu entitas, sementara mahiyah mengacu pada hakikat atau apa-ness dari entitas tersebut. Sebelum Mulla Sadra, Suhrawardi menganggap mahiyah sebagai prinsip dasar dari realitas, dengan menganggap wujud sebagai sekadar aksiden atau atribut tambahan dari mahiyah.

Namun, pendekatan ini dipertanyakan oleh Mulla Sadra, yang menegaskan bahwa prinsip dasar dari realitas sebenarnya adalah wujud itu sendiri, bukan mahiyah. Kritik Mulla Sadra terhadap Suhrawardi terkait interpretasi terhadap Ibn Sina membawa implikasi filosofis penting; menurutnya, Suhrawardi salah dalam menganggap wujud hanya sebagai abstraksi mental semata, tanpa eksistensi aktual dalam realitas objektif.

Mulla Sadra mengembangkan argumen logis yang mendalam untuk mendukung pandangannya bahwa wujud (ashalah al-wujud) adalah prinsip dasar dari segala sesuatu yang ada. Pandangannya ini tidak hanya berakar pada kritik terhadap Suhrawardi, tetapi juga berusaha memperluas pemahaman tentang realitas dalam konteks metafisika Islam.

Baginya, wujud bukan hanya sekadar atribut yang diberikan kepada mahiyah, tetapi eksistensi aktual yang menentukan identitas dan keberadaan suatu entitas. Pemikiran Mulla Sadra tentang realitas wujud ini menjadi salah satu kontribusi terpenting dalam sejarah pemikiran metafisika Islam, yang menginspirasi pemikiran dan perdebatan filosofis dalam berbagai konteks intelektual.

Realitas Wujud

Mulla Sadra menyatakan bahwa, karena tujuan definisi adalah untuk memperjelas sesuatu yang didefinisikan, sedangkan wujud merupakan konsep yang paling jelas, wujud merupakan prinsip mendasar yang meliputi segala sesuatu di dunia luar, sehingga wujud tidak dapat didefinisikan.

Menurut logika Aristoteles, untuk mendefinisikan sesuatu kita memerlukan genus dan deferentia. Padahal wujud merupakan sesuatu yang paling umum dalam kemencakupannya. Wujud  secara fenomenal dapat diketahui oleh siapapun tanpa terkecuali. Wujud mendahului mahiyah, karena mahiyah tidak dapat dikenali tanpa ada hubungannya dengan wujud. Misalnya, bayi yang baru lahir dapat mengetahui keberadaan sesuatu secara intuitif tanpa mengenali terlebih dahulu sesuatu tersebut. Oleh karena itu, agar mahiyah dapat diketahui dalam konsepsi pikiran, wujud  harus melekat pada mahiyah.

Ambiguitas Wujud

Wujud adalah konsep ketunggalan dalam pluralitas dan pluralitas dalam ketunggalan, selain menjadi prinsip dasar dari realitas. Konsep Mulla Sadra disebut sebagai “ambiguitas wujud”. Dengan wujud absolut sebagai tingkat tertinggi dan wujud material sebagai tingkat paling rendah, wujud merupakan realitas yang membentang yang memiliki tingkatan yang berbeda secara hierarkis. Realitas wujud yang lebih tinggi digantungkan pada wujud yang lebih rendah tingkatannya.

Segala sesuatu memiliki kualitas wujud yang berbeda, tetapi semuanya tergabung dalam satu wujud. Dalam menjelaskan ambiguitas wujud (tasykik al-wujud), Mulla Sadra menggunakan pendekatan Iluminasi Suhrawardi. Ia membutuhkan cahaya yang lebih terang daripada lampu atau lilin. Cahaya tersebut memiliki intensitas yang berbeda, mulai dari yang paling terang hingga yang paling temaram dan remang-remang. Segala sesuatu tergabung dalam satu wujud, memiliki kualitas wujud yang berbeda-beda.

Gerak Trans-Substansial

Setiap gerakan wujud yang memiliki tingkatan yang berbeda itu bergerak secara substansial secara terus menerus menuju kesempurnaan. Pemikiran ini disebut Mulla Sadra sebagai Gerak Trans-Substansial (al-harakah al-jauhariyah).

Menurutnya seluruh wujud dalam realitas secara terus menerus mengalami perubahan berkelanjutan yang meningkat menuju sumber wujud, yaitu Wujud Absolut (Eksistensi). Baik substansi maupun empat jenis aksidensinya mengalami gerakan trans-substansial ini. Dan substansi harus berubah untuk mengikuti perubahan aksiden. Selain aksiden, substansi juga berubah. Perubahan ini terjadi berulang kali. Seperti halnya aliran sungai yang terus mengalir, tidak mungkin untuk menginjak sungai yang sama dalam dua kali.

Dengan demikian, seluruh realitas dalam wujud tidak benar-benar dalam keadaan tetap, tetapi terus menerus bergerak dalam proses menjadi (becoming). Sehingga segala sesuatu di dalam realitas yang tercakup oleh wujud (eksistensi) selalu berkesinambungan dengan Wujud Absolut (Eksistensi).

Zerlina Ftrn
Zerlina Ftrn
Nama: ZERLINA AFIDES FITRIAN TTL: wonosobo 11 desember 2002 mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Anak pertama dari 3 bersaudara
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.