Senin, Juni 17, 2024

Mereka Kembali, Perjalanan Long March Divisi Siliwangi

Malik Ibnu Zaman
Malik Ibnu Zaman
Penulis Lepas

Film Mereka Kembali merupakan film yang rilis pada tahun 1972. Film berdurasi 129 menit ini disutradarai oleh Nawi Ismail dan dibintangi oleh sejumlah aktor diantaranya A. Hamid Arief, Aedy Moward, Arman Effendy, Budi Schwarzkrone, dan lain sebagainya.

Film ini menceritakan tentang Long March (kembalinya) Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat sesuai dengan instruksi Panglima Besar Jenderal Sudirman, apabila Belanda menyerang Yogyakarta. Pada tanggal 19 Desember Belanda menyerang Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia waktu itu, dan Belanda menyatakan tidak terikat lagi dengan Perjanjian Renville. Operasi Penyerangan dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II, sementara Belanda menamakan Operasi Gagak.

Latar belakang mengapa Divisi Siliwangi berada di Yogyakarta adalah akibat dari Perjanjian Renville, di mana isi perjanjian tersebut menyatakan bahwa TNI harus ditarik mundur dari wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Belanda. Perjanjian Renville tersebut merupakan penyelesaian damai dari Agresi Militer Belanda I, dinamakan Perjanjian Renville sebab dilaksanakan di atas Kapal Renville. perjanjian tersebut dilaksanakan pada 18 Januari 1948.

Cerita diawali dengan sekelompok Divisi Siliwangi sedang mandi di sungai di Yogyakarta, sambil bercanda. Ketika mereka mandi, mereka melihat pesawat tempur, dan mereka menyadari bahwa itu adalah pesawat Belanda.

Adegan berikutnya menampakan bagaimana perjuangan pasukan TNI AU dalam mempertahankan Lapangan Terbang Maguwo, yang sekarang bernama Lapangan Udara Adi Sucipto. Berikutnya telegram RRI yang berisi perintah kilat kepada dari Jenderal Soedirman kepada masing-masing Panglima Divisi. Letkol Daan Jah, Panglima Divisi Siliwangi waktu itu melanjutkan perintah tersebut kepada Kompi, bahwa sebelum malam harus meninggalkan Yogyakarta. Jika ditinjau dari buku-buku sejarah, maka runtutan peristiwa dalam film tersebut sesuai.

Ketika hijrah ke Yogyakarta, tidak sedikit dari Divisi Siliwangi membawa keluarga mereka. Maka ketika long march keluarga mereka juga turut serta. Akan tetapi bedanya, tatkala hijrah diangkut menggunakan kereta, sementara long march jalan kaki melewati hutan, gunung, sungai lembah. Mereka harus menghindari sergapan Tentara Belanda. Jika kita membaca buku atau artikel berkaitan dengan hal itu, terdapat cerita banyak-banyak anak-anak yang hanyut terbawa derasnya arus. Dalam film rombongan yang begitu banyak jumlahnya diserang oleh pesawat Mustang dan artileri.

Cerita dalam film ini berfokus pada Divisi Siliwangi, pimpinan Mayor Parman dan Letnan Priyatna. Ketika sebagian pasukan sudah melewati jembatan, termasuk Mayor Parman, sebagian lagi masih tertahan diantaranya Letnan Priyatna, sementara itu lewat Tentara Belanda, kendaraannya mogok tepat di atas jembatan, tepat di bawah jembatan Letnan Anwar dan beberapa prajurit Divisi Siliwangi. Dalam keadaan genting tersebut, istri dari salah satu prajurit bernama Udin hendak melahirkan, sedangkan semua anggota PMI sudah menyeberang. Salah satu prajurit menawarkan diri untuk membantu, tangisan bayi tersamarkan berkat suara truk Tentara Belanda yang menyala.

Ketika melewati daerah dengan penjagaan yang ketat, maka direncanakan akan menyerang pos penjagaan, demi keselamatan pengungsi. Mayor Parman memerintahkan kepada Letnan Priyatna untuk membentuk satu detasemen guna menyerang pos tersebut. Setelah satu detasemen terkumpul ternyata ada sepasang suami istri yang memaksa untuk ikut, mereka baru menikah, dan berjanji sehidup semati.

Dalam penyerangan tersebut, beberapa prajurit gugur salah satunya Udin. Terdapat salah seorang prajurit terluka bernama Amin, kondisinya parah, sebab tidak ada persedian obat-obatan, maka ia memilih untuk ditinggalkan, menghadang gerak Tentara Belanda, ia pun gugur.

Dalam film ini dilihatkan bagaimana dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terdapat bangsa kita yang berkhianat, memihak kepada Belanda, salah satunya salah seorang lurah. Namun, juga terdapat pendudukan yang masih setia kepada republik, ia memberitahu bahwa Ujang dan Karma tertangkap. Direncanakanlah penyerangan, lurah tersebut tewas.

Sesampainya di Jawa Barat, lawan mereka bukan hanya Tentara Belanda saja, tetapi juga bangsa sendiri yaitu Darul Islam (DI) atau Tentara Islam Indonesia (TII). Pak Jajang dari Brigade ingin bertemu dengan Letnan Priyatna, bermaksud meminta bantuan 1 regu pengawal untuk berunding dengan DI/TII. Dalam perundingan tersebut terjadi kegagalan, regu yang dipimpin Anwar ditodong dan diberondong.

Pasukan Letnan Priyatna dalam perjalanan menuju induk pasukan dijebak, diundang oleh lurah, diberikan hidangan yang telah diracun, ternyata lurah tersebut pro DI/TII. Sementara itu gerombolan DI/TII telah mengintai. Sebagian pasukan Siliwangi keracunan, para gerombolan menyerang. Gugur dalam pertempuran tersebut, sepasang suami istri yang ikut serta dalam penyergapan pos Belanda.

Sesampainya di induk pasukan, terdapat laporan ada Tentara Belanda, pasukan Letnan Priyatna diperintahkan untuk menghadang. Ternyata itu adalah jebakan dari pasukan DI/TII, markas pun diserang oleh mereka. Menyadari hal itu, pasukan Letnan Priyatna kembali, pecahlah pertempuran. Letnan Anwar gugur dalam pertempuran tersebut, begitu juga dengan Letnan Priyatna.

Jika kita sebelumnya pernah menonton film Bandung Lautan Api, maka ada korelasinya, sebab Letnan Priyatna juga tokoh dalam film tersebut.

Film ini menyajikan bukan hanya adegan peperangan saja, tetapi juga kelucuan, seperti tingkah intel Belanda yang berasal dari bangsa kita sendiri, digambarkan dengan tokoh bodoh. Ada kisah cinta di dalamnya, yaitu antara Letnan Priyatna, tetapi tidak terlalu ditonjolkan. Dalam film tersebut, terdapat wajah Belanda yang bergabung dengan Divisi Siliwangi, akan tetapi tidak dijelaskan siapa. Tetapi jika merujuk pada literatur, terdapat Tentara KL (Tentara Kerajaan Belanda) yang membelot ke TNI Divisi Siliwangi yaitu Poncke Princen.

Film ini hanya di awal saja menyajikan konflik dengan Tentara Belanda, justru puncak konflik ketika kembali ke Jawa Barat di mana mereka harus menghadapi bangsa sendiri yaitu DI/TII. Kisah dalam film tersebut nyata, sebab itulah yang dialami oleh Divisi Siliwangi. Meskipun beberapa tokoh, tidak ada dalam buku sejarah. Agar lebih seru, seharusnya perjalanan hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta juga harus digambarkan dengan detail sih mengenai latar belakangnya, dalam film tersebut hanya narasi singkat saja penjelasan mengenai hal itu.

Hal-hal teknis dalam film, menurut saya nyata mirip film rambo, pesawat mustang terlihat nyata, suara tembakan, artileri medan, mitraliur. Awalnya saya mengira, film-film zaman tersebut tidak memperhatikan aspek terlihat nyata, tetapi setelah melihat film tersebut, saya mencabut kembali pernyataan tersebut.

Terlepas dari film-film zaman orde baru yang memang banyak memproduksi film dengan fokus kepahlawanan TNI. Perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan kan, bukan hanya dilakukan oleh satu golongan saja, ada dari kalangan sipil, santri, dan lain sebagainya. Tetapi kita harus apresiasi, sebab dari film tersebut terdapat nilai pelajaran, generasi sekarang wajib menonton film ini di tengah minimnya film bertemakan perjuangan kemerdekaan di era sekarang.

Malik Ibnu Zaman
Malik Ibnu Zaman
Penulis Lepas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.