Sabtu, April 17, 2021

Menyikapi Kasus Penganiayaan Guru oleh Murid di Sampang

Reaktualisasi pemahaman keberagaman kita

Potret Indonesia dewasa ini memasuki dinamika yang cukup rumit. Banyak sekali permasalahan yang harus dihadapi. Semisal masalah pilkada yang tak henti-hentinya menimbulkan kemelut panas....

Sleman Smart City

Sleman merupakan salah satu kabupaten yang sudah menerapkan smart city. Ciri smart city yaitu pemikiran baru yang terintegrasi, antar lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah,...

Ada Apa dengan Narasi “Emak-Emak”

Wacana ketidakadilan terhadap perempuan sering menjadi bahan pembahasan para pakar keilmuan bidang perlindungan perempuan dan gerakan feminisme. Pasalnya, tindakan diskriminatif terhadap perempuan masih sering...

Mahfud MD, Bapak Panembahan Hukum Indonesia

Pemilihan Umum sudah mulai berlabuh. Babak baru dalam ajang perhelatan lima tahunan ini begitu menguras tenaga dan biaya. Dua pasang calon presiden (capres) dan...
Miftahul Fajar Faturrohman
"Hanyalah Manusia Yang Masih Bernafas"

Dunia pendidikan digemparkan lagi dengan berita tindakan criminal. Seorang guru kesenian di SMA Negeri 1 Torjun, bernama Ahmad Budi Cahyono, meninggal dunia setelah koma di RS Dr. Soetomo Surabaya. Penyebabnya, diduga karena ia dianiaya oleh seorang muridnya sewaktu berada di dalam kelas.

Namun, masih belum terlampau jelas bagaimana kronologi sebenarnya peristiwa penganiayaan ini terjadi. Di beberapa situs berita online, terdapat dua versi kronologi kejadian perkara. Inisial siswa yang diduga melakukan penganiayaan pun juga berbeda.

 Kronologi Peristiwa

1. Siswa tertidur di dalam kelas.

Dilansir dari Berita di Republika, awal mula penyebab penganiayaan ini terjadi yaitu saat HI tertidur di dalam kelas sewaktu KBM (kegiatan belajar mengajar) berlangsung. Lantas, Budi menghampirinya dan mencoret pipi HI. HI yang tidak terima dengan perlakuan itu, kemudian memukulinya. Budi tidak melakukan perlawanan terhadap tindakan HI.

2. Siswa mengganggu teman temannya

Dilansir dari Detiknews dan Tribunnews, kronologi kejadian perkara disebabkan karena MH mengganggu teman temannya. Ketika KBM (kegiatan belajar mengajar) berlangsung, MH tidak focus dalam memperhatikan pembelajaran. Ia mengganggu teman temannya dengan mencoret coret lukisan temannya. Korban sebagai seorang guru pun mengingatkan MH agar tidak mengganggu teman temannya.

Bukannya berhenti, MH malah semakin menjadi jadi ketika diperingatkan. Korban kemudian memberikan hukuman kepada MH dengan mencoret pipi MH menggunakan cat lukis. MH yang tidak terima menerima perlakuan korban, akhirnya memukul korban. Kejadian ini berakhir setelah dilerai oleh siswa dan guru yang lainnya.

Sikap Kita

Melihat masih simpang siurnya kronologi peristiwa ini, sebaiknya kita menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian. Namun, kalau penulis sendiri yang menjadi korban dari film film India yang bergenre thriller, tidak yakin sepenuhnya dengan hasil penyelidikan pihak kepolisian.

Setiap peristiwa tentunya mempunyai penggalan potongan cerita masing masing. Di dalam kejadian penganiayaan seorang guru yang dilakukan siswa ini, potongan cerita yang kita dapat masih belum lengkap dan menimbulkan tanda tanya. Maka, sebaiknya kita dapat menyikapinya dengan bijak.

Pesan saya, ojo gumunan. Jangan kagetan. Karena sebenarnya peristiwa yang serupa marak terjadi sejak dahulu kala. Hanya saja pada zaman dahulu tidak ada media massa. Sehingga, cerita yang sama atau hampir sama, hanya dapat kita temui dari sejarah yang menceritakan mengenai tokoh tokoh besar.

PR Dunia Pendidikan yang Belum Terselesaikan    

Mengutip pengantar terjemahan buku Menggugat Pendidikan: Fundamentalis, Konservative, Liberal Anarkis karangan Paulo Freire dkk terbitan Pustaka Pelajar, yang ditejermahkan oleh Omi Intan Naomi, diceritakan bahwa Kaisar Nero, seorang tiran pada zaman Romawi yang terkenal dengan kekejamannya, pernah menyuruh gurunya sendiri untuk bunuh diri dengan minum racun.

Apakah anda yakin bahwa manusia itu membawa tabiat buruk semenjak ia lahir? Inilah, yang sedikit kurang kita renungi dalam menyikapi kondisi zaman now. Setiap ada penyimpangan social, kita seringkali menjudge anak. Sebutan anak zaman now generasi micin, sudah menjadi bahasa keseharian kita.

Sosialisasi primer seorang manusia berada di dalam keluarganya masing masing. Tentunya anda tahu apa arti primer kan? Sedangkan lingkungan, teman sepermainan, sekolah, maupun media massa (internet, Koran, majalah, buku, dll) hanya agen sosialisasi sekunder bagi manusia. Setiap permasalahan yang terjadi di dalam diri kita, memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sosialisasi yang kita jalani dalam keluarga.

Nilai nilai, norma norma, dan keyakinan yang manusia miliki dibangun dari keluarga. Keluarga lah yang paling dominan dalam membentuk sikap, perilaku, maupun kepribadian manusia. Sebagaimana cerita Kaisar Nero diatas, kegilaannya tidak muncul tiba tiba. Ibunya pun juga seseorang yang haus kekuasaan. Bahkan kemudian, Nero tak segan untuk membunuh ibunya sendiri.

Tugas mendidik bukan hanya kewajiban institusi pendidikan semata. Banyak orang tua yang berfikiran bahwa mendidik hanya tugas sekolah. Kalau sudah di sekolah kan, ya sudah. Kalau ada kesalahan dari diri anak, maka yang disalahkan sekolah. Mereka tak mau menengok dirinya sendiri. Bagaimana pola asuh dalam keluarga yang mereka terapkan, jarang sekali yang berkenan untuk memperbaikinya.

Menyekolahkan anak pun, banyak yang bertujuan hanya untuk ranah kognitif materialis semata. Sudah setengah hari bersekolah, sorenya banyak anak yang dimasukkan ataupun dianjur oleh orang tua dan guru mereka untuk mengikuti bimbingan belajar.

Pintar, nilai bagus, ijazah, merupakan prioritas utama. Pada akhirnya, ijazah yang diperoleh harus “dijual” untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Wajar saja, jika buah ilmu tak tumbuh dari sekolah. Bunga bunga ilmu pun, sedikit sekali yang terlihat bermekaran. Sekolah, hanya memenjarakan anak. Tidak menjadikan anak sebagai seseorang berguna namun hanya untuk menjadikan mereka sukses dan ber-uang semata.

Sekolah, menjadikan orang tua abai terhadap mereka. Keluarga, yang seharusnya menyadari bahwa mereka merupakan institusi tempat anak untuk mempelajari, membiasakan, dan menyadari nilai nilai maupun norma norma, menjadi melimpahkan semua tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.

Mungkin, sekolah perlu dibubarkan. Atau, para orang tua perlu disekolahkan kembali. Agar para orang tua dapat menyadari bahwa mereka merupakan tempat yang paling primer dalam mendidik seorang manusia. Ketika sekolah dibubarkan, tentunya mereka akan berfikir dengan sendirinya bagaimana cara mendidik anak anak mereka. Dan tidak lagi melimpah semua tugas dan tanggung jawab pendidikan kepada institusi sekolah yang orientasinya pun hanya kapitalisasi pendidikan semata.

Kurangilah micin yang kalian makan sendiri dan yang kalian berikan kepada anak anak kalian.

Miftahul Fajar Faturrohman
"Hanyalah Manusia Yang Masih Bernafas"
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.