OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Menjadi (Tidak) Pakar

Moh. Rofqil Bazikh
Moh. Rofqil Bazikh tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga. Menulis di berbagai media cetak dan daring. Sekarang berdomisili di Sleman, Yogyakarta.

“Aku ingin bisa semua hal meski sedikit,” tanpa mengucap selamat pagi, seorang teman menyapa dengan pernyataan menggugah. Setelah dimulai pembuka seperti itu, kami lantas masyuk dalam percakapan yang lumayan panjang. Intinya, teman saya itu ingin menjadi orang yang menurutnya multitalenta dan tentu kontras dengan saya. Dengan kesadaran penuh saya lebih suka jika hanya menjadi pakar di satu bidang. Logika cacat teman saya mengatakan bahwa hari ini tidak dibutuhkan pakar, tetapi orang yang bisa di semua hal.

Saya mengelak dan terus-terusan memberi sanggahan bahwa hal tersebut tidak benar. Paham sedikit terkait banyak bidang tidak menjadikan orang punya identitas. Berbeda dengan paham secara mendalam di satu bidang yang akan mengonstruksi identitas subjeknya. Puncaknya, saya tidak mau memaksakan kehendak, begitupun ia. Saya mengamini bahwa hal semacam ini menjadi persoalan yang menarik untuk dipikirkan bersama. Di lingkungan kampus hal ini sering terjadi, setidaknya pengalaman saya berkata demikian.

Banyaknya mata kuliah yang menjadi pelajaran di kampus kadang membuat beberapa mahasiswa bingung. Kurikulum yang telah diterpakan kita selama ini memang menganjurkan untuk menguasi segala hal. Artinya, teman saya boleh pongah bahwa pernyataannya memang didukung oleh sistem yang berkembang. Kebingunan yang biasanya melanda tidak lain terkait spesifikasi keahlian. Tidak sedikit mahasiswa yang justru merasa tidak punya bidang keahlian sama sekali, satu pun.

Untuk itu urgensitas kepakaran memang sangat diperlukan. Sebagian besar lapangan kerja membutuhkan kepakaran spesifik seseorang. Di saat yang bersamaan, orang yang mencoba tahu segala bidang namun tidak mendalam dengan sendirinya akan tereleminasi. Dalam kacamata kompleksitas, mungkin seorang generalis dipandang sebagai orang yang mampu mengatasi segalanya. Problemnya hanya satu, di semua bidang yang digelutinya itu akan terdepak oleh orang yang memang pakar di satu bidang itu.

Seorang generalis menolak untuk menjadi pakar di suatu bidang. Ia hanya mencoba untuk masuk di lintas bidang dan hal yang barangkali bukan domainnya. Dengan semangat yang menggebu-gebu ini, seorang generalis memang akan mungkin berbicara banyak hal. Beda halnya dengan seorang spesialis yang cukup mempuni di satu domain. Persoalan generalis-spesialis ini sejujurnya terjadi di banyak aspek kehidupan. Kemungkinan terburu hal itu tidak lain, seorang (yang sok) generalis mencoba masuk di wilayah lain tanpa kemampuan.

Sementara, seorang spesialis bukan berarti orang yang menutup mata pada bidang lain. Orang yang diklaim sebagai  pakar sejatinya juga sedikit banyak punya pengetahuan terhadap domain lain. Lalu apa yang membedakan keduanya, yang menjadi titik diferensial antara orang yang spesialis dan seorang generalis? Seorang pakar dan spesialis memang sedikit tahu hal di luar domainnya, tetapi ia menolak untuk berbicara di luar kepakaran itu. Sebaliknya, seorang generalis mencoba untuk membicarakan banyak hal.

Hanya dengan cara demikianlah kegeneralisannya dapat dipertahankan. Kalau ia menolak berbicara banyak hal dan hanya fokus pada satu domain, pada detik itulah ia tidak lagi bisa dianggap seorang generalis. Musabab kegeneralisan seseorang dapat dikukuhkan ketika ia masuk di segala bidang itu. Seorang pakar memang akan menahan berbicara di luar domainnya agar tidak menjadi lelucon. Satu-satunya jalan yang ideal baginya hanya mencoba berbicara satu hal dengan cara mendalam.

Pada akhirnya, menjadi pakar atau general adalah pilihan bebas. Setiap pribadi berhak menentukan hendak menjadi (tidak) pakar. Sebetulnya, masih ada varian terakhir dari seorang generalis yakni seorang yang belajar banyak hal tetapi tutup mulut. Ia menolak berbicara semua bidang yang dipelajarinya karena merasa tidak benar dalam menyerap setiap lika-liku pengetahuan tersebut. Bagi saya varian ini lebih baik daripada orang yang punya ambisi paham dan berbicara banyak hal.

Menjadi seorang generalis yang baik adalah dengan berbicara banyak hal yang sungguh dipahami. Taraf ini memang akan susah dijangkau, itulah mengapa seseornag lebih banyak ingin menjadi pakar dan spesialais di satu bidang saja. Seorang generalis yang baik memang paham betul banyak hal. Di saat yang sama juga harus menolak berbicara tanpa kompetensi. Model inilah mutlitalenta yang sesungguhnya!

Moh. Rofqil Bazikh
Moh. Rofqil Bazikh tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga. Menulis di berbagai media cetak dan daring. Sekarang berdomisili di Sleman, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.