Senin, Mei 17, 2021

Aktivis, Sains, dan Kemajuan Peradaban Manusia

Indonesia Sejahtera: Itukah Tujuan Kita Bernegara?

Pemilihan Umum, yang rangkaiannya masih kita jalani, merupakan perangkat untuk menjaga kelangsungan kehidupan bernegara. Pemilu diwarnai oleh pertarungan gagasan dalam mengelola negara ini. Adu...

Muhammadiyah: Pra dan Pasca Tarjih, Ada Apa?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) baru saja selesai menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-30 pada tanggal 23-26 januari 2018 di Makassar. Munas...

Benarkah Najwa Bergabung Ke PSI Mengikuti Isyana Bagoes Oka?

Setelah dikabarkan berhenti tayang di sebuah stasiun televisi, simpang siur, banyak macam desas-desus, kemana Najwa mengabdikan diri. Ada isu ia akan menjadi Menteri Sosial...

Kasus George Floyd, Bagaimana Sejarah Rasisme Amerika?

Dunia tengah mengalami ketegangan akibat tindakan rasisme yang terjadi baru-baru ini. Kecaman kuat diarahkan kepada empat orang tersangka yang berprofesi sebagai aparat kepolisian Amerika....
MohAlfarizqy
Political sociology student who interested in the nexus of social movements, democracy and education | IG @moh.alfarizqy

Setiap kali para pejuang HAM dan pembela masyarakat yang tertindas melakukan aksi, ada saja orang yang nyir-nyir:

“Ngapain sih berdiri-berdiri ga jelas,”

“Aduh, ngapain repot-repot,”

“BUBAR WOY!”

Ada yang menganggap kehidupan yang lebih baik memang hanya dapat diwujudkan dengan mengorbankan beberapa orang/lingkungan. Untuk mencapai harga barang yang murah, ya dalam nalar mereka, kita harus merusak alam dan mengacaukan pemukiman penduduk.

Jadi, wajar dalam nalar mereka jika kita harus mengorbankan sebagian hutan yang kita lindungi lalu membuang label “paru-paru dunia”. Kita perlu mengganti julukan itu dengan “kanker dunia” karena asap-asap yang masif itu.

Begitu pun dengan mengusik kehidupan penduduk yang damai untuk menata keindahan di Kota Surabaya. Meski tanpa sosialisasi terlebih dahulu. Begitu pun dengan lahan kosong yang harus diberikan kepada para pengembang sehingga kita kehabisan ruang terbuka hijau. Toh, untuk “kemajuan” dalam kehidupan kita.

Dan oleh karena itu, untuk melahirkan kehidupan yang lebih demokratis dan nyaman ya perlu menculik dan membunuh sejumlah orang. Jadi wajar bagi mereka kalau ada yang namanya pelanggaran HAM. Toh, Hak Asasi ada batasnya. ATAS NAMA KEBAIKAN MAYORITAS, perlu ada yang dikorbankan.

Pertanyaan saya cuma satu: bagaimana bisa semua itu dianggap wajar kalau jelas-jelas itu adalah masalah? Mengganggu kehidupan orang lain, apakah bukan masalah? Menculik, apalagi membunuh, apakah bukan masalah?

Semua itu adalah masalah. Apapun ormas dan agamanya, saya yakin, tetaplah dianggap masalah. Tapi kok bisa masalah diterima begitu saja dan dianggap wajar?

Aktivisme itu awal kemajuan

Kalau pergi ke toko dan beli sekotak susu cair disana, coba baca sesekali kemasannya. Disitu ada tulisan Pasteurisasi, kan? Tau sejarahnya?

Istilah Pasteurisasi itu asalnya dari nama Louis Pasteur, seorang saintis asal Perancis. Sebelum dikenal dalam hal itu, Pasteur menemukan adanya keabnormalan pada fermentasi anggur dan bir.

Temuan masalah itu tidak lantas dia simpan sendiri dan dilupakan. Bukan juga sekedar memaafkan mikroorganismenya. Dia menggunakan ilmu untuk memahami lebih mendalam tentang masalah itu lalu mengajukan penyelesaian masalah.

Penyelesaiannya bermanfaat pada susu yang ada dihadapanmu: dengan memanaskannya pada derajat tertentu, Mycobacterium tuberculosis dan makhluk kecil lainnya hancur.

Berkat Pasteur, orang-orang bisa jualan susu. Dan kamu juga bisa mengonsumsi susu dengan aman. Jadi, ada manfaat berantai yang dapat disebut sebagai amal jariyah.

Bisakah kamu bayangkan apa jadinya kalau ada sekelompok manusia yang tiba-tiba datang, menghina, dan melarang penelitian yang dilakukan oleh Pasteur pada masa itu?

Maka mengonsumsi susu akan dimaknai sebagai menganiaya diri sendiri. Alih-alih menjadi sehat, malah terancam kesehatan dan nyawanya.

Dengan temuan masalah dan penyelesaian Pasteur, manusia bisa melampaui masalah pengonsumsian dan mendapatkan kebaikan yang sangat bermanfaatbagi generasi-generasi berikutnya.

Nah, sejatinya para aktivis tidak jauh berbeda dari Pasteur dan rekan-rekan saintis lainnya. Mereka menemukan masalah, tidak lantas mencatat lalu melupakannya. Menolak lupa.

Masalah dikaji oleh orang-orang yang berilmu, tidak hanya sekedar terjun di lapangan. Seringkali mereka adalah bagian dari beragam lembaga non-pemerintahan dengan fokus yang berbeda.

Kalau setiap penemuan dan pendalaman masalah adalah langkah awal dan (paling) penting bagi perkembangan kehidupan manusia, lantas kenapa aksi para aktivis dihalang-halangi?

Harusnya mereka disambut dengan suka cita, kan?

Aktivis adalah kunci untuk kehidupan yang lebih baik. Aktivis lah yang memberi garis start perbaikan dan pembaharuan pada tatanan sosial-politik kita.

Sebaliknya, orang-orang yang menolak aktivis sama halnya dengan orang yang menolak munculnya teknologi, menolak ilmu baru, menolak keberadaan sekolah dan semua inovasi-inovasi manusia. Karena mereka masa bodoh dengan masalah sosial-politik.

Padahal, sejak SMA selalu diajarkan tentang perumusan masalah sebelum melangkah pada tahap-tahap berikutnya. Kuliah pun begitu. Lomba karya tulis ilmiah juga begitu, dan banyak yang juara dalam lomba itu.

Tapi kenapa sedikit yang menerima aktivisme? Saya curiga ilmu yang didapatkannya itu tidak terserap mendalam dan sekedari dijadikan alat untuk mencapai keuntungan pribadi maupun kelompok kecil.

Alam punya IPA, Masyarakat punya IPS

Setiap kali membaca artikel jurnal ilmiah yang berkualitas baik, saya sering menemukan bagian yang menyatakan kelebihan dan kekurangan penelitian. Lalu disusul oleh masalah-masalah baru yang dapat ditelusuri oleh peneliti berikutnya.

Peneliti dan pegiat pada bidang tersebut meresponnya dengan beragam cara. Ada yang memperdalam masalahnya, ada juga yang membuat model-model penyelesaian masalah (misalnya, pendidikan alternatif untuk memulihkan kejiwaan anak pasca-bencana).

Lebih jauh, ada yang melaporkan penerapan model-model itu untuk dievaluasi dan direkomendasikan pelaksanaannya. Begitu pun harusnya praktik lebih lanjut dari aktivisme.

Kalangan akademisi ilmu sosial dan ilmu politik harus bekerja sama dengan para aktivis untuk mendalami dan menyelesaikan masalah. Nah, kalangan akademis juga jangan terpaku sama CSR dan riset akademis saja. Bekerja sama lah.

Keduanya adalah aset penting yang dimiliki oleh masyarakat sipil. Keduanya tidak perlu takut tak bisa hidup enak. Bekerja sama dengan masyarakat sipil lalu membentuk perekonomian komunitas adalah alternatif yang baik untuk memajukan masyarakat tanpa perlu abai pada ekonomi.

Kalau bukan kepada para aktivis dan akademisi, kepada siapa lagi masyarakat bergantung?

Mereka yang bisanya nyir-nyir sana-sini boleh jadi malah menjaga kerusakan. Ironinya, mereka merasa telah berjasa untuk NKRI.

Jika para pemuda masih merasa bahwa nyir-nyir lalu bekerja pada perusahaan besar/menjadi PNS sudah cukup untuk memajukan Indonesia, meh, pikirkan lagi. Kalian bertolak belakang dengan kemajuan.

Justru para aktivis jauh lebih peduli dengan negara. Jauh lebih peduli dengan masyarakat. Jauh lebih nasionalis. Bukan sekedar hafal Pancasila dan pembukaan UUD 1945. Jadi daripada duduk diam atau bermain gim, lebih baik berdiri setiap kamis untuk mengingatkan dan berkata,

“Indonesia tidak sedang baik-baik saja dan kita perlu segera menyelesaikan segudang masalahnya!”

Kalau bisa, ilmu sosial dan ilmu politik itu dipakai untuk memahami masalah secara lebih mendalam dan rinci serta merumuskan penyelesaian masalah. Sistem alternatif? Kenapa tidak!

Menolak lupa, Merawat ingatan.

MohAlfarizqy
Political sociology student who interested in the nexus of social movements, democracy and education | IG @moh.alfarizqy
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.