Selasa, Mei 18, 2021

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Mistifikasi Anggaran Publik dan Demokrasi

Menjadi menarik ketika menelusuri lebih dalam, bagaimana sebuah proses penganggaran yang merupakan hal penting dalam menjalankan roda pemerintahan dalam institusi negara dapat tercipta. Beberapa kalangan...

Daun Palem: Dari Yesus Hingga Emak-Emak Aksi Bawaslu

Puncak dari pemilihan umum yang sudah kita lewati bersama pada tanggal 17 April silam nampaknya masih menyisakan konflik. Narasi bahwa kecurangan masif terjadi dalam...

Jihad Sosial Kaum Millenial

Dari berbagai komponen masyarakat di negeri ini, pemuda memiliki peran penting dalam dinamika sosial. Pemuda―atau kaum milenial dalam sebutan kekiniannya―dikenal memiliki raga dan akal...

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sebagai pengganti istilah lama anak cacat atau penyandang cacat. Sebenarnya istilah Anak Bekebutuhan Khusus adalah untuk menunjuk mereka yang...
Stepanus Sigit Pranoto
Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ)

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian antar agama. Pastor dan teolog Katolik ini terus aktif menyuarakan upaya perdamaian dalam karya-karyanya hingga akhir hidupnya pada 6 April 2021.

Salah satu seruannya yang terkenal dan sering dikutip para aktivis dialog dan perdamaian berbunyi demikian: “Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama”.

Slogan ini pertamakali diungkapkan dalam karyanya Global Responsibility (1991) dan berulangkali muncul dalam karya-karya lainnya. Baginya, perdamaian dunia sangat terkait erat dengan perdamaian antar agama. Perdamaian antar agama menjadi prasyarat terciptanya perdamaian dunia.

Slogan tersebut muncul dalam kaitannya dengan proyek pemikirannya tentang etika publik (Weltethos) yang dikembangkannya. Pemikirannya tentang etika publik ini sendiri berupaya untuk membentuk suatu aliansi di antara umat beriman dan tidak beriman bagi terciptanya suatu etos baru dengan dasar bersama.

Penyalahgunaan agama

Pemikiran Hans Küng tentang upaya pencarian etika publik banyak dipengaruhi oleh situasi masyarakat dunia yang suram akibat terjadinya berbagai konflik kepentingan di berbagai tempat. Aneka konflik ini menimbulkan penderitaan dan kesedihan manusia.

Ironisnya, salah satu konflik yang terjadi justru disebabkan oleh pihak yang mengatasnamakan agama. Dengan kata lain, terdapat konflik antar (pemeluk) agama yang turut memicu perpecahan. Agama yang seharusnya menjadi alat untuk membangun perdamaian, justru menjadi sumber perselisihan. Agama disalahgunakan untuk tujuan-tujuan politis.

Inilah sebuah realita, di mana agama disalahgunakan (religious abuse). Para pemimpin dan agamawan seakan belum bosan dengan fanatisme buta. Dengan mengatasnamakan perintah Yang Suci, para penganut agama rela menghasut sesama yang berbeda agama, dan seringkali menyebabkan tindakan kekerasan. Hakekat agama untuk membawa perdamaian manusia dengan ajaran cinta kasihnya, justru disalahartikan.

Dilatarbelakangi oleh adanya realitas keberagaman dalam masyarakat itu, Hans Küng tidak menampik adanya potensi konflik yang dapat terjadi. Perbedaan menjadi semakin mudah dilihat sebagai bahan dan sumber pemicu ketegangan dan perselisihan. Akibatnya, pendekatan militer dan agresivisme, atau propaganda kecemasan akan yang lain, menjadi pilihan tindakan. Hal ini terjadi karena kaum elite melakukan instrumentalisasi fundamentalisme, sehingga dalam konteks agama terjadi percampuran antara kepentingan politis dan kesaksian religiusitas.

Etika Global

Terkait dengan situasi tersebut, dalam karyanya A Global Ethic (1998) Hans Küng mengusulkan sebuah paradigma baru, yakni sebuah paradigma untuk tidak membuat dan mencari musuh, melainkan menempatkan yang lain sebagai mitra. Kehidupan seharusnya diwarnai oleh kebersamaan, bukan rivalitas.

Paradigma baru ini mengarah pada terciptanya suatu etika global. Menurutnya, keberagaman budaya, ras, kelas sosial dan agama di dunia ini menunjukkan adanya kebutuhan akan pentingnya sebuah etika bagi seluruh umat manusia.Masyarakat dunia saat ini tidak lagi membutuhkan sebuah kesatuan agama dan ideologi, namun membutuhkan adanya norma, nilai, idealisme dan tujuan bersama yang dapat membawa dan mengikat mereka bersama.

Sebuah etika global diperlukan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang teratur. Hukum dan segala macam peraturan yang ada memang sudah mampu menciptakan keteraturan, akan tetapi keteraturan yang tercipta baru dirasakan bagi subyek hukum atau peraturan tersebut. Ketika hukum dan peraturan-peraturan itu berbenturan dengan hukum dan peraturan yang dianut oleh orang lain, seringkali menciptakan ketegangan – dan tak mustahil terjadinya perpecahan.

Etika global ini diwujudkan melalui aliansi dan kerjasama di antara agama-agama. Perlu dicatat di sini bahwa pembentukan aliansi di antara agama-agama ini bukan berarti suatu koalisi orang beriman melawan orang yang tidak beriman, melainkan sebuah cara untuk mencari etika yang sebenarnya sudah ada dalam setiap ajaran agama dunia yang sangat potensial mampu mengkonter kemalangan global.

Dalam usaha mencari etika global, obyek analisis yang harus diteliti adalah apa yang menyatukan semua agama. Kendati mereka berbeda dalam sistem ajaran dan simbol, akan tetapi masih ada sejumlah hal yang dapat menyatukan.

Melalui etika global akan terjalin sebuah konsensus fundamental tentang nilai yang mengikat, standar yang tak bisa diganggu gugat dan sikap personal. Tanpa konsensus etik fundamental semacam itu, cepat atau lambat, setiap komunitas justru akan terancam oleh kekacauan atau penindasan. Dampak akhirnya adalah penderitaan manusia.

Masa depan dialog antaragama

Hans Küng telah meninggalkan landasan pemikiran yang kuat dalam upaya membangun perdamaian di tengah masyarakat. Slogannya yang terkenal itu perlu terus didengungkan dan diupayakan untuk melawan arus fundamentalisme yang menggerogoti kesatuan dan perdamaian.

Bagi masyarakat Indonesia, pemikiran Hans Küng tentulah sangat relevan. Terlebih pemikirannya tentang etika global yang berimplikasi langsung pada upaya-upaya membangun dialog antaragama.

Gagasan Hans Küng mengingatkan kembali bahwa dialog antaragama harus tetap diupayakan untuk mencari nilai-nilai yang dapat menyatukan, dengan tetap saling menghargai kekhasan ajaran yang ada pada masing-masing tradisi.

Refrensi:

Hans Küng, Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (New York: Crossroad, 1991)

Hans Küng, A Global Ethic for Global Politics and Economics (New York: Oxford University Press: 1998) 

Kredit Foto: https://pledgetimes.com/hans-kung-the-councils-rebel-theologian/

Stepanus Sigit Pranoto
Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.