Sabtu, Mei 8, 2021

Mengartikan Nasionalisme: Sebuah Perspektif Poskolonialism

Meneladani Cara Bernegara Rasulullah SAW

Dalam sebuah cuplikan video yang viral di media sosial, Eggi Sudjana mengatakan bahwa hanya agama Islam yang bisa diakomodir oleh Pancasila sila pertama (Ketuhanan...

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Sejarah Wabah?

Umat manusia saat ini sedang menghadapi tantangan besar dari makhluk yang super kecil, virus. Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) sedang merebak luas hampir di...

Radical Grace = Hypergrace (1)

Saat ini kita hidup di suatu era dimana dunia terus berupaya menyajikan  kemudahan,kenyamanan, kepuasan dan ketentraman bagi manusia. Pada saat  yang sama, di dunia...

Sisi Manusiawi Sang Rasul

"Merengut dan membuang muka.” Demikian Al-Quran surah ke-80 (‘Abasa) ayat pertama menggambarkan raut wajah Muhammad Saw ketika seorang tunanetra tiba-tiba muncul di hadapannya, dan...
Zakia Shafira
Political Science student. Interested in geopolitics and defence studies.

Dalam pandangan Benedict Anderson yang tertuang dalam bukunya, Imagined Community, kehadiran gagasan mengenai nasionalisme memberi implikasi berupa benturan-benturan di antara nation.

Di sini, penulis akan menggunakan istilah “nation” alih-alih menggunakan istilah “negara”, guna menghindari miskonsepsi antara nation dan state. Konsep mengenai batasan nation ini, ungkap Eric Hobbsbawm yang dikutip oleh Anderson, tidak hanya dalam bentuk fisik namun juga substansi, yang diwujudkan dengan sifat nasionalis.

Di awal kehadirannya, belum ada definisi pasti dari nasionalisme itu sendiri dan karenanya, banyak gerakan revolusi yang mengatasnamakan dirinya sebagai nasionalisme (hal ini dapat ditinjau lebih lanjut melalui konsep peripheral nationalism yang masih terjadi di era post-Franco di Spanyol (Catalan dan Basque Country), juga di Papua Barat saat ini). Anderson menyebut nation sebagai sebuah imagined community.

Dalam Nations and States karya Cf. Seton-Watson yang dikutip oleh Anderson, istilah imagined disematkan karena anggota-anggota dari nation terkecil sekalipun tidak akan mengenali, menemui, atau mendengar tentang sebagian besar lainnya yang juga sesama anggota nation, namun tetap saja mereka merasa dipersatukan dalam sebuah communion.[1] Oleh sebab itu, nasionalisme sebetulnya menciptakan nation yang awalnya non existing, bukannya nation yang menumbuhkan rasa nasionalisme.

Tumbuhnya nasionalisme salah satunya ditandai oleh berkembangnya bahasa rakyat (vernaculars), seperti Prancis, Jerman, dan Inggris modern. Di Eropa, sebelum adanya bahasa rakyat, bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa resmi atau languages-of power dalam imagined community berupa Christendom, seperti bahasa Latin, yang hanya dimengerti oleh kalangan tertentu.

Adanya bahasa rakyat ini lambat laun mengubah bentuk masyarakat yang sebelumnya berupa Christendom menjadi imagined national community. Berkembangnya bahasa rakyat diawali dengan merebaknya teknologi percetakan, sehingga print-as-commodity menggantikan manuskrip dalam komunikasi dan penyebaran ide. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran kapitalisme.

Baru di era modern ini lah, adanya nasionalisme cenderung menuntut pembentukan sebuah state-nya sendiri yang berisikan nationality atau kebangsaan tertentu. Padahal, menurut Hans Kohn dalam bukunya, Nationalism, its Meaning and History, nationality tersusun atas kompleksitas dan melanggar definisi tertentu yang biasanya bersifat kaku.

Suatu nationality memiliki faktor-faktor yang membedakan dirinya dengan nationality lain: keturunan, bahasa, wilayah, entitas politik, tradisi, atau agama. Nyatanya, banyak bangsa yang tidak memiliki salah satu komponen untuk membentuk sebuah nationality, seperti orang-orang Amerika Serikat yang tidak memiliki garis keturunan yang sama, atau orang-orang Swiss yang berbicara tiga sampai empat bahasa namun tetap bersatu dalam satu kebangsaan.

Pada intinya, secara singkat, sebetulnya nasionalisme ada ketika bangsa yang satu memiliki kesadaran akan perbedaan dari bangsa lainnya. Dalam konteks poskolonialisme, imperialisme Barat dengan nasionalisme negara dunia ketiga saling “menguntungkan” satu sama lain.

Edward Said dalam Culture and Imperialism menyatakan bahwa ide mengenai batasan-batasan ini, yang kemudian mengakar pada gagasannya tentang Orientalisme, merupakan pembagian yang mirip dengan pandangan Yunani Kuno terhadap orang-orang barbar, namun diubah menjadi penggunaan narasi-narasi identitas.

Hingga abad ke-19, hal tersebut menjadi karakter budaya imperialisme yang dilabeli kepada budaya-budaya yang dianggap mengancam kebudayaan Eropa. Bagi penulis, apabila merujuk kembali pada dua sumber yang terlebih dahulu digunakan, “nasionalisme” tidak selalu mengharuskan adanya border fisik.

Susunan pola pikir manusia tidak seharusnya ditentukan oleh batas-batas national.  Perbedaan antara satu dengan yang lainnya yang dilegitimasi menjadi sebuah institusi berupa state atau negara sering dijadikan alasan atau justifikasi untuk menggunakan kekuatan/otoritasnya dalam melawan warga negaranya sendiri atau negara lain.

[1] Communion: intimate fellowship or rapport (Merriam-Webster). Dalam konteks ini, communion berarti sebuah komunitas yang berbagi atau bertukar pikiran dan perasaan intim yang sama, terutama pada tingkat mental atau spiritual.

Referensi:

Anderson, Benedict, (1991), Imagined Communities, London and New York: Verso.

Kohn, Hans, (1965), Nationalism, its Meaning and History, Florida: Robert E. Krieger Publishing Company.

Said, Edward W., (1994), Culture and Imperialism, New York: VINTAGE BOOKS.

Zakia Shafira
Political Science student. Interested in geopolitics and defence studies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.