Kamis, April 9, 2026

Mengapa Kita Harus Berani Terbentur?

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
- Advertisement -

Sampai kapan kamu terus menghindar dan lari dari persoalan? Menghindar mungkin terasa aman, tetapi justru di sanalah letak titik rapuhmu dibangun. Banyak orang tumbang bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena mereka menganggap masalah sebagai tembok yang tak mungkin dilewati. Padahal, justru dari gesekan dan tekanan itulah manusia ditempa.

Hidup dalam kenyamanan memang menyenangkan, siapa pun suka. Namun, kenyamanan tidak pernah cukup untuk membentuk pribadi yang kokoh. Tan Malaka pernah berujar,

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”

Pertumbuhan lahir dari benturan, bukan dari kemudahan yang terus disuapi.

Di era disrupsi ini, kita sangat akrab dengan kecepatan. Jaringan telekomunikasi meningkat dari H+, 3G, 4G, hingga 5G. Kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan yang dahulu menuntut tenaga dan waktu, kini hanya butuh klik–bayar–datang. Kemudahan ini, mau tidak mau, menanamkan pola pikir instan bahwa semua harus cepat, semua harus mudah, semua harus selesai tanpa repot.

Akibatnya, kita kian enggan berkawan dengan proses yang lamban, bahkan sesederhana membaca buku. Kita terjebak dalam perfeksionisme semu, seolah-olah sesuatu yang berjalan pelan pasti tidak produktif, padahal justru dalam kelambanan itulah proses pembentukan diri berlangsung.

Paulo Coelho, dalam Sang Alkemis, mengisahkan seorang pemuda yang menjual ternaknya demi mengejar harta karun di Piramida Mesir. Sepanjang perjalanan, ia ditempa oleh kesulitan, kehilangan, dan situasi yang memaksa dirinya untuk terus merespons dengan kedewasaan. Ia belajar tentang keberanian, kesabaran, intuisi, dan makna tanda-tanda kehidupan.

Namun ketika akhirnya tiba di Piramida, ia tidak menemukan apa pun. Petunjuk demi petunjuk justru membawanya pulang ke titik awal: harta karun itu ternyata berada di belakang rumahnya sendiri. Plot twist, ya. Tapi apakah perjalanan itu sia-sia? Tentu tidak. Tanpa perjalanan panjang yang melelahkan itu, ia tak akan punya kemampuan maupun kebijaksanaan untuk mengenali di mana harta sebenarnya berada.

Coelho ingin menegaskan bahwa proses adalah harta itu sendiri. Bukan hasil akhir yang mendadak muncul, melainkan jalan panjang yang melatih kita untuk layak menerimanya.

Masalah dalam hidup pun begitu: ia bukan pintu buntu, melainkan jalan berkelok yang memaksa kita tumbuh. Jika kamu terus menghindar, kamu hanya menunda lahirnya versi dirimu yang lebih kuat. Tetapi jika kamu berani melangkah, meski sedikit demi sedikit, kamu akan menemukan bahwa harta karun yang kamu cari yakni kedewasaan, ketangguhan, kebijaksanaan ternyata sudah menunggu di dalam dirimu sendiri.

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.