OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Mengapa Hoax dan Komunikasi Buruk Memperpanjang Masa Pandemi? (1)

Azizul Amri
Jarang-jarang nulis, sekalinya nulis, jarang-jarang. Anak daerah yang tiap fase hidupnya pasti merantau. Sekarang kerja di BUMN, tapi hobinya kritik negara karena sayang sama negaranya.

Beberapa hari lalu, saya meminta maaf kepada pengikut instagram saya, atas perbuatan saya selama ini yang sekiranya menyakiti hati, baik perilaku di dunia maya, maupun dunia nyata. Tentunya tak lupa saya sandingkan dengan tulisan “aku sayang kalian semua” dan “tak ada satupun dari kalian yang menyakiti hati saya, kalaupun ada, sudah saya maafkan jauh-jauh hari”.

Saya belum pernah merasa sebegitu rentannya dalam hidup ini. Hal ini dipicu oleh inisiatif bodoh saya terkait dengan kematian demi kematian yang mendatangi teman, keluarga besar dan orang tua dari teman-teman yang pernah berinteraksi. Apa inisiatifnya? Selama seminggu, setiap harinya, saya dengan sengaja menghitung berapa banyak orang-orang yang saya sebutkan di atas menjumpai ajalnya.

Sungguh, ini bukanlah sebuah drama yang dilakukan karena iseng semata, melainkan karena kehausan akan suatu fakta riil yang terjadi di lapangan. Iya, saya ingin mengetahui dengan jelas, betapa berbahayanya pandemi yang sedang kita hadapi bersama ini dan bagaimana ini mempengaruhi kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya. Ada berapa kematian dalam seminggu yang saya hitung? 20 orang. Pernah sehari 4, pernah ‘hanya’ 1. Dalam seminggu itu, tidak ada satupun yang lewat tanpa korban jiwa.

Jika merujuk kepada sebuah skenario pakar, Covid-19 sedang dalam perjalanannya menuju puncak. Pakar epidemiologi Universitas Griffith Dicky Budiman menggambarkan, prediksi fase kritis akan dialami akhir Juli hingga awal Agustus jika tidak dilakukan intervensi yang tepat dengan dasar strategi yang tepat. Namun, jika intervensi ‘PPKM’ ini tepat, maka kita berharap puncak kasus ada di 15 Juli 2021 kemarin yang hampir menyentuh 57 ribu kasus.

Apa Intervensi yang Tepat untuk Dilakukan? Dan Bagaimana Metode Penerapannya?

Untuk menjawab dua pertanyaan ini, mari kita bedah akar masalahnya terlebih dahulu. Kenapa Indonesia menjadi negara yang “terbelakang” dalam menangani pandemi Covid-19?

Mari kita mulai dengan bagaimana budaya literasi menjadi suatu hal krusial yang menjadi dasar dalam menentukan keputusan dan mengkomunikasikannya kepada publik. Literasi adalah sebuah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Aktivitasnya hampir selalu berhubungan dengan kecakapan membaca, dan menulis.

Pada perkembangannya, Indonesia merupakan negara yang sangat tertinggal dalam konteks membudayakan literasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara yang diteliti.

Di masa yang serba teknologi ini, tentu saja perubahan-perubahan yang bersifat strategis dan teknis turut terjadi. Teknologi bukanlah suatu hal yang dapat dihindari. Jika dihindari, banyak implikasi yang akan terjadi seperti ketertinggalan informasi, menjadi gagap dalam bersosialisasi, dan tidak adaptif terhadap perubahan.

Teknologi bersifat memaksa, dan akan terus menggerus orang-orang yang tidak cakap dalam proses perubahannya. Bukan berarti semua perubahan ini dapat kita artikan secara positif seluruhnya, terutama bagi kalangan Baby Boomer yang memiliki jurang yang cukup jauh dengan generasi Y dan Z dalam penguasaan teknologi.

Tak perlu saya mengutip sumberpun, ini sudah menjadi suatu pengetahuan umum yang kerap kali dilontarkan oleh pemateri-pemateri di acara seminar, diskusi maupun kelas-kelas yang basisnya “Millenial”. Seharusnya di usia mereka yang sudah sepuh, mereka tidak perlu lagi menatap layar gadget yang memusingkan mata mereka yang sudah rabun, dan belajar cara kerja piranti lunak di sisa hidupnya. Yang harusnya menikmati masa pensiun dan masa tua sambil bersiul-siul dengan burung-burung di teras rumah, menyiram tanaman dan minum kopi dengan sang istri di senja hari, mereka harus berkutat dengan banjirnya informasi di media digital.

Di sisi lain, digitalisasi literasi merupakan suatu keharusan dan menjadi suatu kebutuhan primer bagi semua orang karena kita “terlambat” dalam membentuk pola-pola srategis budaya literasi. Derasnya arus informasi, baik dari media arus utama maupun media-media alternatif dan sosial media menjadikan kita orang Indonesia, khususnya orang-orang yang sudah berumur ini menjadi bingung dan cenderung menelan informasi yang secara stance atau positioning mendukung apa yang mereka pikirkan, sehingga informasi-informasi seperti ini tidak disaring berdasarkan ‘kebutuhan’ mereka, namun berdasarkan ‘keinginan’ mereka.

Budaya literasi (digital) tentu tidak hanya berkutat pada komparasi artikel online yang menyajikan pro dan kontra dari suatu gagasan, kemudian mengambil kesimpulan. Tentu banyak informasi-informasi yang bersifat kabar bohong / hoax yang secara penulisan sangat meyakinkan, mencantumkan sumber-sumber jurnal atau situs berita terpercaya dan bahkan datang dari gelar pakar sekalipun (Misalnya Louis Owien yang bergelar dokter).

Ia juga mencakup kecakapan dalam berpikir logis secara saintifik, aktivitas memilah jurnal ilmiah, membedakan email resmi dengan email abal-abal, membedakan ekstensi ransomware dengan aplikasi, membaca situasi dan kondisi masyarakat, memahami dinamika politik dalam maupun luar negeri, dan rasa ingin tahu yang tinggi untuk dapat memverifikasi informasi-informasi yang masuk kedalam gadget kita. Semua itu merupakan cakupan dari aktivitas literasi. Dan Indonesia berada di papan bawah dari daftar negara yang diteliti oleh PISA tersebut.

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami gejala-gejala permukaan dari berita bohong yang beredar di masyarakat. Hal ini tidak hanya terjadi di generasi Baby Boomer tetapi juga terjadi kepada anak-anak muda yang berasal keluarga-keluarga semi-feodal baik di perkotaan maupun di pedesaan, keluarga-keluarga yang berasal dari tempat terisolir, keluarga-keluarga yang doktrin agama jauh lebih superior daripada pola pikir saintifik, dan keluarga-keluarga lainnya.

Mengapa keluarga-keluarga tersebut? Baca selengkapnya di Mengapa Hoax dan Komunikasi Buruk Memperpanjang Masa Pandemi? (2)

Azizul Amri
Jarang-jarang nulis, sekalinya nulis, jarang-jarang. Anak daerah yang tiap fase hidupnya pasti merantau. Sekarang kerja di BUMN, tapi hobinya kritik negara karena sayang sama negaranya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.