Seorang anak dengan tangan mungil dan raungan yang cukup mengganggu seisi rumah tak pernah diberi pilihan. Ia tidak pernah diminta pendapat: ingin lahir dari orang tua yang ideal, atau dari orang tua yang terlalu sibuk menyusun strategi bertahan hidup sampai lupa belajar bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.
Keluarga, seharusnya, adalah lingkungan paling dekat dengan seorang anak. Namun pada kenyataannya, sebagian dari kita justru paling dekat dengan keluarga hanya saat mengurus kartu keluarga. Selebihnya, hubungan itu terasa datar, tak banyak tanya, tak banyak sapa, dan tak benar-benar akrab. Ironisnya, ada yang tetap menyayangi keluarganya, tapi justru merasa lebih tenang ketika berada jauh darinya.
Barangkali, di titik inilah kita mulai paham mengapa film-film tentang keluarga belakangan ini begitu mudah merobohkan pertahanan emosional penonton. Satu Kakak Tujuh Ponakan, Ibu Mengapa Kau Menikah dengan Ayah, hingga Panggil Aku Ayah bukan sekadar tontonan. Ia seperti cermin besar yang memantulkan ulang luka-luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Tak sedikit penonton yang merasa sedang menonton kisah hidupnya sendiri. Adegan demi adegan terasa terlalu akrab, dialognya seperti pernah diucapkan di meja makan, atau justru di ruang tamu yang sunyi. Film-film itu menjadi “relatable” bukan karena ceritanya istimewa, melainkan karena kondisi keluarga kita, pada banyak kasus, memang masih rapuh.
Indonesia termasuk negara dengan angka anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah yang utuh—baik secara fisik maupun emosional yang cukup tinggi. Data UNICEF tahun 2021 menunjukkan sekitar 20,9 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless. Artinya, lebih dari 16 juta anak tumbuh dengan figur ayah yang absen, entah karena pergi, bekerja terlalu jauh, atau hadir secara fisik tapi kosong secara peran.
Tak heran jika isu keluarga begitu menggema, terutama di kalangan Gen Z. Film Ibu Mengapa Kau Menikah dengan Ayah, misalnya, terasa seperti kritik sosial bagi tipe ayah yang mengaku peduli, tapi tak pernah benar-benar bertanggung jawab atas nyala api di dapur, biaya obat di klinik, atau sekadar genteng bocor saat hujan datang. Ayah yang hadir dalam wacana, tapi absen dalam keseharian.
Sementara itu, Panggil Aku Ayah yang diperankan Ringgo Agus Rahman sebagai Mang Dedi seolah menghadirkan sosok ayah alternatif. Ayah yang mau mendengar, memeluk, dan bertahan. Sosok yang, mungkin, diam-diam diinginkan oleh jutaan anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang bisa diandalkan.
Namun pada akhirnya, menyalahkan ayah semata juga bukan kesimpulan yang sepenuhnya adil. Mereka pun menjadi ayah untuk pertama kalinya saat kita lahir. Kebanyakan dari mereka tidak pernah punya ruang belajar, apalagi kursus singkat, tentang bagaimana caranya menjadi ayah yang baik. Mereka tumbuh dari generasi yang sama-sama penuh retak, lalu dipaksa bertahan hidup dengan caranya sendiri.
Seperti ungkapan J.S. Khairen dalam Dompet Ayah Sepatu Ibu:
Ibumu punya retakAyahmu punya retakMemaafkan merekaAdalah obat segala obat
Di titik inilah kebijaksanaan seorang anak diuji. Apakah kita akan terus nyaman mengulang luka, memvalidasi diri lewat potongan video dan kutipan sedih, seolah menjadi manusia paling menderita di dunia atau perlahan belajar memaafkan, sambil diam-diam mempersiapkan diri agar kelak tidak mengulang pola yang sama.
Memutus rantai fatherless bukan sekadar soal menyembuhkan masa lalu, tapi tentang menyiapkan masa depan. Agar suatu hari nanti, ketika kita menjadi ayah, anak tidak merasa canggung atau malu hanya untuk meminta pelukan. Agar rumah benar-benar kembali menjadi tempat pulang, bukan sekadar alamat di kartu keluarga.
