Media populer hari ini kerap menjual satu ilusi besar kepada anak muda bahwa hidup yang berhasil adalah hidup yang terlihat bahagia. Kebahagiaan yang kemudian hanya diukur melalui materi, gaya hidup, relasi asmara, hingga validasi sosial yang dipamerkan di layar ponsel. Pada titik inilah, materialisme perlahan menjelma sebagai kompas kehidupan.
Akibatnya, tidak sedikit anak muda merasa hidupnya gagal hanya karena belum mencapai standar tertentu. Tekanan ini diperparah oleh konstruksi sosial dan algoritma media sosial yang terus membentuk persepsi tentang hidup ideal. Anak muda usia 25 tahun dianggap harus mapan secara ekonomi, memiliki pasangan, kendaraan, pekerjaan tetap, bahkan kehidupan sosial yang terlihat menyenangkan. Ironinya, standar semacam ini sering kali membuat kita kesulitan membedakan mana proses pendewasaan dan mana lomba pencitraan.
Anak muda seharusnya memiliki daya tarik untuk berpetualang, tumbuh, mencoba, bahkan gagal. Namun hari ini, makna hidup perlahan dipersempit oleh logika kapitalisme, seolah nilai manusia hanya ditentukan oleh kemampuan gaya hidupnya.
Tekanan hidup yang tinggi, minimnya ruang refleksi, dan budaya konsumtif akhirnya melahirkan banyak bentuk pelarian. Sebagian anak muda terjebak dalam hiburan yang berlebihan, relasi yang dangkal, budaya nongkrong tanpa arah, hingga judi online yang kini kian masif. Persoalan ini sering dianggap wajar sebagai bagian dari kehidupan anak muda, padahal dampaknya jauh lebih destruktif daripada yang dibayangkan.
Jika dulu Soekarno berkata, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”. Maka hari ini kalimat itu terasa seperti satir. Sebab sebagian anak muda justru sedang diguncang oleh dunia yang kehilangan arah, budaya konsumtif, validasi semu, dan kesenangan instan.
Dampaknya tidak berhenti pada individu. Krisis makna turut mempengaruhi relasi sosial dan ketahanan keluarga. Perceraian di Indonesia terus meningkat, dan persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor dominan. Di sisi lain, fenomena judi online juga mulai menghancurkan banyak rumah tangga. Artinya, orientasi hidup yang hanya berpusat pada materi dan kesenangan pribadi tidak selalu melahirkan kebahagiaan, tetapi justru menghadirkan kekosongan baru.
Masalahnya sebenarnya bukan pada keinginan manusia untuk bahagia. Masalahnya muncul ketika kebahagiaan direduksi hanya menjadi materi, konsumsi, dan pengakuan sosial. Akibatnya, aspek spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan modern yang individualistis.
Padahal, hidup manusia selalu berdiri di atas pengorbanan orang lain. Ada petani yang rela kepanasan demi sepiring nasi yang kita makan. Ada sopir truk yang menempuh perjalanan panjang agar kebutuhan hidup sampai ke kota-kota. Ada pekerja pabrik yang menghabiskan waktunya di tengah rutinitas berat demi memenuhi kebutuhan banyak orang yang bahkan tidak pernah mengenal namanya.
Karena itu, tujuan hidup anak muda sejatinya bukan sekadar mengejar kebahagiaan semu, melainkan menemukan makna dan kebermanfaatan. Sebab kebahagiaan yang paling dalam mungkin lahir ketika manusia merasa dirinya berarti bagi kehidupan orang lain.
Dr. Hiluluk dalam One Piece pernah berkata, “Seseorang mati ketika ia dilupakan.” Barangkali, di situlah makna hidup menemukan bentuknya, bukan tentang seberapa mewah hidup kita terlihat, melainkan seberapa besar keberadaan kita memberi arti bagi orang lain.
