Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Meneguhkan Teologi Beragama dalam Tahun Politik | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Meneguhkan Teologi Beragama dalam Tahun Politik

Sunda Empire dan Krisis Demokrasi

Belakangan ini situasi sosial politik kita semakin menarik untik ditelaah lebih dalam. Sebut saja kasus kemunculan raja-raja di tingkat lokal, seperti Sunda Empire dan...

Kampanye Ramah Difabel

Pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 tinggal beberapa hari lagi. Artinya, kesempatan rakyat untuk mengenali dan menentukan calon yang akan dipilih juga semakin menipis. Kampanye...

Kesamaan Deschamp dan Beckenbauer

Franz Beckenbauer adalah legenda sepakbola Jerman (dulu Jerman Barat) khususnya dan dunia pada umumnya. Seorang libero yang taktis dan pintar membaca permainan. Saat menjadi...

Indonesia 2024: Keberlanjutan Lingkungan menuju Indonesia Emas

Pendahuluan Pembangun di Indonesia saat ini terlihat misorientasi. Trend pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tanpa memperhatikan lingkungan, sebenarnya berpotensi membawa negara Indonesia kepada...
anen sutianto
Penulis adalah penikmat buku-buku sosial keagamaan, sufistik dan pecinta kuliner. Berkhidmat di Kementerian Agama.

Kini kita tengah berada dalam situasi yang sarat emosionalitas beragama dalam bingkai kehidupan berbangsa. hari ini kita disuguhkan suhu politik yang kian memanas jelang pileg dan pilpres 2019 yang hanya menunggu hitungan pekan dan hari.

Tensi dan eskalasi hiruk pikuk politik mulai meninggi dari masing-masing calon dan pendukungnya. Di sisi lain, nampak ada ancaman sekaligus tantangan tersendiri bagi kehidupan bangsa dalam bingkai kerukunan umat.

Memaknai situasi hari ini, paling tidak ada tiga dimensi penting untuk memaknai bersama dengan pikiran jernih. Pertama, atmosfir politik ini terus menghangat karena hari ini kelanjutan dari rangkaian pemilukada serentak 2018 kemarin.

Tercatat, tak kurang sebanyak 171 daerah akan berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah tahun lalu. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang itu masih menyisakan letupan-letupan emosionalitas berdemokrasi di kalangan sebagian umat. Dan itu perlu disikapi dengan bijak dan arif oleh capres dan cawapres serta caleg.

Kedua, tahun politik hendaknya dimaknai titik balik rekonsiliasi. Momentum ini selaiknya dijadikan sebagai kekuatan setiap elemen bangsa untuk bersatu padu. Mengantarkan bangsa ini ke arah yang lebih baik, maju dan bermartabat.

Selama ini, disadari atau tidak telah terjadi disparitas kepentingan yang kemudian memunculkan perpecahan di kalangan umat dan kehidupan berbangsa. Kerukunan acapkali umat terciderai oleh segelintir kepentingan elit dan intrik politik oportunis.

Berbicara kerukunan umat, penulis meyakini itu sebagai embrio sekaligus modal dasar untuk membangun peradaban mulia sebuah bangsa. Kerukunan umat menjadi pertaruhan terakhir maju mundurnya sebuah negara. Tak ada kehidupan masyarakat yang harmonis, damai, aman, tenteram, dan maju tanpa diawali terciptanya kerukunan di dalam tananan sosial.

Ketiga, tahun politik 2019 hendaknya juga dimaknai sebagai momentum untuk mengembalikan wajah damai agama, khususnya Islam. Jika di tahun-tahun sebelumnya kita dipertontonkan aksi anarki, kekerasan, dan intoleransi yang mengatasnamakan agama.

Maka di tahun politik ini kita selaku umat Islam berkewajiban mengembalikan Islam dimaknai secara generik. Oleh karenanya, diperlukan sebuah terobosan intlektual (intellectual breaktrough) untuk mengembalikan jati diri bangsa yang ramah dan santun dengan tagline teologi rahmatan lil alamin.

Teologi Rahmatan lil Alamin

Berbekal teks normatif agama, Alquran, seyogianya dipahami sebagai sebuah doktrinitas yang universal. Alquran menjadi hudan li al-nass wa bayyinat min al-huda wa furqan, dan keberadannya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, petunjuknya sangat luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi aspek kehidupannya.  (Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’I, 2000: 27).

Melalui teks-teks suci Alquran, sejatinya Allah menegaskan akan pentingnya teologi yang di sebut teologi rahmatan lil alamin. Istilah ini sengaja penulis pilih untuk menampilkan dan mengedepankan ciri Islam sebagai agama yang damai, penuh kasih, anti kekerasan, dan menyapa semua makhluk –terlepas dari perbedaan asal usul agama dan keyakinan. Hal ini tentunya berdasar pada firman Allah swt: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Qs. Al-Anbiya/21:107).

Jika kalimat rahmatan lil alamin disinergikan dengan kata Islam yang berarti patuh dan berserah, jelas kata itu kian menegaskan dengan amat gamblang bahwa teologi rahmatan lil alamin adalah keniscayaan yang mutlak. Agaknya inilah yang menjadi kunci peradaban Islam di sepanjang sejarahnya dan akan terus menjanjikan di masa depan.

Teologi rahmatan lil alamin sejatinya bertujuan mengukuhkan kelembutan dan pengutamaan khusnuzan atau prasangka baik. Konsekuensi dari argumen ini adalah penolakan mutlak tindakan kekerasan, sekalipun dengan dalih menegakan amar ma’ruf nahyi munkar. Praktik teologi rahmatan lil alamin pun telah dianjurkan Rasulullah Saw, seperti termaktub dalam hadits: “Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia, maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah”. (HR. Bukhari).

Konsep teologi rahmatan lil’alamin menyaratkan dua aspek. Pertama, Islam perlu dimaknai sebagaimana adanya Islam itu secara generik yang bermakna kedamaian dan keselamatan bagi seluruh makhluk. Jadi, orang yang mengaku beragama Islam seyogianya dia mesti mampu menebar benih-benih perdamaian dan jaminan keselamatan bagi siapa saja yang berada di sampingnya. Tak peduli dia berbeda suku, ras, bangsa, ataupun keyakinan maka umat muslim wajib memberikan garansi hidup aman dan nyaman.

Kedua, teologi rahmatan lil alamin perlu ditarik ke dalam dimensi sosial. Mendekatkan perspektif transendetal dan kehidupan dunia dengan memberikan ruang yang luas bagi proses sosial, maka konsepsi rahmatan lil’alamin menemukan momentum dalam kehidupan dunia. Konteks sosial kemasyarakatan memang menjadi lahan subur bagi implementasi dan pengembangan konsepsi rahmatan lil’alamin.

Beragama (Islam) seharusnya mendorong setiap pemeluknya untuk dapat melahirkan sikap toleran, empati dalam perspektif sosial kemasyarakatan. Inilah pantulan dari gagasan rahmatan lil’alamin yang ditawarkan oleh Islam sebagai agama yang mengusung nilai-nilai universal. Sebagai individu kesadaran sosial dalam masyarakatnya yang dilandasi oleh moralitas sosial yang berangkat dari perspektif agama dan nilai sakral masyarakatnya yang terinternalisasi dalam kesadaran dirinya. Inilah yang mendorong loyalitas individu di dalam masyarakatnya di mana mereka berada.

Ala kulli hal, menyongsong tahun politik mestinya dibarengi optimisme bahwa ruang dan kesempatan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara masih terbuka lebar. Centang-perenang kehidupan masyarakat saatnya dirajut kembali dengan benang kerukunan.  Jalinan harmonisme kehidupan bermasyarakat penulis yakini bisa dijembatani dengan mengetengahkan Islam sebagai doktrinal rahmatan lil alamin. Islam yang mampu menjadi pembawa kedamaian dan keselmatan bagi siapapun dan dimanapun, itulah makna generik Islam. Wallahu a’lam bishawab.

anen sutianto
Penulis adalah penikmat buku-buku sosial keagamaan, sufistik dan pecinta kuliner. Berkhidmat di Kementerian Agama.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.