Minggu, Mei 9, 2021

Mendengarkan, Seni yang Terlupakan

Profesor Nurdin Abdullah dan Semangat (yang terus) Muda

Apa yang kita kenang setiap 28 Oktober?Barangkali sebuah teks lawas yang menggugah dan yang bunyinya begini:Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah...

Fenomena Keterasingan Netizen dari Perspektif Gyorgy Lukacs

Anda pernah menemui kalimat seperti ini? “Viralkan!”, “Sebarkan!” atau juga kalimat seperti ini “awas diciduk!” hingga kalimat pertanyaan dan pernyataan mengesalkan dari seorang di...

“Eksistensi” Karnaval Seni 16

Karnaval Seni 16 merupakan kegiatan mahasiswa angkatan 16 Institut Seni Indonesia Padangpanjang sebagai wadah ekspresi, kreativitas dalam  berkesenian di lingkungan kampus. Karnaval Seni 16 berlangsung...

Ketika Golkar Kembali Mendengar Suara Rakyat

Sejak kemarin malam masyarakat dan warganet mendapatkan hadiah ‘kejutan’ tentang pencabutan rekomendasi untuk Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien menjadi Gubernur-Wakil Gubernur yang diusung Partai...
Sri Sunarsih
Alumnus Universitas Yarsi 2020, yang bercita-cita menjadi Internal Auditor.

Sebagai manusia biasa, saya pernah merasakan rasa sakit mendalam, yang diakibatkan bukan karena perihal kisah asmara saja, melainkan perihal keluarga, lingkungan pertemanan, bahkan perundungan.

Perasaan itu cukup membuat saya stress. Guna meringankan  beban di hati dan di pikiran, saya melakukan hal yang biasa dilakukan oleh teman-teman, yaitu bercerita dengan teman terdekat dan dipercaya.

Namun, bukan kenyamanan batin yang dirasa, tetapi rasa sakit dan tertekan semakin menjadi-jadi. Sepanjang bercerita, sepanjang itu pula penghakiman-penghakiman yang saya dapatkan.

Belum selesai saya berbicara, teman saya langsung menyimpulkan dan kerap memberi nasihat. “Bukan itu maksud saya”, hati dan pikiran saya menolak. Berharap didengar, malah semakin terpojokkan.

Semenjak kejadian itu, sayapun menjadi orang yang takut untuk bercerita, dan lebih memilih untuk memendam segala masalah. Sehingga proses perjalanan saya dari usia belasan menuju usia kepala dua puluhan, ditemani oleh rasa kecemasan.

Cerita di atas adalah sepenggal kisah tentang pengalaman tidak didengarkan dari saya pribadi. Hal itu menunjukkan bahwa menjadi pendengar yang baik lebih sulit dari pada menjadi pembicara yang handal. Kadang pertanyaan kepada diri sendiri mencuat, apa saya terlalu egois untuk minta didengarkan ?.

Tetapi, sudah seyogyanya manusia punya rasa ingin didengarkan. Mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, mendengar belum tentu mendengarkan, sedangkan mendengarkan sudah pasti mendengar.

Menjadi pendengar yang baik bukan hanya tugas seorang konselor, psikolog, bahkan guru BK. Kita semua memiliki peran untuk itu, begitu juga dengan saya.

Beberapa masalah akan timbul, hanya karena kita tidak mendengarkan dengan baik dan seksama. Seperti contoh, kita acap kali mendapat info disalah satu berita ataupun media online terjadinya bunuh diri oleh selebriti mancanegara.

Ada beberapa kasus hal itu dilatarbelakangi karena masalah kesehatan mental yakni seperti depresi. Mereka yang depresi takut untuk menceritakan permasalahannya kepada orang lain, alih-alih takut akan semakin di judge atau dihakimi. Mungkin kita pun juga merasakan hal yang sama.

Atau sebelum sesorang yang dirundung masalah mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya, ada beberapa yang memberi kode di sosial medianya kalau dia sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Orang-orang seperti ini lah yang perlu diperhatikan. Mereka hanya ingin direspon dan ingin didengarkan. Disini, tanggapan yang kita berikan dapat bepengaruh langsung kepada mereka. Jika kita salah saja dalam memberi sebuah tanggapan, justru akan membuatnya semakin terpuruk, dan kemungkinan buruk bisa terjadi. Tetapi sebaliknya, jika kita baik dalam memberi respon, bisa saja kita membuatnya merasa menjadi lebih baik, sehingga tindakan di luar nalarpun tidak terjadi.

Masalahmen mendengarkan, juga dapat menimbulkan konflik lain. Mereka yang tidak mendengarkan dengan baik, akan merasa dirinyalah yang benar. Jika kita lihat acara-acara di televisi, ada salah satu program diskusi untuk membicarkan isu-isu yang terjadi.

Program ini menampilkan beberapa narasumber atau bintang tamu, dari kelompok yang pro dan kontra, serta dipandu oleh satu moderator. Narasumber diperbolehkan memberikan sebuah statement jika sang moderator sudah mempersilahkan.

Namun dalam satu momentum acap kali diskusi tidak berjalan dengan kondusif. Sering kita lihat diacara tersebut, saat salah satu narasumber sedang memberikan sebuah statement dan itu belum selesai, narasumber lain menimpali seakan membantah.

Padahal, ada waktunya untuk membatah statement dari narasumber sebelumnya. Belum lagi narasumber lainpun malah ikut-ikutan, semakin membuat gaduh sesi diskusi.

Masing-masing narasumber merasa dirinya lah yang benar, merasa dirinyalah yang patut didengarkan. Efek samping dari kejadian tersebut pastilah menimbulkan konflik. Amarah kerap kali menyelimuti berjalannya acara. Intisari dari hasil diskusipun terkadang kesannya dipaksakan. Tujuan utama dari kegiatan tersebutpun tidak tercapai.

Padahal, tidak akan ada ruginya jika kita menjadi pendengar yang baik, dan tidak akan pula membuat kita menjadi lemah. Dengan menjadi pendengar yang baik ada beberapa dampak positif yang akan kita dapatkan.

Saat mendengarkan lawan bicara sedang bercerita atau memberi statement usahakan untuk menyimak dengan baik, tetap memperhatikan sampai akhir, dan tidak mengalihkan perhatian ke gawai misalnya. Hal itu dapat melatih fokus kita.

Dengan mendengarkan lawan bicara yang sedang memberi sebuah statement atau bercerita sekalipun, lebih baik menunggu sampai ia berhenti, baru kita boleh memberi tanggapan, proses ini melatih kita untuk sabar dan menahan diri.

Menjadi pendengar yang baik untuk teman ataupun lawan berbicara yang sedang dirundung permasalahan, menceritakan segala kegagalan, ataupun kekecewaan, dapat melatih simpati dan empati kita.

Menjadi pendengar yang baik juga dapat melatih pola berfikir kritis. Saat lawan bicara meminta kita untuk memberi tanggapan ataupun saran, difase ini kita diminta mengeluarkan opini yang tidak membuat lawan bicara semakin down, ataupun merasa terpojokkan.

Ada kalanya, statement ataupun cerita yang diutarakan dari lawan bicara tidak sesuai dengan pola pikir kita. Tetapi jika kita menjadi pendengar yang baik hal itu bukan suatu masalah, justru akan melatih diri untuk dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan kita pun lebih menghargai perbedaan.

Beberapa masalah juga dapat diselesaikan dengan duduk bersama, bercerita, dan saling mendengarkan satu sama lain. Jadi, mari bersama-sama kita berlatih menjadi pendengar yang baik, untuk kebaikan diri sendiri, dan juga orang lain.

Sri Sunarsih
Alumnus Universitas Yarsi 2020, yang bercita-cita menjadi Internal Auditor.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.