Selasa, Mei 18, 2021

Menarasikan Bung Hatta dan Pemuda Indonesia

Memahami Sastra

Ketika berbicara tentang sastra biasanya orang seringkali hanya mengartikannya secara sempit sebagai bidang studi yang mengkaji tentang novel, puisi, atau cerpen. Definisi ini meskipun...

Idul Adha Wahana Reformasi Akhlak

Di tengah hiruk pikuk kegaduhan politik yang semakin tidak bermoral sekarang ini, Idul Adha seharusnya menjadi momentum umat muslim memperbaiki akhlak kepada sesama manusia...

Jangan Salahkan Arek Suroboyo Hadang Prabowo

Kedatangan calon Presiden nomor urut 02 Selasa, 19 April lalu, di Tambak Beras Surabaya. Mendapat sambutan kurang simpatik. Tidak hanya dengan yel-yel, masyarakat sekitar...

Pilkada dan Penciptaan Nilai Publik

Momen pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang selalu menegasi netralitas birokrasi telah meninggalkan pengalaman pahit, sudah jamak terjadi birokrasi yang dibuat untuk eksekusi kebijakan kolektif...
Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Pada hari senin tanggal 2 juli 2018, penulis Indra Tanggono Pemerhati Kebudayaan, Menulis opini di koran kompas pada halaman 7 dengan judul Menarasikan Tokoh-Tokoh Bangsa. Di awal paragrafnya itu, penulis mengutarakan, Nasionalisme adalah “menu” yang kurang diminati kalangan anak muda.

Nasionalisme masih termajinalisasi di atas “meja prasmanan” yang penuh sesak nilai, gagasan paham, filsafat, atau ideologi yang berbasis pada agam, materi, kapital, dan pasar.

Fenomena yang menghawatirkan itu bisa kita lihat dari dunia pendidikan. Banyak sekolah berorientasi pada nasionalisme kini kusut, surut, bahkan gulung tikar. Ini berkebalikan dengan sekolah-sekolah yang berorientasi pada agama yang semakin menguat adapun sekolah negeri, yang semestinya mengembangkan nilai-nilai nasionalisme, tidak sedikit yang terpapar paham radikal.

Lebih lanjut pada paragraf selanjutnya. Kehidupan berbangsa bernegara yang nir-nasionalisme melahirkan generasi muda yang “tuna-nasionalisme”. mereka bersekolah kuliah, lulus, mendapat ijazah dan bekerja hanya bercita-cita jadi orang yang melimpah harta dan lupa keadaan kana-kiri.

Mereka jadi steril atas persoalan-persoalan kebangsaan, sepertiketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan serta kebangsaan. Mereka pintar tetapi tidak lantip (memiliki orientasi nilai sosial) dan waskito (memiliki orientasi nilai ideologi-spiritual).

Selanjutnya, bahaya terbesar bagi suatu bangsa adalah lupa pada sejarah. Bangsa yang ahistoris tak lebih dari kumpulan besar manusia tanpa orientasi nilai. Bangsa macam itu gampang dikelilingi dan dikuasai kekuatan yang mengincar kekayaan negri ini. Dalam konteks ini, inisiasi sekolah kebangsaan menjadi penting.

Dari tulisan Indra Tanggono di atas tidak dapat dibantah karena faktanya memang seluruh elemen masyarakat saat ini acuh tak acuh, abai, cuek dan bahkan tidak mampu memahami wacana dan konsep sejarah bangsa yang baik/benar. khususnya perjalanan sejarah tokoh-tokoh bangsa dalam memperjuangkan eksistensi kemerdekaan indonesia.

Karena itu, sungguh menjadi bencana dan malapetaka bagi kita sebagai generasi bangsa hari ini cuek dan lupa akan jasa-jasa para pendahulu atau pahlawan khususnya tokoh-tokoh bangsa yang merumuskan dasar-dasar negara kita.

Seperti kata Sang Proklamator RI Bung Karno,”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawan”. Dan juga, sudah menjadi kesadaran dan naluriah kita dalam beragama adalah bahwa, kita ingin mengetahui sejarah perjuangan para nabi-nabi dan tokoh-tokoh yang berjuang membawa risalah dan meneggakan agama islam.

Begitupun dalam konteks bernegara, kita ingin mengetahui sejarah perjuangan tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh-tokoh bang lainnya.

Dengan demikian, pada tulisan kali ini penulis ingin menarasikan kembali perjalanan hidup, kontribusi, karakter pribadi, dan karya-karya untuk negara indonesia tokoh bangsa sang proklamator dan wakil presiden 1 indonesia yaitu Bung Hatta.

Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah tokoh pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesiayang pertama.

Ia bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak KoperasiIndonesia (wikipedia).

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat.[5]

Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari Bahasa Arab, yang berarti “harum”.[6] Ia merupakan anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam.

Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri.[7] Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Jakarta. (wikipedia).

Bung Hatta dan Pemuda

Pemuda Indonesia, harapan bangsa! Perhatikanlah teladan yang telah diberikan oleh prajurit nippon itu, yang berjuang dan meninggal untuk keperluan tanah airnya. Tanamlah semangat keprajuritan dalam dadamu, bulatkanlah tekadmu untuk berjuang buat kebebasan bangsamu di kemudian hari. Bersiaplah engkau untuk menyusun barisan pertahanan tanah air.

Dari berpuluh tahun yang sejarah pergerakan kita menunjukan, bahwa pemuda itu bersedia berjuang dibaris depan, bersedia menjadi pelopor perjuangan bangsa.

Tetapi pemuda indonesia! bukan dari daun lontar yang ditulis dengan aksara lama, bukan pula dari kita tambo yang telah kuning kertasnya engkau akan mengetahui sejarah tanah airmu.

Sejarah tanah airmu dapat diketahui dari derasnya desakan darah, yang mengalir dalam tubuhmu. Detik darah yang mengalir dalam tubuhmu itu akan memperingatkan kepadamu kebesaran juga menjadi peringatan kepadamu setiap waktu akan kewajibanmu sebagai putera bangsa dalam perjuangan mati-matian dimasa datang. Hal 204.

Sebab itu anjurkan kepada saudara-saudara, laki-laki dan perempuan, supaya memberi hadiah kepada tanah air kita, hadiah yang berupa segenap jiwa dan raga kita. Tidak ada kurban yang akan hilang, karena kurban sekarang akan bangunlah tanah air dimasa datang, lebih besar dan lebih makmur daripada tanah air dimasa yang lampau.

Oleh karena tak ada kurban yang hilang percuma, marilah berjuang, bersiap menderita kesukaran, hingga bangsa kita sampai menjadi bangsa yang merdeka. Hal 204, (buku Muhammad Hatta, Kumpulan Karangan, pada bab PEMUDA. Disampaikan pada pidato di lapangan ikada, tgl 11-9-1944).

Dalam sejarah tiap-tiap bangsa yang lama tertindas, pemudalah yang menjadi pelopor, perintis jalan menuju perbaikan nasib bangsa. Tidak lain suratan hidup pemuda indonesia! sejarah kita dimasa yang lalu menyatakan, bahwa gerakan pemuda boleh ditulis dengan tintas emas.

Pemuda disekolah dokter di jakarta yang pertama kali membuka jalan kepada gerakan kebangsaan, yeng bermula dengan Budi Utomo. Kemudian, pemuda lagi dari luar negeri yang berkumpul dalam perhimpunan indonesia, yang menuntut terang indonesia merdeka, dan menjadi pelopor pergerakan nasional yang hebat.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa, pemuda hati nurani bangsa, pemuda pembawa perubahan lebih baik, pemuda calon tampuk pimpinan umat dan negara di masa depan.

Bangunlah jiwanya bangunlah badannya.

Wahai pemuda, bersatulah dan hiduplah dengan gotong royong.

Indonesia Merdeka hingga akhir zaman.

Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.