Senin, Mei 17, 2021

Membincang kembali Islam Nusantara dan Tawaran Islam Masa Kini

Wiliam James dan Emosi Beragama Kita

Menawarkan pemikiran agama dari masa ke masa telah diwarnai oleh beberapa pemikir dari lintas zaman. Mereka menelaah detail-detail agama yang dirawat oleh kelompok sosial...

Mas Tommy Mongabay yang Saya Kenal

Saat awal mula saya dan kawan-kawan mahasiswa live in di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo untuk menolak PT. Rayon Utama Makmur (RUM) karena limbah udara...

Menuju Tujuh Besar Ekonomi Dunia melalui Dana Desa dan Dana Kelurahan

Tahun 2019, Pemerintah anggarkan dana kelurahan sebesar 3 Triliun. Pada hari Jumat tanggal 2 November 2018, Presiden Joko Widodo, dalam rapat terbatas yang dilaksanakan...

Bagaimana Nasib Piala Dunia 2022 Pasca-Krisis Qatar?

Ketegangan politik regional menerpa kawasan Teluk. Qatar beberapa waktu lalu secara sepihak diputuskan hubungan diplomatiknya oleh Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Libya,...
Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Istilah Islam Nusantara yang sering digaungkan memiliki daya tarik tersendiri. Islam Nusantara adalah upaya memperkenalkan Islam yang menghargai tradisi dan budaya lokal. Menghargai tradisi lokal merupakan langkah menghidupkan Islam secara kontekstual. Kita sama menyadari bahwa tradisi adalah produk masa lalu. Masa lalu penting dijadikan pertimbangan tetapi bukan tujuan utama. Terlalu larut membatasi diri dalam frame “ tradisi nusantara” akan membawa pada laku Islam masa lalu. Padahal yang dibutuhkan adalah Islam masa kini.

Hal yang perlu disadari adalah tradisi yang telah dimodifikasi dengan ajaran Islam, bukan berarti menjadi pahatan monumen yang tak bisa lagi mengalami perubahan. Di sini yang diperlukan adalah kesadaran untuk terbuka jika pada saatnya model tradisi dan ritual yang telah dijalankan perlu dikritisi dan dikreasi mengikuti pola perkembangan. Tanpa kesadaran ini kita kembali terjebak pada kekakuan dalam beragama. Tentu, hal ini tak ada bedanya dengan kelompok ekstrimis yang fanatik berlebihan dengan ideologi kelompoknya.

Hal lain yang perlu diperbincangkan dari Islam Nusantara adalah lokalitas. Nusantara harus dilihat sebagai sebuah keragaman yang tidak hanya terpaku pada tradisi dan nilai lokalitas satu daerah tertentu. Semangat ini sebenarnya sesuai dengan yang didefinisikan oleh Ahmad Baso dalam bukunya “Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma Ulama Indonesia” bahwa Islam Nusantara merupakan cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.

Hanya saja ada kelatahan sehingga cenderungnya istilah ini hanya representasi dari nilai dan tradisi lokal satu daerah yang berusaha diekspansikan atau diekspor ke mana-mana. Bahkan istilah ini lebih dianggap jargon sebuah ormas kegamaan tertentu untuk membedakan dengan semangat Islam dari ormas keagamaan lain. Sadar atau tidak, sikap yang ada adalah memaksakan satu produk untuk dikonsumsi oleh semua kalangan. Begitu juga, di luar nalar ketika ada kalimat bernada semangat “Islam Nusantara harus diinternasionalkan”. Jika tidak berhati-hati, pernyataan ini akan menjadi senjata makan tuan atas penolakan universalitas Islam yang jelas-jelas hanyalah sebuah bentuk “nonsense”. Sebabnya adalah konteks partikular merupakan sebuah keniscayaan dalam kontekstualisasi ajaran Islam.

Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan beragam sejarah kulturnya masing-masing. Islam Nusantara yang selama ini diperkenalkan seakan belum menyentuh pada aspek budaya dan tradisi yang lebih luas. Secara historis, agama dan kepercayaan sebelum Islam di nusantara amat beragam dan berbeda di setiap daerah. Sebagai contoh, agama yang berkembang di Jawa sebelum Islam adalah agama Hindu dan Budha. Di daerah lain, sebelum agama-agama resmi yang diakui negara, telah ada agama-agama asli nusantara. Di Bali dikenal Hindu Bali atau Dharma, Sunda Wiwitan di Kanekes Banten, Agama Djawa Sunda di Kuningan dan Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Parmalim di Sumatra Utara, Kaharingan di Kalimantan, Tonaas Walian di Minahasa, Tolottang di Sulawesi Selatan, Wetu Telu di Lombok, Naurus di Maluku, Marapu di Sumba, Koda kirin di Pulau Adonara , Flores Timur dan NTT dan sebagainya.

Sebagian agama ini dan kepercayaan yang masih banyak di daerah lain kemudian disebut ajaran animisme dan dinamisme. Setelah itu, nusantara kemudian mengenal agama impor dari luar yaitu Hindu, Budha, Katolik, Kristen Protestan dan Islam. Kepercayaan dan agama akan berinteraksi dengan nilai lokalitas dan mengalami perkembangan sehingga menghasilkan tradisi dan kultur yang berbeda. Jika menggunakan istilah Islam Nusantara maka tentu nilai-nilai lokalitas dan kultur yang ada dan diadopsi, akan berbeda di setiap daerah.

Pertanyaan yang harus diajukan kembali, “apakah Islam Nusantara dilihat sebagai produk atau metode”? Jika hanya sebagai produk maka yang ada adalah kegagapan dan kegagalan melihat realitas keragaman di belahan wilayah nusantara itu sendiri. Namun jika Islam Nusantara posisikan sebagai sebuah metode memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam, mungkin pengertian kedua ini yang dimaksud ingin menginternasionalkan (metodologi) Islam Nusantara, maka yang perlu dilakukan adalah pertama, kembali menyadari akan ragam nilai tradisi lokal di bumi Nusantara.

Kedua, keragaman ini tidak harus dipaksakan untuk sama tetapi dibiarkan menjadi bahan adonan yang perlu diaduk dalam wadah kedaerahan masing-masing dan dicetak dengan bingkai ideologi Pancasila. Tradisi, karakter dan nilai kedaerahan tetap ada tetapi punya visi yang sama yaitu Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa ini.

Islam masa kini harus menggunakan perangkat Pancasila sekaligus mempertimbangkan nilai lokalitas masing-masing dalam rangka aplikasi pada konteks kini. Pancasila bukan barang baru, tetapi lahir dari nilai-nilai kenusantaraan yang panjang sekaligus memiliki ide-ide yang ingin diperjuangkan ke depan. Kelima kata kunci Pancasila, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan, adalah landasan pokok untuk mengaplikasikan Islam pada konteks keindonesiaan. Ini adalah cita-cita hidup yang harus diamalkan dalam konteks beragama dan berbangsa dengan satu tarikan nafas. Dalam penafsiran Al-Quran pun demikian, Pancasila harus menjadi wadah dalam mengaktualkan nilai-nilai Al-Quran (Baca juga dalam http://www.nu.or.id/post/read/68727/paradigma-pancasila-dalam-tafsir-alquran). Inilah Islam Pancasila, yang dibutuhkan pada konteks keindonesiaan zaman now.

Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.