Selasa, Januari 20, 2026

Membaca Revolusi dari Banyak Arah

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
- Advertisement -

Menyelesaikan sebuah buku sejarah setebal 660 halaman bukanlah perkara ringan, apalagi jika buku itu tidak menawarkan narasi hitam-putih yang nyaman. Pada Selasa, 13 Januari 2026, saya menutup halaman terakhir Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern karya David Van Reybrouck dengan perasaan campur aduk: lelah, tercerahkan, sekaligus diganggu oleh banyak pertanyaan. Buku ini tidak sekadar mengisahkan periode revolusi Indonesia (1945–1949), tetapi juga mengguncang cara kita—khususnya generasi milenial akhir, Gen Z, dan bahkan Gen Alpha—dalam memahami sejarah.

Van Reybrouck, sejarawan Belgia berbahasa Belanda (Flanders), menulis sejarah Indonesia dari spektrum yang jarang disentuh secara serius dalam historiografi populer kita. Sebagai pembaca, saya justru paling menikmati caranya menempatkan diri bukan semata sebagai akademisi, tetapi sebagai pencerita yang mengajak kita melihat sejarah dengan mata dan perasaan manusia.

Ia tidak berbicara dari menara gading arsip semata, melainkan mengajak pembaca ikut berjalan di lorong-lorong gelap masa lalu, merasakan kebingungan, ketakutan, dan harapan orang-orang biasa yang hidup di dalamnya. Ia tidak hanya mengutip arsip negara atau memoar elite politik, tetapi juga menghadirkan suara tentara berpangkat rendah, warga sipil desa, mantan tentara Jepang, serdadu Inggris dan Gurkha, hingga orang-orang Belanda biasa yang terjebak dalam pusaran perang dan transisi kekuasaan. Dengan pendekatan ini, revolusi tidak lagi tampak sebagai deretan tanggal dan tokoh besar, melainkan sebagai pengalaman manusia yang konkret, rapuh, dan sering kali ambigu.

Metafor kapal ini juga memudahkan saya, sebagai pembaca, memahami perubahan rezim tanpa harus terjebak pada istilah teknis yang kering. Ketika Jepang datang, misalnya, struktur kapal itu tidak runtuh begitu saja. Dek pertama hanya berganti penghuni: dari orang Eropa ke orang Jepang. Hirarki tetap ada, meskipun wajah penguasanya berubah. Baru pada masa awal kemerdekaan, kapal itu mulai berguncang. Batas antar-dek tidak serta-merta lenyap, tetapi mulai dipertanyakan dan digoyahkan.

Bagi pembaca Indonesia, pendekatan semacam ini terasa sekaligus menyegarkan dan mengusik. Selama ini, narasi revolusi cenderung dibingkai secara heroik dan nasional-sentris. Kita dibesarkan dengan kisah para pahlawan, pidato-pidato monumental, dan kemenangan moral melawan kolonialisme. Semua itu tentu penting sebagai fondasi kebangsaan. Namun, Van Reybrouck mengajak kita melangkah lebih jauh: melihat bahwa revolusi juga dipenuhi ketakutan, kekerasan yang tak selalu terkontrol, dilema etis, dan pilihan-pilihan kecil individu yang sering luput dari buku pelajaran.

Salah satu kekuatan utama yang membuat pendekatan humanis ini bekerja adalah penggunaan metafor. Van Reybrouck, misalnya, menggambarkan masyarakat kolonial Hindia Belanda seperti sebuah kapal besar dengan pembagian dek yang kaku. Dek pertama dihuni orang Eropa, dek kedua ditempati kelompok Timur Asing, dan dek ketiga diisi oleh penduduk pribumi atau Inlander. Setiap dek memiliki batas sosial yang tegas—tidak mudah dilintasi—dan menentukan akses pada pendidikan, keamanan, serta martabat. Metafor ini sangat membantu imajinasi pembaca masa kini. Kita bisa membayangkan bagaimana hidup di ruang sempit dek bawah, sementara dek atas menikmati udara segar dan pandangan luas.

Yang menarik, buku ini tidak menempatkan satu kelompok sebagai pusat semesta sejarah. Orang Indonesia tidak selalu digambarkan sebagai korban pasif atau pahlawan sempurna; orang Belanda tidak semata-mata penindas tanpa wajah; tentara Jepang tidak hanya antagonis; dan pasukan Sekutu tidak selalu penyelamat. Semua hadir sebagai manusia dengan latar belakang, kepentingan, dan keterbatasan masing-masing.

Perspektif semacam ini penting bagi generasi muda yang hidup di era banjir informasi, polarisasi opini, dan algoritma media sosial yang gemar menyederhanakan realitas.Bagi milenial akhir dan Gen Z, yang sebagian besar mengenal sejarah lewat potongan konten digital, buku ini menawarkan pelajaran metodologis yang berharga: sejarah perlu dibaca secara multiperspektif. Tidak cukup bertanya “siapa yang benar” atau “siapa yang menang”, tetapi juga “siapa yang mengalami”, “siapa yang bersuara”, dan “siapa yang dilupakan”.

Dalam konteks ini, sejarah menjadi ruang dialog, bukan monolog negara atau ideologi tertentu.Refleksi personal saya juga semakin kuat ketika Van Reybrouck membagi fase-fase awal kemerdekaan Indonesia dengan penamaan yang tidak lazim, tetapi justru sangat komunikatif. Ia menyebut 1946–1947 sebagai “tahun Inggris”, 1947–1948 sebagai “tahun Belanda”, 1948 hingga awal 1949 sebagai “tahun PBB”, dan fase menjelang pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949 kembali sebagai “tahun PBB”. Pembabakan ini membuat saya sadar bahwa kemerdekaan Indonesia bukan satu momen tunggal yang selesai pada 17 Agustus 1945, melainkan proses berlapis yang terus dinegosiasikan di tengah tarik-menarik kekuatan global.

Relevansinya kian terasa ketika kita kaitkan dengan kondisi Indonesia hari ini. Perdebatan soal identitas, nasionalisme, dan ingatan kolektif masih terus berlangsung. Cara kita memahami masa lalu sangat memengaruhi cara kita bersikap di masa kini. Jika sejarah hanya dipahami sebagai alat legitimasi politik atau sumber kebanggaan semata, maka kita berisiko mengulang kesalahan yang sama.

- Advertisement -

Sebaliknya, dengan membaca sejarah secara lebih manusiawi dan berlapis, kita belajar empati, kehati-hatian, dan kesadaran bahwa kemerdekaan adalah proses yang mahal dan kompleks. Bagi Gen Alpha, yang kelak akan mewarisi narasi sejarah ini, tantangannya justru lebih besar. Mereka tumbuh di dunia yang semakin global, di mana batas-batas nasional terasa lebih cair, tetapi konflik identitas tetap nyata. Buku seperti Revolusi menunjukkan bahwa sejarah Indonesia sejak awal sudah bersifat global: melibatkan aktor internasional, kepentingan geopolitik, dan arus ide yang melampaui batas wilayah.

Dengan demikian, menjadi Indonesia tidak berarti menutup diri dari dunia, melainkan memahami posisi kita di dalamnya.Refleksi itu mencapai puncaknya ketika Van Reybrouck membahas Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Ia tidak hanya memotretnya sebagai peristiwa diplomatik, tetapi sebagai momen ketika “semangat Bandung” menyebar ke berbagai belahan dunia dan menginspirasi negara-negara Dunia Ketiga untuk melepaskan diri dari kolonialisme. Sebagai pembaca Indonesia, bagian ini menghadirkan rasa bangga yang tenang—bukan euforia kosong—karena ditempatkan dalam konteks global yang luas. Indonesia tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi simpul penting dalam sejarah dunia pascakolonial.

Sejarah, seperti yang ditunjukkan Van Reybrouck, bukan milik mereka yang paling lantang bersuara, melainkan milik semua yang pernah hidup dan mengalami. Tugas kita hari ini adalah menjaga agar suara-suara itu tidak kembali tenggelam, sekaligus memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi ingatan yang kritis, inklusif, dan manusiawi.

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.