Sabtu, Juli 13, 2024

Membaca dan Menjadi Freire

Ahmad Amin Sulaiman
Ahmad Amin Sulaiman
Alumni Flinders University, Australia yang sehari-hari berprofesi sebagai Dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Membaca Pendidikan Kaum Tertindas bukan perkara mudah. Seringkali rekan-rekan diskusi menyatakan hal itu, ”Mas, saya bingung dengan persoalan-persoalan yang dibahas Freire. Saya selalu seperti berjalan jauh untuk kemudian tersesat, entah sudah tiba dimana. Ketika saya memutuskan memutar, maksud saya, membaca kembali, ternyata tidak juga saya pahami Buku ini.”

Jika rekan diatas menemukan Freire seperti sebuah belantara makna yang luas, seorang rekan lainnya menjumpai Freire seperti seorang filsuf yang hidup di alam lain. Aristoteles dan Plato hingga Kant dan Popper telah menjadi sangat familiar bagi dirinya, namun Freire adalah sesuatu yang sepenuhnya asing. Pemikiran Freire seperti mengandung ‘perspektif’ yang jarang dijumpai dalam literatur-literatur yang ia baca selama ini.

Rekan-rekan lain, yang mayoritas, kesulitan memahami Buku ini karena bahasa Freire. “Saya bingung terdapat banyak istilah-istilah yang baru saya kenal. Apa itu golongan kiri dan golongan kanan? Mengapa masing-masing dijuluki demikian?” Untuk yang terakhir ini saya sangat bisa bersimpati. Sebab, hal ini juga yang saya rasakan sekitar delapan tahun lalu ketika pertama kali membacanya.

Membaca Berarti Melawan

Membaca seringkali dipahami sebagai mengenali bagaimana susunan huruf, kata dan paragraf menjadi bermakna. Untuk itu seorang pembaca harus sebelumnya mampu memahami bunyi yang diproduksi dari kombinasi huruf-huruf, lalu kemudian menghubungkan bunyi itu dengan makna yang tersimpan dalam ingatan. Huruf-huruf B, O, L dan A yang dibaca ‘Bola’ segera dimaknai sebagai benda bulat yang dimainkan dengan ditendang atau dipukul (tergantung apakah memori yang dominan adalah sepak bola, atau bola voli).

Membaca dalam konteks ini sangat bergantung kepada keterampilan baca dan wawasan seorang pembaca. Semakin ia dewasa, memiliki pengetahuan atau pengalaman yang berkaitan dengan yang dibaca, maka semakin mudah baginya untuk memahami kandungan dari bacaan. Dalam hal Paulo Freire, tema-tema dan referensi yang dirujuk dalam Pendidikan Kaum Tertindas termasuk kurang populer dan bahkan berseberangan dengan pengetahuan dominan.

Misalnya saja, Freire menganggap pengetahuan dan pendidikan tidak pernah bebas nilai. Keduanya selalu mengandung kepentingan tertentu; baik itu humanisasi atau kontradiksinya yakni dehumanisasi. Objektivitas dan netralitas bagi Freire hanya retorika kosong. Manusia tidak mungkin lari dari subjektivitas dan sebagai makhluk berkesadaran mereka selalu memiliki intensi atau maksud dalam pikiran dan perilakunya.

Dalam hal rujukan juga Freire memiliki kecenderungan kepada para sarjana kritis pelawan arus. Sebut saja Erich Fromm, Georg Friedrich Hegel hingga Frantz Fanon yang menginspirasi buku Pendidikan Kaum Tertindas. Mereka sangat langka kita temukan dalam kelas-kelas. Belum lagi bila menyadari bahwa mereka sering diasosiasikan dengan gerakan progresif yang bertabrakan dengan logika kapitalis yang dominan di kurikulum kita.

Meski demikian, yang paling penting dari diskusi kami dengan rekan-rekan pembaca Paulo Freire adalah memahami bahwa membaca Freire tidak bisa dilakukan hanya dengan membaca dalam makna tradisional. Bahwa membaca tidak sekedar untuk memperoleh informasi yang tertulis. Melampaui itu, membaca adalah tindakan menjadi manusia.

Sebab, dalam ‘membaca’ karya Freire, kita dituntut untuk menyadari situasi sekitar dan diri kita sendiri. Membaca Freire adalah proses refleksi atas kehidupan, yang senyatanya mengandung tindakan-tindakan penindasan yang melanggar sifat-sifat kemanusiaan kita. Tidak lupa bahwa membaca Freire adalah proses interogasi diri, mempertanyakan dimana posisi kita dihadapan kesadaran kita akan dehumanisasi yang sedang terjadi.

Melalui pembacaan kita kepada Freire kita disadarkan bahwa kita barangkali sedang dirugikan atau malah diuntungkan oleh ketidakadilan. Namun bukan kondisi sekarang saja yang penting, namun tindakan kita yang berikutnya. Apakah kita akan turut bergerak untuk memastikan kebebasan bagi semua orang, atau diam saja?

Jangan sampai salah, pilihan kedua tidak bermakna netral. Justru diam sama saja dengan mendukung penindasan. Sebab, berdiam diri di hadapan penindasan berarti mengizinkan penindasan itu terus berlangsung. Maka membaca Freire akan mengungkapkan kepada kita akan komitmen kita terhadap kemanusiaan. Sejauh mana pembacaan kita tidak hanya bermuara pada suatu kesadaran bahwa penindasan itu ada, namun juga bahwa kita bekerja untuk melawan situasi demikian.

Menjadi Freire

Disini tidak dimaksudkan bahwa pembacaan buku Pendidikan Kaum Tertindas harus bermuara kepada transformasi diri menjadi seorang individu bernama Freire. Hal ini akan bertentangan dengan maksud dan tujuan Freire karena menciptakan pengagungan pada Freire yang sejatinya manusia seperti kita. Pun yang lebih dikhawatirkan Freire adalah dalam glorifikasi berlebihan pada pribadinya itu, adalah kegagalan kita untuk menemukan kelemahan atau kekeliruan yang sulit dihindarinya.

Pembaca yang menjumpai kerendahan hati Freire itu juga akan sadar bahwa hal itu merupakan bentuk konsistensi dari sikapnya atas pengetahuan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sikap kritis itu juga berlaku kepada dirinya sendiri. Kita sebagai pembaca Freire harus menyadari bahwa buku yang ditulis separuh abad lalu di tanah amerika latin pasti memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan konteks yang kita miliki (Indonesia dan Islam).

Meski demikian memang benar bahwa terdapat banyak hal yang beresonansi diantara konteks Freire dengan konteks kita. Bahwa penindasan, alienasi manusia, dan tindakan antidialogis merupakan sesuatu yang sifatnya universal melampaui geografi dan kurun zaman tertentu. Bahwa permasalahan itu terjadi dimana-mana dan membutuhkan respon kita selaku umat manusia yang satu untuk mengatasinya.

Maka membaca dan menjadi Freire, secara paradox, adalah membaca dan menjadi bukan Freire. Sebab, ketimbang menjelma menjadi seorang pria tua Brazil berjanggut putih tebal, sejatinya kita menjelma menjadi diri kita sendiri; yang sejati, yang kita lupakan, yang terdesak dan terpinggirkan oleh cengkraman rutinitas dan mekanisasi kehidupan.

Proses pembacaan ini mengarahkan kepada pengungkapan dan penerimaan sifat-sifat dasar kita sebagai manusia. Sifat-sifat itu sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya merupakan bagian penting dalam diri kita. Maka, konsekuensi paling awal dari pembacaan atas Freire seharusnya adalah afirmasi sisi-sisi kemanusiaan kita.

Pada akhirnya, membaca Freire dan buku Pendidikan Kaum Tertindas merupakan proses untuk kembali menjadi diri kita yang autentik. Hal ini tidak sesederhana yang bisa dipikirkan. Ia bukan pekerjaan yang satu malam usai dilakukan hanya dengan dibacanya halaman terakhir buku itu. Justru perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang panjang yang mungkin bagi hampir semua dari kita sedang kesulitan mengingat jalan pulang.

Demikianlah, membaca Freire bukan sekedar membaca apa yang dituliskannya. Namun membaca dunia dimana Freire hidup, dan membaca dunia kita kini. Dalam pembacaan itu jangan sekali-kali kita sampai melupakan bahwa ada diri yang sedang membaca, yang memberi dan menguasai makna. Suatu diri yang memiliki kapasitas untuk mengubah dunia.

Ahmad Amin Sulaiman
Ahmad Amin Sulaiman
Alumni Flinders University, Australia yang sehari-hari berprofesi sebagai Dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.