Sabtu, Mei 8, 2021

Melihat Tingkah Generasi Milenial dan Netizen di Media Sosial

Mempertanyakan Keberadaan

http://www.chrisakins.com/wp-content/uploads/2014/12/self-reflection.jpgSebuah ungkapan kegelisahan yang terus-menerus muncul dalam sebuah pikiran yang meragukan segala sesuatu. Itulah dasar di mana Descartes mempertanyakan keadaan “Co geto Ergo Sum”...

Politik Paranoid dan Persatuan Bangsa Indonesia

Pasca jatuhnya Bung Karno akibat kudeta merangkak Soeharto dan kawan-kawan, yang disokong CIA (Central Intelligence Agency). Politik penuh keberanian, yang anti imperialisme, anti kolonialisme,...

Nasib WNI Eks ISIS, Dilema Keamanan Atau Kemanusiaan?

Presiden Joko Widodo telah menyatakan sikap atas nasib warga negara Indonesia yang pernah bergabung dengan Islamic State of Irak Suriah atau yang lebih akrab...

Menciptakan Permukiman Perkotaan Berkelanjutan

Permukiman kumuh masih menjadi masalah serius di perkotaan. Kantung-kantung permukiman kumuh masih banyak dijumpai di beberapa titik seperti di bantaran sungai, di pinggiran perlintasan...
Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.

Siang itu begitu terik, kopi di meja yang dipesan beberapa menit lalu sudah tidak lagi menarik perhatian, sebab kopi tersebut sudah dingin karena saya –seperti orang-orang lainnya di kafe itu–sibuk memainkan gawai yang memberikan hiburan seru di dalamnya.

Beberapa menit kemudian datang seorang pemuda dari arah kiri, dengan memakai baju kemeja hitam yang begitu rapi dan menenteng tas kecil di tangan kanannya. Itulah ia si selebtweet dan selebgram kita.

Mudah untuk mengenali pemuda ini dari perawakan yang unik dan mukanya yang tidak pasaran. Ia duduk sembari matanya tetap terfokus ke layar gawai. Di media sosial twitter, saya melihat orang ini begitu riang gembira, lucu dan tampak seperti pribadi yang hangat. Berbeda sekali dengan apa yang sedang saya lihat sekarang, ia tampak begitu kesepian, ringkih, seperti terasing, dan tidak mempunyai teman untuk diajak bicara empat mata.

Apakah orang ini merupakan representasi dari generasi milenial yang begitu riuh dan ramai di media sosial tetapi begitu terasing dan kesepian di dunia nyata? Saya tidak tahu. Tetapi setidaknya kita bisa memberikan jawaban tersendiri untuk pertanyaan macam ini, bukan?

 

Budaya Menertawakan Orang Lain

Akui saja, menertawakan orang lain di media sosial adalah hal seru, bukan? Entah itu menertawakan teman sendiri atau menertawakan orang lain bahkan yang tidak pernah kita kenal sekalipun.

Dalam batas-batas tertentu, menertawakan sesuatu, bisa jadi hiburan-hiburan yang segar untuk kehidupan yang terlalu serius dan membosankan. Di zaman begini, di mana lagi kita harus mencari hiburan-hiburan selain di media sosial yang menyajikannya dengan sangat beragam?

Masalahnya baru muncul apabila kita lupa akan posisi kita sendiri. Menertawakan sesuatu hal yang lucu adalah hal yang etis, tetapi bagaimana dengan ketika menertawakannya sudah melewati batas? Dan membuat orang yang ditertawakan secara berjamaah di media sosial itu jadi tertekan?

Akui sajalah, mereka yang suka menertawakan orang lain secara ekstrem, yang dimamahbiakkan oleh selebtweet yang terhormat itu, sejatinya adalah untuk menutup fakta bahwa kehidupan mereka sebenarnya juga menyedihkan. Jadi mereka butuh hiburan.

Budaya Main Keroyokan, Berpikiran Dangkal dan Mudah Tersinggung

Di media sosial di abad yang sangat beradab ini, sering terjadi fenomena keroyokan virtual, bagaimana tidak, ketika ada sedikit  tulisan, postingan atau video yang menyinggung pihak tentu–yang-nama-tidak-boleh-disebutkan-itu—harus bersiap menerima azab caci maki dan bully dari segala penjuru.

Tak kurang bahasa-bahasa binatang terkadang ikut disertakan dalam parade ini. Entah di facebook atau twitter,  nampaknya sama saja. Sering juga ada seruan boikot-boikot kepada pihak berbeda pandangan politik atau agama yang nampaknya kalau kita berpikiran jernih, tidak masuk akal sama sekali.

Yang penting menambah segala keseruan bersosial media, orang yang jadi korban bisa kehilangan pekerjaan, bahkan ada pula yang mengeluarkan daftar nama target-target mereka apabila terjadi pergantian kepemimpinan. Betapa mengerikan!

Media sosial yang mula jadi tempat bersosialisasi, bertemu kawan lama, atau sekadar tempat mencari jodoh, makin ke sini seperti berubah fungsi menjadi tempat menghasut, provokasi dan menebar kebencian.

Alamak. Jika di facebook tampak seperti tempat berkembangbiaknya berita-berita hoaks nan provakatif, twitter adalah tempat bercongkolnya sarang pem-bully yang dengan gagah dan beramai-ramai mengajak pengikutnya mengamini postingannya.

Seharusnya yang bersuluk di timeline twitter itu lebih bijaksana dan menahan diri ketika menanggapi suatu hal. Tetapi apa boleh bikin! Kita semua butuh hiburan dan itu jadi sebuah dilema pula.

Semoga ini tidak berlanjut semakin parah, saya yakin di samping itu, banyak juga timbul generasi millenial yang cerdas yang bisa memilah mana baik dan mana buruk. Tabik!

Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.