Keris, Logika, dan Martabat Kebudayaan
Sering kali seorang pecinta keris dipandang sebelah mata—dianggap kuno, kolot, bahkan tertinggal di tengah zaman yang serba digital. Namun ada ironi besar di balik anggapan itu. Mengapa kecintaan pada keris disamakan dengan ketidakrasionalan, padahal justru di dalamnya terkandung logika, kecerdasan, dan kedalaman peradaban?
Mencintai keris bukanlah romantisme buta terhadap masa lalu. Ia adalah penghormatan terhadap akal budi manusia yang bekerja dengan presisi, intuisi, dan kesadaran budaya.
1. Keris sebagai Puncak Logika Metalurgi
Mereka yang menyebut keris “kuno” mungkin lupa bahwa keris adalah salah satu bukti kecanggihan sains Nusantara.
Secara teknis, keris merupakan mahakarya metalurgi tradisional. Proses tempa berlapis—yang menghasilkan pamor—melibatkan pencampuran besi, baja, bahkan unsur nikel yang pada beberapa bilah berasal dari meteorit. Proses pelipatan logam hingga ratusan bahkan ribuan lapisan dilakukan tanpa laboratorium modern, tanpa mesin industri, hanya dengan pengetahuan empiris yang diwariskan lintas generasi.
Apakah itu sihir? Tidak. Itu adalah logika sains yang bekerja dalam kerangka tradisi.
Setiap lekuk (luk) dan bentuk (dhapur) bukan sekadar ornamen. Ia memiliki komposisi, proporsi, dan keseimbangan yang presisi. Ada perhitungan, ada rasa ukur, ada kesadaran estetika yang matematis. Mencintai keris berarti menghargai kecerdasan teknik yang lahir jauh sebelum istilah “rekayasa material” dikenal di bangku kuliah modern.
2. Budaya adalah Fondasi, Bukan Penjara
Menjadi modern tidak berarti menjadi manusia yang tercerabut dari akar sejarahnya. Modernitas tanpa fondasi budaya justru melahirkan kekosongan identitas.
Peradaban besar selalu dibangun di atas kesadaran sejarah. Menghargai keris bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan memahami proses panjang yang membentuk siapa kita hari ini. Itulah logika identitas.
Sering kali pula, yang disebut “kolot”—seperti tata krama, laku batin, atau disiplin diri—sebenarnya adalah bentuk manajemen diri yang rasional. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan mengendalikan diri, menata batin, dan menjaga adab adalah kecerdasan psikologis yang sangat relevan.
Budaya tidak mengurung. Ia justru memberi kerangka agar manusia tidak tercerai-berai oleh arus zaman.
3. Gugatan terhadap Modernitas yang Dangkal
Ada keganjilan ketika masyarakat begitu mudah menerima segala sesuatu dari luar sebagai simbol kemajuan, tetapi mencurigai warisan sendiri sebagai takhayul atau kesyirikan.
Sebagian mungkin menilai keris hanya dari permukaannya. Padahal, bagi yang memahaminya secara jernih, keris adalah wasilah—sebuah medium budaya, bukan objek penyembahan. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah simbolik: pengingat tentang keberanian, tanggung jawab, kehormatan, dan jati diri.
Jika ada yang perlu dipertanyakan, mungkin justru modernitas yang dangkal—yang membuat manusia lebih menghamba pada teknologi, kehilangan empati, dan terasing dari akar budayanya sendiri. Bukankah ketergantungan tanpa kesadaran juga bentuk ketidakrasionalan?
Sintesis: Spiritual yang Tetap Rasional
Mencintai keris tidak membuat seseorang berhenti berpikir logis. Justru sebaliknya: itu adalah kesadaran bahwa benda fisik dapat memuat nilai, sejarah, dan doa yang membentuk karakter manusia.
Rasionalitas tidak harus kering dari makna. Spiritualitas tidak harus bertentangan dengan akal sehat. Keduanya dapat berjalan berdampingan—seperti bilah dan warangka—saling melengkapi dan memberi bentuk.
Aku bukan manusia kuno yang terjebak masa lalu.
Aku adalah manusia modern yang cukup cerdas untuk memahami bahwa masa depan tidak akan bermakna tanpa menghormati logika dan kearifan para leluhur.
