Minggu, Mei 16, 2021

Melawan Stigma dan Diskriminasi Disabilitas Era Jokowi

Kemerdekaan yang Terakhir

Siapa manusia yang enggan untuk merdeka? Saya rasa tidak ada manusia yang tidak mau menjadi manusia yang merdeka. Menjadi merdeka berarti dapat meraih kesejahteraan,...

Tragedi CFD Jakarta dan Limbah Demokrasi yang Kian Pekat

Secara sederhana demokrasi memberi kesempatan pada tiap individu untuk berbicara dan mengungkapkan pandangan dihadapan umum. Pengertian sederhana ini memberi kebebasan bagi individu yang celakanya...

Ibu Megawati dan Model Politik Ibu Rumah Tangga

Penilaian terhadap Megawati Soekarnoputri semestinya tidak terbatas pada masa kepresidennya yang hanya setengah periode, tetapi dilanjutkan dengan kepemimpinannya pada sebuah partai yang saat ini...

Ketika Gusdurian ‘Menggugurkan’ Manuver Politik Ijtima Ulama

Lenyap sudah ‘kebisingan’ politik forum ijtima ulama di ruang-ruang diskusi publik, liputan media massa maupun obrolan hangat warganet di sosial media. Padahal sebelumnya, munculnya...
Athaya Saraswati
Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Tak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang menganggap disabilitas adalah sebuah aib yang memalukan. Keluarga dan kerabat penyandang disabilitas pun sering tidak terbuka terhadap lingkungan disekitarnya. Hal inilah yang membuat para penyandang disabilitas sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya.

Penyandang disabilitas selalu diidentikkan dengan orang sakit yang harus selalu dirawat dan dikasihani. Stigma masyarakat pun muncul bahwa kaum disabilitas adalah mereka yang selalu menggantungkan hidupnya kepada orang lain, tak bisa berdiri di kakinya sendiri hingga membuat mereka terlepas dari belenggu pendidikan dan pekerjaan. Tak jarang, mereka dianggap sebagai beban, baik di keluarga maupun di lingkungan sekitarnya.

Diskriminasi disabilitas menurut saya terlahir karena kesalahan masyarakat dalam memahami arti disabilitas itu sendiri. Gengsi yang tinggi membuat para disabilitas dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri. Banyak yang menganggap bahwa disabilitas itu hanya perlu dikasihani. Padahal, mereka sebenarnya hanya membutuhkan support dari keluarga dan lingkungan sekitarnya agar mereka dapat mandiri selayaknya warga Negara Indonesia lainnya.

Stigma-stigma tentang disabilitas itu memang tak pernah bisa sepenuhnya dihilangkan dari benak masyarakat. Namun, setidaknya diskriminasi itu secara perlahan berkurang seiring dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Masyarakat pun perlahan mulai melek akan kesetaraan dan keadilan hak asasi manusia.

Dalam UU Nomor 8 Tahun 2016, telah dijelaskan bahwa penyadang disabilitas mempunyai kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Mereka diberikan kesempatan yang sama dalam segala hal untuk menyalurkan potensi ke dalam segala aspek penyelenggaraan Negara dan masyarakat. Aksesibilitas untuk mewujudkan kesamaan kesempatan itu pun dijanjikan untuk disediakan oleh Negara.

Pasal-pasal dalam UU tersebut akhirnya sedikit demi sedikit mulai dijalankan oleh instansi dan lembaga terkait. Di tingkat perguruan tinggi misalnya, ada empat kampus di Indonesia yang telah berkembang menjadi pelopor kampus ramah disabilitas. Kampus-kampus tersebut diantara lain adalah UIN Sunan Kalijaga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya, dan Politeknik Negeri Jakarta.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak kampus-kampus di Indonesia-baik negeri maupun swasta-yang mulai berkembang menjadi kampus ramah disabilitas. Kampus-kampus tersebut mulai menggalakkan pembangunan fasilitas yang dapat memudahkan aksesibilitas para penyandang disabilitas. Mulai dari pengadaan lift dengan tombol braille, tangga ramah disabilitas, perpustakaan, toilet, dan fasilitas lain yang selayaknya diterima oleh seorang mahasiswa.

Gencarnya pembangunan fasilitas dan persiapan kampus untuk menyambut penyandang disabilitas di perguruan tinggi pun harus diboncengi dengan kesiapan mahasiswa aktif kampus tersebut untuk menerima penyandang disabilitas sebagai bagian dari mereka. Mahasiswa sebagai orang pertama yang akan berinteraksi secara langsung dengan para penyandang itu harus mempunyai empati untuk menerima para disabilitas sebagai bagian dari mereka. Tak sepatutnya ada kasus bullying bahkan diskriminasi yang muncul akibat stigma negatif yang ada pada benak para mahasiswa.

Selain UU Nomor 8 tahun 2016, Pemerintah Republik Indonesia juga mengeluarkan peraturan Nomor 52 tahun 2019 tentang penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Bagi penyandang disabilitas, yang ditetapkan oleh Presiden Jokowi pada Juli 2019. Ketetapan tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, menjamin pelaksanaan fungsi sosial dan meningkatkan kesejahteraan sosial yang bermartabat bagi penyandang disabilitas, serta mewujudkan masyarakat Inklusi.

Masyarakat inklusi dapat diartikan sebagai sebuah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan perbedaan serta diharapkan dapat melibatkan mereka yang berbeda ke dalam berbagai tatanan dan infrastruktur yang ada. Keberagaman dan perbedaan yang dimaksud adalah para penyandang disabilitas.

Upaya Presiden Jokowi untuk menghilangkan stigma negatif tentang penyandang disabilitas itu pun mulai terlihat jelas. Berawal dari UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang disabilitas yang disahkan pada periode pertama jabatannya, Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2019, hingga diangkatnya staf kepresidenan yang mempunyai keterbatasan pendengaran.

Angkie Yudistia adalah Juru Bicara Presiden Bidang Sosial yang diangkat pada November 2019 oleh Presiden Jokowi. Keterbatasan Angkie yang ia dapat sejak umur 10 tahun tak pernah menghalanginya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Ia kini menjelma menjadi wanita tunarungu dengan segudang prestasi. Dukungan kuat dari keluarga dan orang-orang terdekatnyalah yang membuat ia bisa sampai di titik ini.

Angkie dan keluarganya adalah contoh nyata dari pemahaman yang benar atas arti disabilitas. Dari berbagai artikel yang ada di media, disebutkan bahwa keluarga Angkie tak pernah menganggap disabilitas Angkie sebagai sebuah aib yang harus disembuyikan. Mereka membantu Angkie bangkit dan mendorongnya untuk selalu teguh dalam menggapai mimpinya.

Selepas diangkatnya Angkie menjadi staf Presiden, terdapat perubahan cara pandang orang-orang dilingkungan saya tentang disabilitas. Melihat sosok Angkie dapat merubah perspektif negatif tentang disabilitas yang dianggap hanya menjadi beban dan hanya bisa bergantung pada orang lain. Karena nyatanya, Angkie bisa sukses dengan keterbatasan yang dimilikinya.

Angkie hanyalah satu dari ribuan penyandang disabilitas yang ada di Indonesia. Dan dari Angkie saya belajar bahwa keterbatasan tak menjamin masa depan yang suram, seperti kata orang-orang. Walaupun pemerintah belum sepenuhnya memberikan fasilitas untuk para disabilitas, mereka tetap bisa melesat jauh meninggalkan orang-orang yang pernah memandang mereka sebelah mata.

Upaya pemerintah untuk menjadikan Indonesia ramah disabilitas tak akan menuai kesuksesan apabila tak ada dukungan dari warga negaranya. Menghentikan diskriminasi dan menghilangkan stigma negatif adalah satu cara mudah untuk mendorong maju disabilitas. Disabilitas bukanlah aib yang harus disembunyikan, tak perlu pula belas kasihan yang terlalu dalam. Mereka hanya butuh dorongan agar terus maju dan berkembang.

Athaya Saraswati
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.