Sabtu, Mei 8, 2021

Melawan Otoritas Penafsiran

Centang Perenang Kasus Perceraian

Beberapa waktu lalu Radar Banyuwangi sempat menurunkan beberapa tulisan ikhwal angka perceraian di Banyuwangi tahun 2019. Mulai tulisan berjudul “Setahun Ada 6.587 Duda dan...

Bandung sebagai Calon Ibu Kota

Bandung pada 1920-an disiapkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai ibu kota baru menggantikan Batavia yang udaranya membuat gerah dan rawa-rawanya menyimpan wabah. Persiapan itu...

Paradoks Perkara yang Berat (Agama)

Siapa tak kenal Imam Malik, seorang mujtahid besar yang diakui kealiman dan kesholehannya. Meski demikian, Ulama yang sempat bercita-cita menjadi penyanyi dimasa kecilnya ini,...

Saya, Dandhy dan Demokrasi yang Cacat!

 Rumah dihancurkan militer! Adik ditangkap. Ibu mengungsi ke tempat yang lebih aman. Saya pun terpaksa meninggalkan tanah kelahiran.Dari jauh, hanya mendengar kabar seorang teman...
Ihsan Nursidik
Mahasiswa Ushuluddin

Penafsiran Alquran sangat berkaitan erat dengan unsur-unsur subjektifitas penafsir. Peran penafsiran tidaklah serta merta berada dalam wahana medan teks semata, akan tetapi berkutat pula pada medan konteks yang sarat dengan hubungan pengaruh-dipengaruhi. Problematika tersebut berlanjut pada kesenjangan definitif, apalagi saat menyoal peran serta tafsir yang tersimplifikasi pada lingkaran-lingkaran diskursus Quranik semata. Sehingga ‘aras penafsiran hanya berputar dalam literatur klasik yang memuat pencarian otentitas penafsiran sebagai usaha reproduksi makna semata.

Gerakan penafsiran yang berorientasi mundur, telah membawa paradigma yang superioristik. Hal tersebut ditandai dengan sikap untuk menguasai konteks secara sepihak. Riwayat kesejarahan—turats—telah dilegitimasi oleh qaul-qaul otoritatif, hal tersebut membuat “si penafsir” justru abai dan tidak mengambil sikap kritis pada teks klasik. Tidak jarang kegemilangan teks klasik, baik berdasar preseden shalih atau shahih telah meligitimasi peran penafsiran Alquran secara mutlak. “Si penafsir” justru terjatuh pada argument ad verecudiam bila mempercayai itu mentah-mentah.

Disisi lain, modernitas membawa pengaruh yang tajam pada diskursus penafsiran hari-hari ini. Sikap penafsir yang melampaui dan terlalu mendominasi teks tanpa sengaja telah menggiring teks tersebut pada konstitusi wacana Barat. Terjadilah pergeseran signifikansi, yang mulanya dari teks menuju konteks berubah, menjadi konteks menuju teks. Tak jarang penafsiran modern justru mengambil sikap antipati pada turats yang ada, sehingga terjadilah divergensi makna yang menganga. Padahal, Riwayat kesejarahan—turats—merupakan instrumen untuk memediasi konteks pelataran Alquran. Sikap mengatasi turats ini membawa konsekuensi pada penafsiran yang liberal, mengeluarkan teks dan menariknya pada konteks secara sewenang-wenang.

Kaum Ilhadi sebutan adz-Dzahabi (1978) dalam meyitir golongan ini. Mengantungkan penafsiran berdasarkan pada preferensi makna yang terrepresentasi lewat kebutuhan sosial-politik hingga ekonomi. Namun yang problematis ialah, menempatkan Quran sebagai stempel konfirmatif. Artinya Alquran hanya diakui bila berkesuaian dengan argumen ilmu-ilmu ‘alam dan sosial. Tak jarang, bahwa argumen tersebut kemudian dipaksakan dengan suatu ayat tanpa memperhatikan dasar ilmu-ilmu quran (ulumul quran).

Perdebatan ini bermuara pada kontrol dan pemaksaan epistimologi antara dua belah pihak. Sikap anti-kompromistis pada kedua belah pihak turut memperkeruh kondisi pemikiran Islam pada akhir paruh abad ke 19. Mohammad Arkoun (1998: h. 208) dalam Rethingking Islam Today, telah menyinggung keterang ini, terangnya:

To Control the epistemological validity o f any dicourse, it is necessary to discover and analyze the implicit postulates. This work has never been done for any discourse in Islamic thought.

Tegasnya bahwa pengetahuan atau episteme (sistem makna dan skema kognisi dari nilai/kategori yang dibangun oleh fondasi ilmu pengetahuan, sains dan filsafat dalam waktu tertentu) diproduksi oleh setiap manusia yang hidup, berfikir dan beraksi pada situasi sosial-historis yang terberi (h. 210). Perbedaan episteme pemikiran setiap zaman menjadi persoalan utama dalam ketegangan penafsiran pada transisi pemikiran kontemporer ini.

Upaya Me-mediasi Ketegangan Epistimologi

Berkembangnya pendekatan baru seperti yang dikembangkan oleh beberapa pemikir seperti Amin Khuli (1964) dalam Manahij Tajdid, menekankan dua tinjauan kritis sebagai pendekatan menafsirkan Alquran. Penggabungan antara peninjauan ekstrinsik—meliputi sejarah, geo-histori, dari pewahyuan Alquran—dan intrinsik—anasis figurasi, etimologis dalam makna linguistik Alquran—sebagai upaya penafsiran moderatif. Sebagaimana Fazlur Rahman (1985), mengintrodusir pendekatan penafsiran Double Movement-nya. Dengan mengakomordir kondisi historis melalui proses memahami, generalisasi dan idealisasi serta kontekstualisasi pada kondisi modern.

Pendekatan-pendekatan ini tidak lain sebagai kecenderungan melahirkan titik tengah, antara penafsiran tradisional dan liberal. Sebagaimana penggambaran Ahmad Khalafallah (1947) sebagai perdebatan spekulatif dan skriptural deterministik. Peranan metologi menjadi krusial dalam merumuskan penafsiran Alquran yang memadai perdebatan zaman. Signifikansi penafsiran Alquran saat ini, bukan hanya bertumpu pada pengujian validitas atau otentitas sumber saja, malainkan kemampuannya dalam mengkontekstualisasikannya pada dinamika zaman.

Perangkat berupa metodologi inilah yang menjadi kerangka yang memberikan pembaharuan pada wilayah penafsiran Alquran. Agar Alquran mampu membuka peranannya dalam memberikan notasi gagasan pada tiap-tiap perdebatan dari ragam disiplin keilmuan yang ada. Menghadirkan argumen yang memiliki wawasan (wisdom, weltanschaung) keislaman yang kuat. Berakar pada sumber yang otoritatif dan dapat dipertanggungjawabkan, serta melalui metodologi yang fasih, runut dan logis serta berdasarkan pada Maqashidul Quran.

Sehingga penafsiran tak lagi menjadi wilayah suci yang mengandalkan kefiguran shalafus shalih atau fanatisme mazhab yang menggelayuti pemikiran Islam begitu kentara. Akan tetapi, senantiasa bermuara pada kerja-kerja ijtihad yang baru, atau mengutip istilah yang digunakan Amin Abdullah sebagai fresh ijtihad.

Sebab dengannyalah Alquran akan menampakkan berbagai macam mukjizatnya dalam membuktikan kebenaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Memberikan penawar pada malaise pikiran rigit dan deterministik yang mengidapi umat Islam begitu lama. Maka sebuah keharusan bahwa perlawanan terhadap fanatisme dan sikap meng-otorisasi-kan sebuah gagasan secara buta menjadi proyek ijtihad dewasa ini.

Ihsan Nursidik
Mahasiswa Ushuluddin
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.