Jumat, April 23, 2021

Melampaui Slogan Politik Ala Trump

Ayo Pensiun dari Cebong dan Kampret

Penyakit ini sudah lama mendera kita. Dimulai dari Pilpres 2014, sempat sembuh meski tak total, lalu kambuh pada Pilkada DKI sebelum akhirnya kembali memuncak...

Refleksi International Women Day Pada Rentan Kisah Perempuan

Tepat, 8 Maret dimana hari diperingati dengan International Women Day atau biasa disingkat dengan IWD, dan tepat pada tahun ini mengusung tema “Choose to...

Purwanto Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila

Plt Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta H. Purwanto,. M.Pd menjadi inspektur upacara dalam upacara hari kesaktian Pancasila, di halaman kantor Dinas Pendidikan Purwakarta, Senin (2/10)...

Lagi, Kemunduran Negara

Indonesia telah memasuki 20 tahun masa reformasi, namun hingga saat ini proses demokratisasi yang terjadi pasca-reformasi menggantikan rezim kediktatoran militeristik Orde Baru mengalami kemunduran. Pemerintahan...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

America First Donald Trump, kembali menjadi salah satu tema perdebatan para politisi dan pengamat politik di Indonesia. Saat jargonya ‘Make America Great Again’ akan ditiru menjadi slogan ‘Indonesia First‘. Dalam konteks Indonesia, rupanya ada beberapa kalangan yang tertarik menjadikan slogan “Indonesia First” sebagai cara untuk  membangkitkan semangat untuk menjadi yang terbaik, disegala bidang.

Namun jika melihat kondisi Indonesia, tentu berbeda dengan Amerika. Penggunaan slogan ini tidak mesti tepat. Amerika tidak sedang bermimpi. Amerika telah merasakan menjadi salah satu kekeuatan nomor wahid, kekuatan Adikuasa selama beberapa dasawarsa terakhir.

Meskipun kini muncul Tiongkok sebagai kekuatan baru yang mengancam superioritas mereka. Sementara kita, menjadi nomor wahid, barangkali itu salah satu mimpi besar. Tapi, jika kita mau realistik tentu terlalu banyak yang harus di perbaiki, sebelum bermimpi menjadi first, menjadi yang terbaik.

Meskipun demikian, kita melihat juga fakta bahwa dalam berbagai kesempatan peringatan hari besar nasional akhir-akhir ini, semangat untuk bangkit, dengan slogan Indonesia Hebat terus disosialisasikan kepada publik.

Meskipun demikian, diakui atau tidak, masyarakat kita tampak heroik dan berkobar kobar saat terlibat dalam momen momen peringatan hari besar nasional, kita lihat baru saja dalam hari santri dan hari Pahlawan. Dengan berbagai yel-yel, kita seolah nampak sebagai ‘pejuang sejati’, rela mati demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik  Indonesia. Namun semangat membara itu harus di ikuti oleh kerja keras dan kreativitas.

Pada masa kolonialisme, baik Belanda maupun Jepang, pengorbanan dalam bentuk tindakan nyata benar-benar tampak mata. Tidak berhenti pada slogan dan teriakan dalam rapat-rapat umum. Namun paradoks dengan situasi masa kini, slogan ini bertebaran dalam baliho, meme di media sosial, video kampanye yang tersebar di Youtube, sampai diucapkan dalam kampanye, baik oleh para calon legislatif maupun calon presiden.

Beberapa pertanyaan ini penting untuk kita jawab: apakah semboyan untuk bangkit melalui slogan Indonesia Hebat telah membawa perubahan yang baik menuju cita-cita sebagai bangsa yang disegani? Apakah nasionalisme telah menjadi energi perjuangan melawan kolonialisme, telah benar benar kita terapkan secara konsisten dan menjadi energa penggerak untuk kita mencapai kebesaran peradaban yang diakui dunia? Tentu pertanyaan itu harus dijawab dengan berbagai data.

Tentu kita juga menghargai sekelompok politisi yang berupaya mengadaptasi slogan ala Trump, yakni Make Indonesia Great Again, untuk slogan dalam kampanyenya.  Namun untuk itu butuh pengorbanan yang harus benar-benar tampak nyata. Pengorbanan yang tidak hanya sloganistik.

Namun justru dapat dilihat dari rekam jejak para pengusuh jejak itu. Apakah para calon pelayan masyarakat yang kita pilih, sehari-harinya mampu hidup bersahaja dan sederhana layaknya pemimpin kita pada masa perjuangan merebut kemerdekaan? Atau justru sebaliknya, dengan rumah  dan kendaraan mewah, dan aset yang besar dan kekayaan yang menggunung. Jadi slogan Make Indonesia Great Again, jika ingin disosialisasikan harus dimulai dengan keluar dari tradisi retorika kosong, bahkan cenderung olok-olok kepada sekelompok warga bangsa uang lain.

Nasionalisme kita dimasa kini harus diupayakan dengan melakukan dua upaya nyata dengan menjadikan seluruh slogan yang diusung para capres yakni Indonesia Hebat atau Indonesia Adil Makmur sebagai alat penggerak melakukan perlawanan terhadap penguasaan baru yang makin kompeks dan canggih.

Bisa jadi adalah kapitalisme neoliberal, yang berwujud dalam gaya hidup, budaya konsumeristik, sampai kebijakan nasional yang lebih berpihak pada kepentingan nasional.  Kita harus beranjak lebih jauh dari heroisme semu dalam bentuk teriakan-teriakan, dengan melakukan tindakan yang bersifat kolektif.

Fakta Hibriditas dan Melampaui Nasionalisme Sloganistik

Generasi  masa kini tentu tak bisa hanya di bumbui dengan jargon nasionalisme dan ke-Indonesia-an sebagai kata baku yang identik dengan perjuangan hidup dan mati. Nasionalisme dan Ke-Indonesiaan yang sloganistik yang selama ini kita lihat, adalah warisan orde lalu yang perlu di transformasikan secara lebih membumi.

Nasionalisme dan ke-Indonesiaan kita harus realistik dan tidak terpaku pada aspek-aspek literer, yuridis dan sloganistis semata. Karena kemampuan kita untuk keluar dari jebakan dimensi nasionalisme yang sloganistik dan selanjutnya membiasakan keIndonesiaan kita mencair dalam bentuk kedamaian dalam kebhinekaan kita.

Jika impian First Indonesia digelorakan, bukan berarti serta merta mengharamkan tampilnya identitas yang jamak. Indonesia Hebat, bukanlah bentuk sikap rasisme atas kelompok, ras dan agama tertentu. Sikap yang sering dialamatkan pada Trump dalam proyek Make America Great Again, tentu tidak bisa di copy paste dalam kondisi keIndonesiaan kita. .  

Justru kita harus belajar banyak dari sejarah, kebangkitan Indonesia sesungguhnya disokong dari kebangkitan identitas-identitas lokalistik yang beragam. Pergerakan kemerdekaan dilahirkan oleh berbagai ras, suku dan agama. Bahkan ras yang dianggap asing, seperti Arab, China, dan bahkan kulit putih yang dapat kita lihat pada sosok EE Douwess Dekker.

Generasi Indonesia kini adalah yang dilahirkan dari interaksi lokalitas dan globalitas itu secara terus menerus. Slogan Indonesia Hebat atau Indonesia Adil Makmur yang di sosialisasikan para elite politik, sesungguhnya harus membangkitkan narasi kebangkitan lokus-lokus kecil, dan mampu merangkum berbagai hibriditas  (percampuran-percampuran lokalitas dan globalitas) sebagai kekuatan utama.

Dengan demikian impian yang terus menerus di jajakan setiap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden ini akan dapat melahirkan energi yang lebih kreatif dan dinamis. Lokalitas yang berkembang pesat secara bersama-sama, akan melahirkan kekuatan yang bersifat trans-lokal, yang tetap diikat oleh semangat Kebhinekaan.

Dengan ruang terbuka bagi kebangkitan lokalitas dalam berbagai kreasi oleh kelompok minoritas sekalipun, akan membuat bangsa ini menjadi organisme yang benar benar hidup, organisme yang bangkit. Sel-sel identitas lokal akan dapat bergerak berkembang biak dalam tubuh Ke-Indonesia-an tanpa harus di hantui oleh ancaman rasisme.

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.