Selasa, April 20, 2021

Media Sosial dan Elektabilitas Politik

HUTRI72 – Merawat Kemerdekaan dari Senja di Pantai Losari

Ketika Archimedes sedang berada di toilet ia menyadari volume air naik setelah menenggelamkan bagian tubuhnya. Kemudian terjadilah, ia menemukan hukum Archimedes. Ia berlari dan...

Kekerasan di Sekolah dan Problema Kompetensi Guru

Perkembangan diri manusia sejak masa kanak-kanak hingga dewasa, salah satunya ditentukan oleh lingkungan keluarga dan sosial. Pakar Ekosistem Pendidikan Urie Bronfenbrenner (2013) menyatakan perkembangan anak...

Golput yang Melempem

Dari hasil hitungan cepat (Quick Count) diketahui pemilih yang tidak memilih calon presiden pada pilpres tahun 2019 ini ada sekitar 20%. Jika dibandingkan dengan...

Tiga Modal Menuju Istana

Demokrasi langsung yang kekuasaan berada ditangan rakyat harus diperebutkan oleh capres dan cawapres. Perebutan ini tak bisa hanya bermodalkan asumsi semata, namun juga diikuti...
Syaidina Sapta
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa waktu yang lalu Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus korupsi mega proyek KTP elektronik. Tak tanggung-tanggung, nama ketua DPR, Setya Novanto, pun tertarik dalam kasus tersebut. Bahkan ia sempat beberapa kali dipanggil KPK untuk datang ke pengadilan.

Ada yang menarik ketika Setya Novanto dipanggil KPK dalam statusnya sebagai tersangka, yang seharusnya ia datang ke pengadilan, tiba-tiba Setya Novanto terserang sakit dan mesti dirawat di Rumah Sakit, bahkan hingga memakai alat medis yang begitu lengkapnya sebagaimana fotonya beredar di dunia maya. Namun ternyata warganet yang melihat beredarnya foto Setya Novanto terbaring di Rumah Sakit nampak meragukan kondisi Setya Novanto apakah benar-benar sakit ataukah tidak. Masalahnya adalah ada di foto yang beredar dianggap banyak kejanggalan yang ada sehingga banyak orang mengira itu seolah dibuat-buat saja. Keyakinan warganet menganggap sakitnya Setya Novanto itu palsu bertambah ketika beberapa hari setelah sidang pra peradilan Setya Novanto mengabulkan pencabutan status tersangka dirinya tiba-tiba Setya Novanto sembuh dan bisa beraktifitas kembali, bahkan sudah langsung memimpin rapat partainya kala itu. Entah apakah Setya Novanto benar-benar jujur atau membohongi mungkin hanya dia, Tuhan, dan beberapa pihak terkait yang tahu.

Pada zaman dahulu, ketika kita tidak setuju dengan suatu tindakan seorang tokoh, atau pejabat negara, cara untuk mengekspresikannya hanya bisa melalui tulisan-tulisan di media cetak seperti koran atau orasi ditengah orang banyak, namun tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini. Lain halnya dengan zaman sekarang, dimana setiap orang dengan mudah mengemukakan kekecewaan mereka hanya dengan bermodal smartphone yang kini dimiliki hampir oleh setiap orang.

Media sosial memang sangat berpengaruh besar saat ini. Jika dahulu dalam sebuah koran, tulisan-tulisan orang hebat seperti Tjokroaminoto, Seokarno, hingga Agus Salim yang bisa menggugah pikiran rakyat, di masa ini konten-konten yang ada di media sosial pun bisa masuk dan meracuni pikiran rakyat. Gawatnya, media sosial ini dimainkan oleh siapa saja, tak peduli orang baik ataupun jahat, orang pintar ataupun bodoh. Jika dahulu hanya yang memiliki pemikiran luar biasa yang bisa menulis di media cetak seperti koran dan dibaca orang banyak, kini orang bodoh pun bisa saja membuat tulisan dan menyebarkannya di media sosial dan dibaca orang banyak.

Dalam kasus Setya Novanto, pada akhirnya bermunculan “meme” atau gambar-gambar lelucon mengenai dirinya yang seolah-olah begitu sakti bisa terbebas dari status tersangkanya. Gambar-gambar tersebut sempat viral dan bertebaran di media sosial bahkan sampai masuk ke media berita nasional dan TV pula. Hal ini menjadi penggiringan opini publik terhadap citra Setya Novanto itu sendiri.

Jika kita memperhatikan berita-berita yang ada dan tersebar di media sosial pun, hampir setiap hari memuat berita tentang busuknya kehidupan politik negeri kita. Dikhawatirkan hal ini akan membuat banyak orang menjadi antipati terhadap politik, pada akhirnya menyebabkan angka golput ketika Pemilu melonjak. Tentunya hal ini karena kurangnya rasa percaya publik terhadap orang-orang yang akan mengisi perpolitikan di Indonesia. Rasa kekecewaan itu bisa juga membuat rakyat menjadi pasif dan anti terhadap kebijakan pemerintah yang akan menghambat pembangunan.

Memang hal ini tak lepas dari tingkah laku para aktor politik negeri kita juga, ditambah lagi dengan kecanggihan media sosial yang semakin mempercepat arus informasi. Seolah menjadi dua mata pisau, jika informasi yang beredar lagi-lagi buruk maka tingkat kepercayaan rakyat pun bisa saja menurun, dan elektabilitas pemerintah pun juga menurun. Seharusnya hal ini pun menjadi perhatian mereka para pejabat pemerintah agar bisa selalu menjaga sikap dan amanah yang diberikan kepada mereka. Rakyat sudah semakin pintar dan canggih dengan teknologi yang mereka kuasai, tak bisa lagi dibodohi, bahkan terkadang rekam jejak digital itu lebih tajam dibandingkan pedang lawan.

Syaidina Sapta
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.