Kamis, Maret 12, 2026

Manusia-Manusia Besar

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
- Advertisement -

Pada masa-masa paling ceriah dari pemahaman kita, seperti anak kecil belajar bermain dengan sebuah pesawat yang terbuat dari kertas, melontarkan kepulan asap ke udara; kemajuan yang dibimbing oleh ketinggian nilai ketidakpuasan setelah kepuasan bersama atau tidak dengan mimpi-mimpi kita.

Pikiran, hasrat, kesenangan, dan imajinasi adalah energi Manusia-Manusia Besar. Mereka bermimpi memetik bintang-bintang di langit, dimana setiap kali bermimpi, mereka akan selalu bersemangat untuk memiliki kekuatan intelek dan keterampilan agar bisa terbang ke luar angkasa. Mereka bisa berpikir untuk melepaskan dunianya yang menyesakkan dengan cara menaklukkan setiap kepuasan yang terjebak dalam bayangan semu.

Tetapi, Manusia-Manusia Besar, yaitu jika manusia kian bersifat pemberani, maka mereka juga punya ‘logika produksi’ yang melimpah ruah (banggalah jika ‘si anu’ menjadi spesies manusia unggul melalui tangan dinginnya! Sampai kemudian, mereka juga bisa menciptakan kecerdasan artifisial, di antaranya robotika yang bisa berbicara dan tampil sebagaimana layaknya manusia sampai mereka pula mereproduksi ilmu pengetahuan tentang rekayasa genetika.

Akhirnya, Manusia-Manusia Besar sedang disaksikan dan menyaksikan suatu tontonan besar antara yang fantastis dan yang ironis sekaligus dalam titik kemajuan pengetahuan ilmiah paling baru. Di sana muncul “tubuh yang bekerja” terjalin kelindan dengan penalaran yang bekerja. Pelipatgandaan hasrat untuk mengetahui dari Manusia-Manusia Besar sembari geleng-geleng karena siapa sangka ada kepentingan akan dimanfaatkan oleh sang perusak kehidupan. Lihatlah perubahan ini! Dunia yang bergerak dan zaman berubah berada dalam wajah ganda, yaitu antara pengubah dan perusak kehidupan.

Apa itu Manusia-Manusia Besar? Secara simpel, mereka adalah makhluk yang mulai atau sedang berpikir dan berjiwa besar. Mereka adalah filsuf, saintis, dan negarawan. Bersama penalaran dalam kegairahan, mereka besar mulai dari hal-hal yang kecil.

Begitulah, jenis manusia paling unik ini menyerempet bahaya dari nilai kebijaksanaan yang remeh; ia tidak lebih daripada pujian dan cemoohan sebagai belas kasihan. Tentu, kita percaya tentang kekuatannya sendiri bahwa mereka tidak menganggap dirinya sebagai manusia paling ‘unggul’, tanpa keadaan yang lain karena ada yang membesarkannya. Manusia-Manusia Besar melupakan kekuatannya sendiri sebagaimana dia memaafkan kesalahan dari pihak lain. Apakah memang ada yang perlu dimaafkan sampai ada yang benar dan yang salah?

Maju dan unggul di bumi yang dipijak dan tangan manusia dikepalkan ke arah langit; tabir mimpi dan khayalan tidak tersingkap. Tetapi, manusia masih tetap berada dalam ketidakpuasan dan dalam hasrat dan kesenangan. Ketidakpuasan sebenarnya bukan penemuan baru, melainkan jiwa besar, seperti seseorang sudah hidup menetap dalam nilai kebijaksanaan seolah tanpa ada yang palsu.

Karena hidup dalam perburuan dalam dunia: tiruan itu juga asli atau sebaliknya, maka kita tidak lagi menemukan “separuh-manusia” sebagai suatu realitas yang dangkal gara-gara di sana ada Manusia-Manusia Besar. Hilangnya bahaya ganda yang sama esensinya. Meragukan jika kita mengatakan bahwa terselip prasangka buruk tentang bahaya masa silam adalah manusia menjadi “budak” dan bahaya masa depan adalah manusia menjadi “mesin.” Dalam kondisi aktual yang berbeda dengan tetap menjadi “budak” diselimuti dengan ingar-bingar mesin. Fantastis atau ironis?

Bahaya-bahaya di setiap zaman selalu nyata yang terbungkus dari tiruan. Sementara, penderitaan dan bahaya yang menantang menjadikan Manusia-Manusia Besar justru lebih tangguh.

Apa yang kita lihat di dunia menampilkan hukum alam yang harus ada penyebab di balik peristiwa yang menampilkan sosok manusia paling manusiawi. Kenapa diberi julukan Manusia-Manusia Besar?

- Advertisement -

Saya lihat tidak penting bagi kita tahu tentang apa penyebab Manusia-Manusia Besar muncul justru di beberapa zaman dan itu menjadi bagian dari rangkaian peristiwa? Saya kira, Manusia-Manusia Besar dengan rasa ingin tahu juga perlahan dicari oleh “manusia-manusia biasa” (sengaja ditulis dengan tanda kutip). Saya tidak bermaksud bahwa rasa ingin tahu adalah hak istimewa dari Manusia-Manusia Besar belaka. “Manusia-manusia biasa” bukan seperti dua buah dadu yang dilempar begitu saja dengan angka ganda enam mungkin sekali dalam tigapuluh kali lemparan atau apalah, lantas kita menarik kesimpulan jika mereka tidak punya sama sekali pilihan.

Sebagian di kepala kita punya cara menggeledah dunia saat dadu dilempar berlaku bagi setiap peristiwa ada penyebab. Karena konsekuensi, manusia itu ada, maka pilihan itulah tidak mengenal adanya lemparan dua dadu dianggap aturan yang dibuat oleh hukum alam. Pilihan manusia menjadi peluang bagi ada atau tidak ada hukum alam yang bekerja secara sendirian. Ia bekerja seiring dengan hukum manusia bareng pilihan-pilihan yang menjadikan setiap manusia punya peluang menjadi Manusia-Manusia Besar.

Terlepas dari semua itu, pilihan adalah dorongan yang bisa membantu manusia agar bisa berdiri di atas kaki sendiri, Pilihan bagi manusia sebagai cara untuk menghilangkan rasa kerdil. Lagi pula, Manusia-Manusia Besar tidak otomatis lebih mulia atau lebih tinggi nilainya daripada yang lain. Mereka bisa saja menjadi kerdil karena di luar dirinya ada yang lebih unggul. Saya pun tidak bisa mengerti bahwa adalah logis jika seseorang mengatakan ssuatu yang menjadikan Manusia-Manusia Besar karena ada penilaian atau luapan eluk-elukan dari pihak luar, bukan dari dirinya sendiri.

Jika Anda mulai berpikir tentang diri Anda berada untuk menciptakan kehidupan dunia dan punya pilihan-pilihan menjadi Manusia-Manusia Besar, yang dengan keberadaannya dianugerahi mata, hidung, telinga, dan mulut tidak lebih kuat dari pikiran untuk menciptakan sesuatu seperti yang diinginkan. Anda bisa bayangkan bahwa menjadi Manusia-Manusia Besar mustahil akan pernah menciptakan dunia yang dihuni oleh segerombolam manusia yang lemah dan kerdil.

Kita diberitahu jika manusia menciptakan dunia dengan hukumnya sendiri di atas alasan-alasan logis. Buat apa ada kemajuan jika hanya pasrah begitu saja sama aturan yang dibuat pasti ada tujuan di baliknya.

Dunia yang dilihat manusia memang campur aduk dan tidak selamanya disimpulkan sebagai ini “besar” dan itu “kerdil.” Ada sebagian orang melihat manusia dan dunia serba samar-samar alias abu-abu. Sebagian yang lain senang pada salah satunya. Jadi, yang kita lihat malah sama sekali tidak punya pilihan, tetapi sebenarnya itulah pilihan yang bisa berpeluang menjadi Manusia-Manusia Besar atau tidak. Betapa makin besar peluang bagi tidak adanya tujuan yang jelas ketika kita membandingkan antara besar dan kerdil secara mutlak di tengah pilihan hidup yang menantang.

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.