Selasa, Mei 18, 2021

Mahalnya Harga Pemilu Kita

Ada Apa dengan Narasi “Emak-Emak”

Wacana ketidakadilan terhadap perempuan sering menjadi bahan pembahasan para pakar keilmuan bidang perlindungan perempuan dan gerakan feminisme. Pasalnya, tindakan diskriminatif terhadap perempuan masih sering...

Pentingnya Tasawuf dalam Menghadapi Pandemi

Dewasa ini masyarakat di seluruh dunia dikagetkan dengan menyebarnya virus Covid-19. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina lalu menyebar dengan cepat di...

Prejudice dan Pancasila

Tempo lalu, Ir. Soekarno saat itu belum menjadi Presiden dan Indonesia belum merdeka. Nippon menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Dibentuklah BPUPKI, dari BPUPKI terbentuk lagi...

Belenggu Angka Penyelesaian Sengketa Pemilukada di MK

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus kurang lebih 57 kasus tentang Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) Kepala Daerah yang dikeluarkan pada bulan Agustus ini. Hampir seluruh...
Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.

Pemilu ternyata mahal harganya. Bukan hanya biaya operasionalnya. Tetapi juga akibat -akibat sosialnya. Kematian petugas KPPS, kerusuhan karena ada kubu yang tidak terima, juga perdebatan-perdebatan tidak perlu yang terjadi di masyarakat mulai semenjak pra pemilu sampai pasca pemilu.

Biaya operasional dapat diprediksi semenjak perencaan. Akibat sosial seharusnya juga bisa diprediksi walaupun tidak bisa secara detail sebagaimana memprediksi biaya operasional. Akibat yang fatal menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan tidak dipikirkan secara matang apa akibat sosial yang terjadi dengan sistem pemilu yang kita pakai.

Seharusnya hal tersebut menjadi pukulan telak bagi pengelola negara. Secara umum semuanya saja. Secara khusus pihak yang mengelola pemilu. Karena bagaimana pun rakyat tidak pantas meregang nyawa atawa terluka fisiknya hanya karena pemilihan orang yang dianggap pantas untuk mengelola negara. Ini bukan masa perang, mengapa manusia begitu mudahnya menjadi korban.

Sejauh ini evaluasi pemilu yang paling disorot hanya perihal penghematan anggaran. Yang selanjutnya memunculkan kebijakan pemilu serentak. Juga muncul kebijakan penghematan anggaran lain seperti, menggunakan kotak suara dari kardus.

Pra pemilu orang ribut-ribut tentang kuat atau tidaknya kotak suara kardus. Tanpa pernah memikirkan, apakah sistem kerja penyelenggara dan peserta pemilu yang cukup lama mengakibatkan dampak sosial yang fatal?

Dan lagi, pasca pemilu yang menyuarakan belasungkawa karena kematian banyak personil penyelenggara pemilu dan evaluasi pemilu masih terasa tidak nyaring. Kalah nyaring dengan klaim kemenangan, quick qount, ribut-ribut caleg kalah, people power (settingan). Yang alih – alih berfaedah, justru menambah catatan buruk pemilu yang telah berlangsung.

Kita seakan menjadi seorang balita yang dibuang oleh orang tuanya. Tak bisa mengurus dirinya sendiri. Bisanya hanya merengek, menangis. Menunggu belas kasihan orang, semoga dapat dipungut. Kalau tak ada yang memungut tak tahu bagaimana nasib kita.

Umur kemerdakaan 74 itu sudah lama. Majapahit yang kebesarannya sampai sekarang banyak diperbincangkan dan mungkin belum tertandingi oleh kerajaan atau negara setelahnya berumur sekira 200-an tahun.

Umur 74 lebih dari seperempat umur Majapahit. Kalau umur seorang manusia meninggal umur 80 tahun. Seperempat lebih sedikit dari umurnya adalah 22-25 tahun. Biasanya pada umur tersebut manusia minimal sudah menunjukkan tanda-tanda bisa menata hidupnya sendiri. Bahkan tidak sedikit yang sudah tertata hidupnya. Dalam banyak hal, mulai dari ekonomi sampai perhubungan sosialnya dengan masyarakat luas.

Kita sebagai rakyat yang sudah merdeka tak pernah tahu apa signifikansi yang menonjol dari pengelolaan negara kecuali membiayai banyak hal dengan hutang yang sekarang sudah mencapai sekitar 5000-an trilyun. Itu saja, masih ngeles, “Tenang saja. Masih aman kok hutang segitu.” Sampai kapan kita merasa aman. Sampai 10 trilyunkah, 20 trilyunkah?

Kita kalau dalam kehidupan sehari-hari saja mempunyai hutang yang terus bertambah rasanya hidup tidak tenang. Bahkan jika hutang kita tidak bertambah tapi dalam satu tahun kok tidak kita bayar hidup kita tidak tenang. Bagaimana bisa negara yang hutangnya terus bertambah merasa aman, aman dan aman.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa umur negara ini sama dengan majapahit. Tetapi, sejarah peradaban mana yang pantas kita pakai sebagai referensi? Mesir kuno? Romawi kuno? Yunani kuno? Bukankah Majapahit yang pernah menghuni nusantara lebih pantas kita pakai sebagai cermin, sebagai referensi untuk keberlanjutan negara kita?

Semenjak merdeka kita memilih republik dan selanjutnya demokrasi yang terwujud dalam bentuk pemilu. Puluhan tahun kita menjalani “seolah-olah” pemilu. Baru 2004 kita menjalani “yang benar – benar” pemilu. 15 tahun menjalani “yang benar – benar pemilu” kita masih belum siap. Dalam segala hal. Bahkan hal yang tak membutuhkan biaya. Mental ksatria untuk menerima kekalahan dan untuk tidak jumawa ketika menang. Terutama para pendukungnya. Dalam demokrasi wajah kita tak bisa jauh-jauh dari wajah suporter sepak bola kita.

Dani Ismantoko
Penulis. Tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.