Selasa, Juli 16, 2024

Literasi Merawat Kebersamaan, Pengalaman di Pulau Lombok

A.S. Rosyid
A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.

Kita hidup di sebuah ruang bersama yang, sayangnya, masih saja kurang terasa komitmen kebersamaannya. Mestinya, hidup bersama mensyaratkan adanya kesiapan untuk adil dalam akses-akses kehidupan. Umpama mengontrak rumah bersama kawan-kawan: boleh memiliki camilan pribadi tapi tetaplah berbagi. Jangan main monopoli demi keuntungan sendiri.

Dalam ruang bersama masyarakat, yang umumnya terjadi adalah sebaliknya. Selain ada segelintir pihak bermodal yang serakah atas akses-akses kehidupan (uang, tanah, kuasa), tak sedikit anggota masyarakat yang kehilangan kesadaran kebersamaannya. Kenyamanan pribadi dan keuntungan sesaat, menjadi ganti bagi mental berbagi, berkorban, dan gotong royong.

Padahal, ada pekerjaan bersama yang harus digarap, terutama oleh mereka yang telah ‘leluasa’, yakni mereka yang tidak harus pening memikirkan harus makan apa besok pagi, atau, yang masih bisa berencana mejeng-ria dan berleha-leha menghibur diri. Panggilan moral buat mereka, untuk melibatkan diri merawat ruang bersama itu.

Sedikitnya, rakyat marjinal punya 5 dimensi yang harus diperhatikan. Pertama, dimensi politik: minimnya wadah organisasi yang memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan penting mereka. Kedua, dimensi sosial: bercokolnya mental miskin yang merusak kualitas manusia dan etos kerja.

Ketiga, dimensi lingkungan: absennya kesadaran pembangunan berkelanjutan yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemukiman. Keempat, dimensi ekonomi: rendahnya penghasilan untuk kebutuhan hidup layak. Kelima, dimensi aset: sedikitnya kepemilikan atas alat produksi dan sumber daya manusia berkualitas. Hendak memilih yang mana?

Literasi dan Sumber Daya Manusia

Dalam kondisi itu, kita masih punya harapan, karena tidak sedikit juga anak muda yang turun tangan. Mereka tergabung dalam komunitas atau LSM, belajar menggarap isu-isu tertentu: konservasi lingkungan hidup, pemberantasan korupsi, pendidikan kaum pinggiran, dan sebagainya. Salah satu yang gemanya cukup kuat belakangan ini adalah isu literasi. Komunitas literasi banyak bermunculan. Penguatan sumber daya manusia adalah tujuan besarnya.

Di Lombok, beberapa gerakan literasi urban mampu menggerakkan perpustakaan jalanan (komunitas BIAP, komunitas Teman Baca), membuat warung kopi (Komunitas Bale Bace Khatulistiwa), atau saling bekerjasama membuat festival-festival literasi (Pesta Batur [baca-tulis-tutur], Festival Sastra). Gerakan literasi desa tidak pula kalah; dengan modal sosial yang kuat, mereka membidik persoalan ril desa.

Contoh baik dari Komunitas Laskar Baca di Desa Kekait, Lombok Barat. Mereka, para pemuda itu: urunan membangun perpustakaan dan menjadikannya pusat edukasi; berjejaring dengan komunitas literasi luar daerah; menghadirkan program-program bermanfaat bagi masyarakat. Sebentar lagi mereka menyulap desa menjadi wisata adat.

Contoh lain dari Klub Baca Perempuan di Lombok Utara, yang dimotori oleh Bunda Nursyida Syam. Gerakan literasi tersepuh itu (10 tahun) telah mengoleksi 18.000 ribu buku dengan distribusi ke 250-an taman baca di pelosok. Para janda diajak membuka pikiran mencari jalan keluar kesulitan hidup dengan buku. Karena dipimpin perempuan tangguh, ceria dan rendah hati, gerakan ini menjadi inspirasi masyarakat sampai bisa memengaruhi kebijakan pemerintah.

Tak lupa Komunitas IdeAksi di Kota Mataram, yang dipimpin Mbak Pikong. Tekad mereka adalah agar masyarakat bisa mengakses bahan bacaan selebar-lebarnya. Perpustakaan mereka bahkan tak berpintu—andai saja ingin ‘nakal’ merampok buku tengah malam, pasti berhasil. Kini, mereka menggarap Bank Suara: mereka mengumpulkan versi audio berbagai buku/bacaan sebagai akses literasi untuk kawan tunanetra. Sungguh mulia.

Teladan gerakan-gerakan itu sederhana: dengan komunitas literasi, mereka membangun wacana dan ideologi untuk merawat ‘ruang bersama’ itu dengan ‘prinsip-prinsip kebersamaan’. Dengan buku, mereka mengikis budaya feodal, membangun sikap egaliter. Kehidupan komunitas dipenuhi kesediaan berkorban, berbagi, dan gotong royong. Sejumlah modal yang cukup untuk membangun ruang bersama yang ideal: dunia tanpa eksploitasi. Mereka membuktikan bahwa berjibaku dengan buku memberi manusia kemaslahatan, yang produktif dan memberdayakan, materil maupun mental.

Pengalaman Perpustakaan Djendela

Dengan memerhatikan kata kunci ‘berjibaku dengan buku’, salah satu gerakan literasi di Pulau Lombok yang patut dilirik adalah Perpustakaan Djendela. Mereka mendedikasikan diri merawat sumber daya manusia, yang nantinya akan mengisi kerja-kera merawat ruang bersama itu.

Pada mulanya gerakan ini bernama “KCB-Mataram” (Kelompok Cinta Baca), didirikan pada 13 Desember 2015. Mereka mengusung semboyan “Aksi untuk literasi, literasi untuk aksi”, mendirikan perpustakaan di sebuah kamar kos seluas 3×3 meter, dan menggagas tradisi rutin membincang buku di ruang publik (biasanya di Taman Sangkareang Kota Mataram) seminggu sekali. Tradisi itu bernama “Temu Baca”.

Temu Baca menjangkau dua hal: kampanye budaya baca (mereka membawa segepok buku dan ditumpukkan di tengah-tengah selagi berdiskusi—menyolok perhatian), dan pengakraban dengan buku. Mereka bertukar pengalaman membaca selama seminggu, meskipun buku mereka belum selesai dibaca. Bahkan bila mereka baru hanya sanggup membaca 5 halaman, mereka tetap harus bercerita.

Menumbuhkan minat baca memang tidak mudah. Sebagian besar anggota Perpustakaan Djendela bukanlah kutu buku, tapi ingin berbudaya baca. Kebanyakan berasal dari desa, tidak terlalu berkecukupan, tidak memiliki cukup koneksi penting, dan sedikit kikuk dengan budaya urban. Mereka unik karena masih mengekspresikan nilai-nilai lokal—dan memang sebaiknya tidak bersentuhan dengan ‘basabasi kota’—namun tetap perlu berkenalan dengan kemajuan.

Dengan semangat itu, mereka menjadikan perpustakaan sebagai pusat edukasi, baik di level individu (membaca buku, menulis, bertukar pikiran), level komunitas (berjejaring, mengeksekusi ide, mengorganisasi acara), bahkan untuk bersantai (makan, tidur, bercengkrama, nonton film). Mereka mendialogkan buku dengan kondisi diri dan lingkungan mereka, lalu bereksperimen dengan perubahan. Bagi Perpustakaan Djendela, perubahan-perubahan kecil yang ‘kerap tak dianggap sebagai prestasi’ itulah prestasi gerakan literasi sesungguhnya.

Proses semacam itu hanya bisa terjadi bila perpustakaan bukan sekedar menjadi tempat mengoleksi buku dan melayani pinjam-sewa. Melainkan perpustakaan yang membangun komunitas dan menggerakkan kegiatan-kegiatan edukatif. Perpustakaan yang aktif, yang hidup, yang tidak mati akal berkampanye dan mengupayakan perubahan.

Karena itulah, sejak mula Perpustakaan Djendela tidak pernah sekalipun meminta donasi buku, namun donasi buku tetap membanjiri. Selain secara mandiri membeli buku, Perpustakaan Djendela ‘menunjukkan’ dedikasi konsisten mereka (publikasi kegiatan di media sosial) sehingga orang-orang percaya dan sukarela berdonasi. Beberapa waktu lalu mereka menerima bantuan 600 buku dari Dana Kemanusiaan Kompas, setelah direkomendasikan oleh Bunda Nursyida Syam. Ingin tak meminta, diberi tak menolak: rizki datang karena dedikasi. []

A.S. Rosyid
A.S. Rosyid
Penulis dan Peneliti di Komunitas Riset Akademi Gajah. Menekuni etika Islam, etika lingkungan hidup dan dunia literasi.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.