Selasa, April 7, 2026

Kuasa dan Kepentingan Minyak di Balik Israel-AS Vs Iran

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
- Advertisement -

Sebelumnya, ada pertanyaan. Negara-negara Arab, Israel-Amerika Serikat (AS) versus Iran, ademnya kapan? Kenapa pernyataan Donald Trump untuk mengakhiri perang dianggap mainan belaka, sehingga petinggi Iran malah curiga? Ada apa gerangan, ya?

Saya atau mungkin Anda yang tinggal jauh dari daratan negara-negara Arab dan Iran akan berbeda pandangan dengan ahli dan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan berbagai kehidupan masyarakat, di sana. Saya lihat gambaran sekilas tentang rezim Iran, paling tidak ada beberapa hal.

Pertama, soal kepentingan nasional. Tidak heran, negara-negara Arab tampak mustahil untuk mendukung Iran. Terlepas bahwa lahirnya negara dikukuhkan dan dibangun di atas kepentingan nasional. Baik itu sosial, ekonomi, budaya, sains dan teknologi jadi faktor untuk membangun kepentingan nasional. Meski punya ideologi-agama yang sama, jika negara-negara Arab tidak punya kepentingan dengan Iran, buat apa pro padanya. Kecuali mungkin kepentingan negara-negara Arab untuk tidak mendukung rezim Iran, mending kepentingan mereka sama AS.

Jadi, beda rezim Iran dan rakyatnya. Secara obyektif mungkin saya dan Anda mendukung rakyat Iran. Tapi, jika rezim kuasa Iran yang sudah menjenuhkan dan bermain seenak perut demi selera kuasa akan membuat rakyat akan tergerus simpatinya.

Sialnya, yang jauh dari rezim Iran adalah dinilai “baik-baik saja.” Apa yang belum jelas atau samar-samar belum terungkap. Padahal, belum semuanya kita pahami tentang Iran (lagi-lagi rezim kuasanya) setelah 1979.

Kedua, ada sesuatu, seperti kebanyakan negara-negara Arab sudah khatam tentang siapa itu rezim Iran (sepertu sisi kebebasan sipil). Di samping itu, terjadi proses titik jenuh bahkan “muak” melihat gelagat rezim Iran yang ditengarai jadi kuasa otoritarian. Di atas permukaan mungkin biasa-biasa saja dan stabil dari pandangan sekilas pengamat atau para traveler tentang Iran. Di balik itu yang perlu diselami secara mendalam dan berbagai realitas diperiksa secara jitu. Benarkah atau bukan tentang rezim Iran sebagaimana anggapan sebagian orang?

Ada sisi gelap tentang rezim Iran yang belum tersibak di ruang publik. Benarkah? Mungkin pula ada sisi abu-abu yang belum jamak diketahui atau kegelapan bahkan samar-samar masih diraba-raba oleh sebagian pihak. Entahlah. Ini juga bagian dari yang jauh dari rezim Iran. Kita sadar bahwa narasi “baik-baik saja” yang dimanipulasi sama bahayanya persepsi yang keliru dan hasty generalization (generalisasi yang terlalu gegabah).

Ketiga, negara-negara Arab lebih pilih welcome dan betah bareng sama AS tidak berarti lenyap segalanya. Ada sisi yang perlu kita lihat tanpa “Hitam Putih” dan ada sesuatu yang perlu kita pahami secara utuh tentang keintiman antara negara-negara Arab dan AS di kawasan Timur Tengah.

Seumur-umur perang Timur Tengah termasuk serangan Israel-AS ke Iran kerap bermotif ekonomi politik minyak sampai Arab Saudi siap-siap serang balik. Tengoklah! Perang Irak-Iran, Perang Suriah, caplok Kuwait, misalnya, tampak begitu kompleks adalah bukti-bukti yang akan berulang konflik dan akan terjadi perang.

Tercatat, produksi minyak negara-negara Arab (2024), seperti Irak sebesar 4,505,283 barel per hari, Uni Emirat Arab: 4,514,224, Arab Saudi: 10,872,023, Kuwait: 2,776,206, Qatar: 1,852,417, Oman: 1,001,970, Bahrain: 186,982, Suriah: 60,365, Yordania: 330, dan Iran: 4,626,733.

- Advertisement -

Tentu, minyak di Timur Tengah bukan satu-satunya faktor. Soal perang ideologi, narasi agama, identitas, dan pertahanan keamanan dianggap sebagai “cheerleaders”—pemandu sorak—, yang menandai ritual perang layaknya semacam industri hiburan di tengah memanasnya Selat Hormuz, dimana 20 persen dagangan minyak global lewat selat ini.

“Serangan Israel-AS ke Iran bukanlah perang agama,” kataku pada teman di suatu kesmepatan. Ya, selama ini isu teologi atau ideologi jadi pemantik emosi belaka. Padahal, di balik perang ada udang di balik batu. Di sana ada menyelinap kepentingan stabilitas minyak dan petrodolar di kepala para penguasa negara tertentu.

Sekali lagi, demi kepentingan minyak, minyak, dan minyak. Kepentingan di kawasan Timur Tengah sesungguhnya bisa terjadi karena punya relasi kuasa antara minyak dan perang, Arab-Israel-AS dan Iran, yang di atas permukaan seolah cuma perkara instalasi nuklir sebagai kamuflase belaka. Terjalinnya relasi kuasa di kawasan Timur Tengah itulah menjelma semacam “perang untuk minyak.”

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.