Selasa, Mei 18, 2021

Kritik Etnisitas dalam Sebuah Film

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Demokrasi dan Civil Society

Term demokrasi hari ini semakin kencang dibicarakan di ruang publik. Di semua lapisan masyarakat, di tingkat elit sampai ke masyarakat akar rumput (grass root...

Intense Conflict "Agone" Roma 8 : 14

INTENSE CONFLICT "AGONE" - ROMA 8: 14 "semua orang yang dipimpin ROH ALLAH adalah anak ALLAH Kata Dipimpin berasal dari bahasa Gerika (Bahasa PB)...

Reshuffle Kabinet Jilid II: Harapan atau Kekecewaan Baru?

Isu reshuffle kabinet kembali mencuat. Pemantiknya adalah peleburan dan pentransformasian Kementrian. Kabarnya, kemendikbud akan dileburkan dengan kemenristek, dan Kementrian BKPM akan bertransformasi menjadi Kementrian...
Yunita venisa
Seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di UNTAN yang hanya menulis untuk melepaskan penat dan stress akibat hiruk pikuk duniawi.

Film Hotel Rwanda merupakan film garapan Sutradara Terry George yang dirilis pada tahun 2004. Film tersebut diangkat berdasarkan sebuah kisah nyata yaitu sebuah peristiwa mengenai kejahatan Genosida yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994.  Dalam film, diperlihatkan ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi membawa kepada perang sipil di mana suku Tutsi dibantai karena perbedaan statusnya yang lebih tinggi dari suku Hutu.

Film ini sendiri mengambil sebuah sudut pandang Paul Rusesabagina (diperankan oleh Don Cheadle)seorang manajer Hotel Mille Collines, adalah seorang Hutu namun istrinya, Tatiana (diperankan oleh Sophie Okonedo), adalah seorang Tutsi. Diceritakan, Paul berusaha untuk menyelamatkan rekan-rekan sebangsanya dari aksi pembantaian massal yang dilakukan oleh suku Hutu.

Dalam film tersebut, terjadi peristiwa genosida yang disebabkan oleh adanya ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi. Pernikahan antara Paul dan Tatiana tersebut merupakan salah satu sumber perselisihannya dengan ekstremis suku Hutu. Konflik ini pun memuncak ketika terbunuhnya  Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu oleh kaum militan yang menentangnya terjadinya penyatuan etnis tersebut. Suku Hutu pun menuduh dalang pembunuhan tersebut adalah suku Tutsi.

Dalam film tersebut juga menampilkan Georges Rutaganda, di mana ia merupakan pemasok barang langganan untuk hotel tempat Paul bekerja dan juga seorang pemimpin lokal Interhamwe, sebuah milisi anti-Tutsi yang brutal. Situasi politik pun kian memburuk, di mana orang-orang Tutsi satu persatu dibunuh secara keji.

Paul kemudian merayu pihak-pihak yang berpengaruh, menyuap mereka dengan uang, seperti yang terdapat dalam menit ke-27. Hal itu dilakukan demi keamanan keluarganya. Paul pun harus menunjukkan KTP-nya sebagai bukti bahwa ia adalah suku Hutu.

Paul juga meminta bantuan atasannya untuk menelpon pihak Perancis agar segera menyelamtkan mereka tetapi tentara Perancis datang hanya menyelamatkan turis asing saja karena menurut mereka bahwa Paul dan masyarakat Rwanda tidak sederajat dengan mereka.

Kemudian meletusnya perang saudara yang disusul ancaman dari angkatan darat Rwanda, Paul pun langsung melakukan sebuah negosiasi. Dan menjadikan hotel tempat ia bekerja sebagai tempat perlindungan bagi keluarga dan pengungsi lainnya.

Sampai pada akhirnya berkat kerja sama orang-orang di hotel yang menelpon kerabatnya maka dikirimkan bala bantuan ke sana. Namun, ternyata ada pengkhianat yang membocorkan rencana Paul dan PBB yaitu Gregoire.

Singkat cerita, dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Paul dan bantuan dari pasukan keamanan PBB yang dipimpin oleh Colonel Oliver, Paul berhasil menyelamatkan keluarganya dan masyarakat suku Tutsi dari peristiwa pembantaian Genosida di Rwanda. Setelah bertemu dengan keponakannya yang hilang, Paul dan sekeluarga mengungsi keluar dari wilayah kerusuhan di Rwanda.

Bila melihat runtutan kisah dalam film Hotel Rwanda, kemudian dikaitkan dengan perspektif etnisitas, maka menurut saya pandangan primordialisme cocok untuk digunakan dalam menganalisa film ini. Menurut Robuskha and Shepsle, primordialisme adalah loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional seperti suku bangsa, agama, ras, kederahan dan keluarga.

Menurut saya, genosida Rwanda ini karena perbedaan kekerabatan dan kepercayaan dari kedua kelompok etnis, adalah pandangan primordialis. Selain itu, menurut argumen primordialis mengungkapkan bahwa perbedaan yang tak terdamaikan karena kesenjangan budaya menyebabkan ketakutan dan konflik yang melahirkan kekerasan.

Meskipun studi sejarah yang lebih baru telah diakui bahwa genosida 1994 di Rwanda adalah hasil dari perbedaan dalam kekuasaan dan kekayaan antara Tutsi dan Hutu, primordialis menegaskan bahwa Hutu dan Tutsi dikembangkan sepenuhnya dalam budaya yang terpisah dan yang demikian pasti akan terjadinya konflik dengan satu sama lain.

Yunita venisa
Seorang mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di UNTAN yang hanya menulis untuk melepaskan penat dan stress akibat hiruk pikuk duniawi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.