Senin, Februari 26, 2024

Krisis Moral, Cerminan Pendidik Abad 21

Via Rizqi Dwiyanti
Via Rizqi Dwiyanti
Mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas lembaga pendidikan, sebab lembaga pendidikan yang berkualitas tentu akan melahirkan banyak generasi penerus yang berkualitas pula.

Pendidik yang tidak kompeten akan memengaruhi kinerja sebuah lembaga pendidikan pun termasuk di dalamnya peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu pendidik harus memiliki kompetensi yang mumpuni, tidak hanya kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran, kemampuan dalam memberikan keteladanan dan dedikasi serta keprofesionalan pendidik juga dibutuhkan sebagai satu kesatuan kompetensi guru.

Karena beban kompetensi yang harus ditanggung begitu berat, tak heran jika seorang guru digadang-gadang sebagai sosok yang akan membawa transformasi pengetahuan dan akhlak pada generasi penerus. Lantas bagaimana harapan tersebut dapat terwujud jika guru tidak memiliki integritas moral dalam dirinya?

Degradasi moral yang dialami guru masa kini

Khalayak umum seringkali mengeluhkan bagaimana kondisi anak-anak zaman sekarang yang mayoritas minim tata krama dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Problematika ini perlu ditelusuri akar permasalahannya. Faktor utama kurangnya etika dalam diri anak-anak tentu datangnya dari keluarga, sebab keluarga adalah media belajar pertama dan utama sang anak.

Namun tidak bisa dipungkiri, guru juga ambil bagian dalam proses penanaman karakter anak sejak dini. Dalam hal ini, ketidakcakapan guru dalam memberi nilai-nilai keteladanan menjadi salah satu faktor minimnya etika anak-anak masa kini.

Guru yang tidak memiliki kompetensi kepribadian yang baik juga perlu dipertanyakan integritasnya sebagai pendidik. Ada alasan kuat mengapa guru harus memberikan contoh nilai-nilai keteladanan yang baik. Sebab guru adalah sosok yang akan menjadi pedoman yang ditiru murid-murid, maka sudah sepantasnya guru harus senantiasa bersikap dan berperilaku yang baik juga.

Walau tidak dapat dipungkiri guru juga manusia, dan selayaknya manusia tentu guru tidak luput dari salah dan khilaf. Hanya saja, argumen manusia tidak ada yang sempurna akhlaknya tidak bisa dijadikan alasan untuk terus berbuat kesalahan.

Dewasa ini, kita banyak menjumpai persoalan yang melibatkan pendidik sebagai pelaku di berbagai permasalahan. Mulai dari kekerasan dalam sekolah hingga pelecehan seksual dengan perempuan-perempuan tidak berdaya sebagai korban. Hal ini tentu menjadi tanda tanya besar, benarkah para pendidik di Indonesia tengah mengalami degradasi moral?

Karena guru yang seharusnya menampilkan citra baik sebagai bentuk keteladanan agar dapat ditiru murid justru bertindak sebagai pelaku dan mencelakai peserta didiknya sendiri. Jika yang ditampilkan pendidik, baik dosen maupun guru adalah hal-hal tidak baik dan tidak senonoh maka jangan heran jika cerminan murid-muridnya pun demikian adanya. Kembali lagi, kualitas pendidik akan memengaruhi seluruh kinerja satu lembaga pendidikan. Bisa dikatakan semakin bobrok kompetensi yang dimiliki sang pendidik, semakin rusak seluruh substansi yang terkait, tidak terkecuali murid-murid itu sendiri.

How to be an angel as human being

Maka bagaimana seharusnya pendidik berperilaku dalam menjalani kehidupannya, baik itu di dalam lingkup lembaga pendidikan maupun di luar sebagai masyarakat biasa? Berkaca pada kasus-kasus yang terus naik ke permukaan−kekerasan di sekolah yang berujung mencelakai murid; pelecehan seksual yang mengakibatkan banyak korban trauma berkepanjangan, menandakan ada yang tidak benar dalam proses sang pendidik memaknai profesinya yang mulia.

Sebagai pendidik yang sarat akan beban dan tanggung jawab mulia kerap kali mereka dipandang sebagai sosok sempurna dan tanpa cela, yang tentu kita semua tahu tidak mungkin adanya. Selama masih berpijak di atas dunia, kesempurnaan adalah fiktif belaka. Yang bisa dilakukan adalah sebisa mungkin untuk terus berbuat baik dengan menjaga etika. Orang yang berpendidikan sekalipun, tidak akan dicap sebagai orang yang berilmu jika tidak dibarengi dengan akhlak yang baik.

Dengan menjaga etika, berarti kita telah berusaha membentengi diri dari godaan hawa nafsu. Sebab, semakin jauh dari etika, semakin dekat ia dengan kehancuran. Seluruh aspek ilmu yang ia pelajari puluhan tahun tidak berguna lagi jika etika telah menjauh dari hidupnya. Seorang pendidik yang berusaha menjaga etikanya, sebisa mungkin akan berpikir jernih dan menghindari kekerasan dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya. Seorang pendidik yang menjaga etika, tentu akan menjauhi hawa nafsu yang ditiupkan oleh syaithon kepada dirinya.

Selaras dengan argumen tersebut, Habib Zain bin Smith, ulama abad ini yang merupakan pemerhati etika pendidik juga berpendapat bahwa tanpa etika, ilmu dan pengajaran dari seorang pendidik tidak akan membawa manfaat dan justru memberi kerusakan. Betapa pentingnya keberadaan etika dalam diri pendidik sehingga sudah seharusnya pendidik mengedepankan aspek berperilaku baik di setiap kegiatan yang dijalaninya. Pendidik bukanlah malaikat. Tidak ada unsur 100% sempurna dalam darah pendidik. Tetapi paling tidak, sebagai pendidik, kita harus senantiasa menjaga etika. Saya ulangi, sebagai manusia, kita harus menjaga etika. Bukan karena kita ini siapa, melainkan karena kita ini apa.

Kita adalah manusia, dan etika menjadi garis pembatas antara manusia dan hewan. Di zaman seperti sekarang ini, akal pikiran bukanlah aspek yang membedakan antara manusia dan hewan, sebab orang-orang yang katanya berakal pun telah menyadur cara berpikir hewan: mengedepankan insting dan hawa nafsu. Satu-satunya perbedaan yang membuat manusia lebih unggul dari hewan adalah etika. Maka jagalah etikamu. Terlebih jika kamu seorang guru.

Pertahankan nilai mulia profesi kependidikan dengan cara mempertahankan keberadaan etika dalam akal, pikiran, nurani dan di setiap hela nafasmu. Sejak dulu, profesi pendidik adalah profesi yang mulia. Jangan sampai akibat ulah orang-orang tidak bertanggungjawab kemuliaan profesi tersebut berkurang. Sebagai pendidik, kita tahu bahwa tidak ada manusia yang 100% sempurna akhlaknya, tetapi mari kita berusaha untuk menjadi baik pada 99,9% sisanya.

Via Rizqi Dwiyanti
Via Rizqi Dwiyanti
Mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.