Senin, Januari 5, 2026

Krisis Kenakalan Remaja di Era Digital

Muallifah
Muallifah
Praktisi Pendidikan/Program Director at ThinkTank.ID
- Advertisement -

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat urban Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), sebuah fenomena mengkhawatirkan sedang berkembang pesat. Remaja yang seharusnya fokus pada pendidikan dan pengembangan diri justru terjebak dalam pusaran kenakalan yang telah bertransformasi menjadi kejahatan terorganisir berbasis digital.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh ThinkTank.ID, BRIN, dan Polda Metro Jaya (2025) mengungkap fakta mencengangkan: siswa berusia 15 tahun mampu mengelola prostitusi online, berkomunikasi dengan warga negara asing untuk mengoperasikan situs judi daring, dan mengorganisir tawuran yang disiarkan langsung melalui media sosial untuk mendapatkan validasi dan sponsor dari jaringan kriminal.

Manifestasi Kenakalan Remaja 2.0 ini bukan sekadar evolusi dari kenakalan konvensional seperti tawuran atau vandalisme. Ini adalah transformasi fundamental yang mengubah remaja dari pelaku kenakalan spontan menjadi operator dalam jaringan kejahatan terstruktur dengan dimensi ekonomi yang jelas.

Grosseck dan Holotescu (2012) mengingatkan bahwa meskipun remaja kontemporer “extremely adept at using new technologies,” mereka mengalami “lack of maturity and life experience” yang membuat mereka rentan “quickly get into trouble with these new social venues” (p. 2). Dalam konteks ini, pertanyaan krusial muncul: siapa yang paling berperan dalam mencegah dan meminimalisir manifestasi kenakalan ini? Jawabannya mengarah pada sosok yang selama ini menjadi pilar utama institusi keluarga: perempuan baik sebagai ibu, istri, maupun anggota keluarga perempuan lainnya.

Realitas Kelam: Ketika Keluarga Kehilangan Fungsi Protektifnya

Temuan ThinkTank.ID, BRIN, dan Polda Metro Jaya (2025) mengungkapkan bahwa “orang tua menjadi faktor dominan yang berperan menciptakan perilaku remaja” (hal. 15). Namun, yang mengejutkan adalah banyak orang tua, terutama mereka yang sibuk bekerja tidak menyadari bahwa anak mereka terlibat dalam aktivitas kriminal digital. Sebuah kutipan dari laporan penelitian menggambarkan ironi yang menyakitkan:

“Orang tua yang menjemput anaknya karena ditahan di kantor polisi seringkali berdalih bahwa anaknya merupakan anak yang baik. Orang tua merasa bahwa mereka telah mengenali anak mereka dengan baik hanya karena anaknya sering berperilaku baik selama di dalam rumah. Padahal, kenyataannya seringkali tidak demikian. Sebagai contoh, banyak diantara orang tua yang tidak mengetahui siapa nama teman-teman dari anaknya.” (ThinkTank.ID, BRIN, & Polda Metro Jaya, 2025, hal. 15)

Grosseck dan Holotescu (2012) menjelaskan akar permasalahan ini dengan tajam: “As parents lead increasingly hurried and busy lives, as they become more and more stressed and disillusioned with their own existence, they spend less time with their children, and the lack of communication sometimes creates impassable barriers between the two” (p. 5). Dalam konteks Indonesia, terutama di wilayah urban Jabodetabek, fenomena ini diperparah oleh tekanan ekonomi yang memaksa kedua orang tua bekerja dengan jam kerja panjang, meninggalkan anak-anak dengan pengawasan minimal.

Survey ThinkTank.ID menunjukkan bahwa 82.8% responden masih tinggal dengan kedua orang tua (ThinkTank.ID, BRIN, & Polda Metro Jaya, 2025, hal. 4), namun “tinggal bersama” secara fisik tidak otomatis berarti ada komunikasi berkualitas. Komunikasi yang terjalin “hanya sebatas formalitas, maka yang terjadi adalah anak akan berusaha menutupi realita dalam dirinya” (hal. 15). Di sinilah peran krusial perempuan dalam keluarga menjadi sangat menentukan.

Keunggulan Komparatif Ibu dalam Pengasuhan

Dalam struktur keluarga Indonesia, perempuan, khususnya ibu, secara tradisional dan kultural memiliki posisi strategis sebagai primary caregiver dan emotional anchor bagi anak-anak. Meskipun paradigma gender telah berkembang dan ayah semakin terlibat dalam pengasuhan, realitas sosial menunjukkan bahwa ibu masih menjadi figur utama yang menghabiskan waktu terbanyak dengan anak, terutama dalam aspek komunikasi emosional dan pendampingan keseharian.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki beberapa keunggulan komparatif dalam konteks pencegahan kenakalan remaja:

- Advertisement -

1. Sensitivitas Komunikasi dan Deteksi Dini

Perempuan, secara umum, memiliki kemampuan superior dalam membaca komunikasi non-verbal dan perubahan emosional anak. Staksrud (2016), dalam review-nya tentang Youth 2.0, menyoroti bagaimana remaja membangun “open source network identity” melalui interaksi online (p. 515), sebuah identitas yang sering tersembunyi dari orang tua. Namun, ibu yang peka dapat mendeteksi perubahan perilaku subtle seperti pola tidur yang berubah, kecemasan yang meningkat, atau ketertutupan yang tidak biasa, tanda-tanda bahwa anak mungkin terlibat dalam aktivitas online yang bermasalah.

2. Kualitas Waktu vs Kuantitas Waktu

Grosseck dan Holotescu (2012) menekankan pentingnya “quality time” dalam pencegahan kenakalan: “In order to win children’s trust and be able to communicate with them openly about all the moments in their lives, whether they are good or bad, they must be given the place and respect that they deserve within the family” (p. 5). Dalam konteks keluarga Indonesia di mana ayah sering bekerja dengan jam panjang atau bahkan di luar kota, ibu—bahkan yang bekerja—lebih mampu menciptakan momen-momen komunikasi berkualitas seperti saat makan bersama, mengantar-jemput sekolah, atau sebelum tidur.

3. Pemahaman tentang Relasi Sosial Anak

Temuan ThinkTank.ID menunjukkan bahwa 86.6% responden mengakui peer pressure sebagai faktor dominan kenakalan remaja (ThinkTank.ID, BRIN, & Polda Metro Jaya, 2025, hal. 7). Staksrud (2016) menjelaskan fenomena ini melalui konsep information sharing sebagai “form of equal exchange in a circle of peers” (p. 516). Ibu yang aktif berkomunikasi dengan anak cenderung lebih tahu tentang circle pertemanan anak, dinamika peer group, dan tekanan sosial yang dihadapi anak, informasi krusial untuk deteksi dini dan intervensi preventif.

Di Mana Peran Ibu?

Berdasarkan masalah tersebut, ada beberapa yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam keluarga, di antaranya: pertama, aktif parenting bukan sekedar monitoring. Ibu memiliki peran besar dalam membersamai aktivitas digital anak. Kedua, memberikan basis kepercayaan kepada anak agar tercipta hubungan yang sehat. Ketiga, pendidikan literasi digital dan etika online.

Ibu perlu memberikan pondasi kepada anak, hal apa saja yang bisa dilakukan oleh anak dalam melakukan aktivitas digital sebagai proteksi sang anak dalam menggunakan media sosial. Keempat, Survey ThinkTank.ID menemukan bahwa 86.6% responden mengakui peer pressure sebagai faktor kunci (ThinkTank.ID, BRIN, & Polda Metro Jaya, 2025, hal. 7). Staksrud (2016) menjelaskan bahwa remaja berbagi informasi secara reciprocal sebagai “equal exchange in a circle of peers” (p. 516).

Ibu perlu mengenal lingkungan anak, termasuk teman ataupun kesukaan, idola sang anak. Kelima, Kolaborasi dengan Ayah dan Extended Family. Bagaimanapun, ibu tidak bisa berperan sendirian. Ayah juga harus mengerti dan memahami tujuan yang harus dicapai dari pengasuhan sang anak. melakukan proteksi adalah tugas bersama oleh ayah dan ibu.

Muallifah
Muallifah
Praktisi Pendidikan/Program Director at ThinkTank.ID
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.