OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Jumat, Desember 9, 2022
From Korea With Love Concert

Kontroversi ‘The Great Reset’, Tatanan Dunia Baru

Alfi Zumrotul Latifiyah
#Scientist #Philosophia
From Korea With Love Concert

Narasi “the great reset” Prof. Klaus Schwab mengatakan perlunya pengawasan serta pemindahan otak manusia untuk mengontrol aktivitas mereka akan membuat tatanan dunia yang baru dan lebih, inilah proyek besar World Economic Forum.

“The Great Reset”

“Ada banyak alasan untuk melakukan ‘Great Reset’. Akan tetapi yang paling mendesak adalah COVID-19. Setelah menyebabkan ratusan ribu kematian, pandemi ini merupakan salah satu krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam sejarah baru-baru ini. Dan dengan korban yang masih terus meningkat di banyak bagian dunia, ini masih jauh dari selesai,” dikutip dalam situs World Economic Forum.

Rasanya semakin tidak mudah saja masa depan, ketika kita sampai pada titik akan seperti apa keadaan dunia yang kita tempati hari ini dalam beberapa tahun ke depan dan cara mendapatkan kekuatan untuk bertahan hidup.

Tetapi membayangkan masyarakat masa depan dapat memberi kita perspektif baru bukan tentang tantangan dan peluang hari ini supaya umat manusia menjadi waspada dan mencari alternatif untuk bisa survive dan beradaptasi demi kelangsungan hidup yang lebih baik dalam menjalani kehidupan si masa-masa mendatang.

Ada 8 prediksi masa depan tentang dunia pada tahun 2030 yang dikampanyekan World Economic Forum, namun ada 1 hal yang menarik penulis untuk beropini yaitu “Anda tidak akan memiliki apa-apa. Dan Anda akan bahagia”, tertulis dalam situs World Economic Forum dikatakan “bahwa sebagian produk akan menjadi layanan. Dalam artian “Saya tidak memiliki apa-apa. Saya tidak memiliki mobil. Saya tidak memiliki rumah. Saya tidak memiliki peralatan atau pakaian apa pun,” tulis anggota parlemen Denmark Ida Auken.

Belanja hanya menjadi kenangan di tahun 2030, Masyarakat tidak lagi ingin memiliki sesuatu mereka lebih memilih untuk meminjam atau menyewa apa yang mereka perlukan. Setiap gerakan dilacak, dan ketidakpuasan akan hadir di mereka yang idup diluar kota, ini adalah penggambaran akhir dari masyarakat yang terbelah menjadi dua”.

Bagaimana bisa umat manusia dimasa mendatang tidak akan memiliki apapun tapi bisa hidup dengan bahagia. Saya berfikir ini mungkin solusi akhir zaman, dimana manusia semakin banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup memiliki sesuatu tidak lagi menjadi hal yang efektif.

Seperti yang kita tahu masyarakat zaman sekarang mempunyai filosofi hidup praktis, contohnya membeli rumah bukan lagi dipandang sebagai hal mutlak semua ini tergantung kebutuhan saja, jika hidupnya nomaden sering bepergian untuk apa memiliki rumah tetap akan jauh lebih efektif ngontrak, kos, atau lainnya. Katakanlah dari pada kamu membeli montor akan lebih baik jika kamu menyewanya apalagi jika presentase kebutuhanmu tidak seberapa.

Mari berfikir mendalam, benarkah ini solusi!. Rasanya tidak. Tidak kah kamu berfikir ini ilusi yang diciptakan oleh mereka, analoginya seperti ini, saat seluruh kebutuhan mu dicukupi dengan menyewa bukankah itu berarti ada namanya pihak penyewa, siapa kah pihak penyewa ini? Ya benar itulah sang pemilik.

Ingat dengan teori konspirasi ekonomi “permintaan dan penawaran yang tidak seimbang ditambah kondisi pasar yang berat sebelah akan membuat si miskin makin miskin dan si kaya makin kaya”.

Dunia ini ingin ditata ulang oleh mereka, upaya pemulihan ekonomi, tatanan sosial, lingkungan akan di cetak ulang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.

Dalam sebuah artikel bertajuk Great Reset Masterminds Suggest Risk Assessment Brain Scans Before Allowing Travel, yang dirilis oleh situs Summit News, ketua eksekutif Forum Ekonomi Dunia, Prof. Klaus Schwab pernah menyarankan perlunya untuk membatasi ledakan populasi dengan melakukan pengawasan serta pemindahan otak manusia untuk mengontrol aktivitas dan membuat tatanan dunia yang baru dan lebih baik.

Memiliki arti, manusia tidak lagi punya hak atas dirinya sendiri, bayangkan saja bagaimana jika otak kita bisa diketauhi lalu diprogram oleh otak lainnya (mereka) yang lebih punya otoritas, kekuatan, dan kekuasaan. Jika proyek ini berjalan dengan asumsi diatas maka tujuan dari “The Great Reset” tidak lagi murni untuk kebaikan umat manusia melainkan “The Great Reset” diciptakan untuk kebaikan orang-orang tertentu.

Dunia tidak 100% apa yang terlihat, banyak hal disembunyikan dan itulah yang terkadang menjelma menjadi konspirasi biasanya. Konspirasi tidaklah buruk, justru membuat otak manusia semakin bekerja, tapi akan jauh lebih baik lagi bukan hanya akal pikiran manusia saja yang bekerja, jiwa nya juga.

Menginnginkan dunia ini tanpa konspirasi sama saja bohong, tidak realistis, dan kenapa tidak dibalik hal negatif pun pasti ada dampak positif yang bisa kita ambil. Dan jangan terlena dengan hal positif yang biasa kita lakukan, karena segala sesuatu yang terlalu tanpa tau porsinya tidak lah baik. Terakhir apapun yang terjadi di masa depan, semoga mereka sang pemilik otoritas tidak lupa dengan tujuan murni dari setiap proyek yang dibuat untuk kemaslahatan umat manusia.

Alfi Zumrotul Latifiyah
#Scientist #Philosophia
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.