Kontestan Curang, KPU Disalahkan?

Herlina Butar-Butar
Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)
- Advertisement -

Lepas waktu sejak 17 April 2019 kita mampu melaksanakan Pemilu Serentak, masih mengalir deras lelehan keringat dan airmata petugas KPPS. Segala pujian negara lain tentang keberhasilan KPU menyelenggarakan Pemilu serentak yang luar biasa, kini terus-menerus ditenggelamkan hingga “kelelep” akibat ulah sekelompok manusia.

Mulai dari tuduhan curang, klaim kemenangan sepihak padahal hasil penghitungan belum diumumkan, pemasangan baliho-baliho raksasa sehingga kerja keras KPU tidak dianggap sama sekali, penemuan kertas C1 palsu yang diduga akan dipergunakan untuk mendiskreditkan KPU, hingga ajakan merdeka dari seorang mantan jendral.

Bahkan, belakangan hari berkembang tuduhan keji tentang muntah darah dan lain sebagainya untuk terus mengembangkan kebencian diantara sesama anak bangsa Indonesia.

Tanpa ragu, tanpa malu, terus-menerus mereka mengotori bulan Ramadhan dengan teriakan-teriakan tuduhan kecurangan.

Terbayang di mata saya, seorang perempuan muda menangisi kematian ayahnya, Ketua KPPS yang sakit karena kelelahan.  Kematian itupun masih harus dibebani dengan rasa sakit hati dari sang ayah karena didera tuduhan kecurangan hingga akhir hayatnya.

Terbayang di depan mata saya, seorang yang pernah menjalani sumpah tentang sapta marga, tetapi sekarang melakukan sumpah serapah seraya terus menggosok syahwat sebuah kelompok demi memuaskan birahinya akan sebuah nafsu kemenangan.

Sebagai bangsa Indonesia yang sebagian besar mayoritas muslim, saya malu. Sebegitunya mereka meneriakkan perpecahan di bulan yang seharusnya suci bagi umat muslim.

Yang menzdolimi teriak bahwa mereka yang didzolimi. Masih masuk akal bila kelompok satu menuduh kelompok lain. Mereka, para kontestan adalah pihak yang paling berkepentingan untuk menang.

Tetapi, saat kelompok satu membiarkan teriakan-teriakan itu bergema di ruang hampa, maka corong teriakan itu diteriakkan ke telinga KPU, mengganggu mereka yang sedang bekerja hingga tetes darah terakhir demi demokrasi bangsa. Ini ulah pengkhianat.

9 Mei 2019, Ramadhan yang Panas

Beberapa hari ke belakang, beredar video itu. Video tentang ajakan Mantan Kepala Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Tentara Nasional Indonesia (purn) Kivlan Zen akan menggelar unjuk rasa di di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 9 Mei 2019. Tujuan unjuk rasa itu adalah menuntut penyelenggara pemilu mendiskualifikasi pasangan calon nomor 01 Joko Widodo alias Jokowi – Ma’aruf.

- Advertisement -

Dari beberapa video, ajakan itu untuk me”likuidasi” Joko Widodo. Segala teriakan dan tuduhan kecurangan secara kasat mata terlihat sebagai upaya mendeligitimasi KPU secara terstruktur, sistematis dan massif.

Sekali lagi, ada sekelompok orang yang berupaya mendeligitimasi KPU secara terstruktur, sistematis dan massif! Mungkin orang-orang ini sama dengan orang-orang yang sengaja mengotori bulan Ramadhan untuk mencoreng nama Indonesia di mata dunia.

Siang ini, saya berjaga di sekitar KPU. Gulungan kawat membentengi KPU kami. Bila terjadi masalah, saya mempersiapkan diri menjadi benteng hidup. Melihat dari pojokan jalan Sabang menahan terik matahari dan lelehan keringat yang membasahi rambut kami.

Hingga jelang sore hari, gulungan kawat itu tak bergeming. Saya bersama Imam Muzaki masih tak beranjak menunggu kabar lebih lanjut.

Kami berjalan melangkah menuju motor, melangkah pulang melewati gulungan kawat itu seraya memotret tajamnya gulungan kawat itu demi menjaga negeri. Menulis potret kepedihan keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya, tetapi harus menelan semua teriakan menyakitkan itu.

KPU, maafkan kami. KPU, maafkan saudara-saudara kita.Telinga seluruh warga negeri ini menunggu hasil pengumuman resmi dari kalian. Kalian, pahlawan demokrasi Indonesia.

Kami sedih, ribuan polisi berjaga, sementara para pendemo seenaknya terus-menerus bikin negeri ini gaduh. Kami pulang dengan bahagia, karena rembang petang menyambut kami berbuka dengan hati tenang.

Herlina Butar-Butar
Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)
Facebook Comment
- Advertisement -