OUR NETWORK
Senin, Februari 6, 2023

Kinerja Ekonomi Indonesia Masih Kuat?

Nur Aisah
Penulis artikel
From Korea With Love Concert

Pemulihan ekonomi terus berlanjut, namun melambat di banyak negara. Meski demikian, kinerja ekonomi Indonesia masih tumbuh kuat. Kinerja sektor eksternal Indonesia sangat positif, didukung neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus serta ekspor dan impor Agustus 2022 yang merupakan tertinggi sepanjang masa.

Menkeu menambahkan, aktivitas manufaktur Indonesia masih terus menguat dengan tekanan inflasi Agustus 2022 yang semakin berkurang. Peningkatan konsumsi listrik juga berlanjut, menunjukkan terus tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan tumbuh lebih baik di 2022, sejalan dengan proyeksi yang dilakukan oleh lembaga internasional terkemuka seperti ADB (5,4 persen), IMF (5,3 persen), Bloomberg (5,2 persen), Bank Dunia (5,1 persen).

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh berbagai lembaga internasional pada level antara 5,1 hingga 5,4 persen untuk tahun ini, ADB bahkan melakukan revisi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, dari semula 5,2 menjadi 5,4 persen. Ini tentu karena kinerja dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua yang cukup tinggi, dan saat ini sampai kuartal ketiga juga menunjukkan aktivitas yang masih sangat cukup kuat,” jelas Menkeu.

“Pada sisi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia yaitu 5 persen berturut-turut selama 4 kuartal. Kuartal terakhir tahun lalu juga tumbuh di atas 5 persen, maka perekonomian Indonesia sudah 6,6 persen di atas pre-pandemic level yaitu tahun 2019. Ini termasuk pemulihan yang relatif kuat dan cepat, dibandingkan banyak negara lain yang bahkan banyak atau beberapa yang masih belum, termasuk Inggris very very late, sampai hari ini mereka hampir belum pulih pada level pre-pandemic level.

Negara emerging biasanya bisa tumbuh lebih cepat. Tapi di sini, Thailand dan Jepang masih di bawah dari pre-pandemic level,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers APBN Kita (Kinerja dan Fakta) Edisi November 2022 secara virtual dikutip hari ini.

Di tengah pelemahan tersebut, pemulihan ekonomi Indonesia merupakan salah satu yang paling kuat di antara negara G-20 dan ASEAN-6.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III 5,72 persen (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi. Sejalan dengan hal tersebut, ekonomi Indonesia di tahun 2022 diperkirakan masih akan tumbuh lebih baik. Demikian pula sebagaimana yang diproyeksikan oleh lembaga internasional terkemuka seperti ADB (5,4 persen), IMF (5,3 persen), Bloomberg (5,2 persen), Bank Dunia (5,1 persen), dan yang terbaru OECD (5,3 persen).

Di tengah beragam tantangan, kinerja APBN hingga Oktober 2022 tetap positif dan terkendali, ditopang pendapatan yang sangat baik. Sementara itu, belanja negara tumbuh, namun perlu tetap terus diakselerasi.

Pengelolaan fiskal yang inklusif dan pruden di tengah kondisi kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar, mendorong penurunan kebutuhan pembiayaan. Secara keseluruhan, APBN 2022 berkinerja baik, namun berbagai ketidakpastian dan risiko akibat tekanan global harus diwaspadai dan dimitigasi.

Pemulihan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat di tengah pelemahan prospek ekonomi global. Dari sisi eksternal, tren surplus neraca perdagangan terus berlanjut hingga memasuki bulan ke-30, yaitu pada bulan Oktober surplus sebesar USD5,67 miliar.

Ekspor dan impor bulan Oktober 2022 tumbuh positif didukung naiknya ekspor migas dan non migas, di mana ekspor tumbuh 12,30 persen (yoy) dan impor tumbuh 17,44 persen (yoy) dari tahun sebelumnya namun mengalami penurunan 3,40 persen (mtm) dibandingkan bulan September 2022.

Prospek pertumbuhan jangka pendek masih cukup kuat, terefleksi baik pada sisi konsumsi maupun produksi. Indeks penjualan ritel masih cukup kuat turut menopang pemulihan ekonomi, yaitu sebesar 4,5 persen (yoy) pada bulan Oktober. Indeks Keyakinan Konsumen bulan Oktober semakin meningkat sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi Indonesia, yaitu 120,3 per 22 Oktober 2022, serta belanja masyarakat dilihat dari Mandiri Spending Index masih terus terjaga di angka 126,6 per 23 Oktober 2022.

Sementara dari sisi produksi dan investasi, PMI Manufaktur Indonesia terus ekspansi selama 14 bulan berturut-turut, meski menurun di bulan Oktober mencapai 51,8. Selanjutnya, konsumsi listrik bulan Oktober tumbuh masih tinggi terutama untuk kegiatan bisnis dan industri yaitu12,5 persen (yoy) dan 5,7 persen (yoy). Selanjutnya, kapasitas produksi untuk manufaktur dan pertambangan terus meningkat, mendekati level sebelum pandemi.

Sementara itu, arus keluar di Pasar Obligasi Emerging Market dan Development Market masih berlanjut. Pasar keuangan domestik ikut terdampak dan mempengaruhi cost of fund. Menurunnya inflasi AS pada Oktober 2022 ke level 7,7 persen turut memberi sinyal perlambatan kenaikan FFR yang mendorong asing masuk ke pasar obligasi negara EM termasuk Indonesia pada November 2022.

Nur Aisah
Penulis artikel
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.