Jumat, April 23, 2021

Kiai dan Muslim Jawa

Mudik dan Kesadaran Mengembali

Mudik adalah peristiwa kultural yang mempersyaratkan dua dimensi: migrasi dan ‘kepemilikan’ kampung halaman. Ia boleh jadi berangkat, atau setidak-tidaknya berjalin-kelindan, dengan ketimpangan ekonomi akibat...

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya lebih tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya...

Gerakan Mahasasiswa Bukanlah Gerakan Premanisme

Sejarah mencatat bahwa keberlangsungan negara ini tak luput dari peran seorang pemuda. Baik sebelum kemerdekaan atau pun sesudahnya. Seperti penggulingan orde lama hingga orde...

Cara Tuhan Mengajarkan Investasi

Bertanam boleh jadi merupakan aktivitas penghidupan manusia paling tua. Dengan bertanam, manusia hidup dan mengembangkan kehidupan bumi. Apa yang kita makan hari ini adalah...
labiq
Ketua II Bidang Eksternal PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang

Mayoritas masyarakat Jawa adalah penganut agama Islam, yakni sekitar 95%. Muslim di tanah Jawa sendiri juga memiliki dua kategori, yakni Kaum Santri dan Abangan. Bagi kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam hukumnya Fardhu Ain, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam, namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat.

Meskipun begitu, keduanya memiliki suatu figur yang sama dan bagi mereka sendiri dijadikan landasan yang kuat bagi tuntunan hidup sehari hari, dihormati dan dipuja-puja setelah wafatnya Nabi.

Figur yang dimaksud adalah kiai, memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menggerakkan kehidupan beragama dan kerukunan umat beragama. Sebutan kiai dalam suatu komunitas mengacu pada konsep masyarakat bedasarkan kriteria yang masing-masing daerah berbeda.

Istilah kiai hanya ada dalam budaya Jawa, bagi Muslim Jawa kiai adalah apa atau siapa saja yang mereka puja dan mereka hormati serta mereka jadikan landasan yang kuat bagi kehidupan beragama sehari hari.

Kiai bukan hanya seorang tokoh namun juga benda-benda yang dihormati dikarenakan diyakini memiliki suatu ilmu dan memiliki alasan tertentu yang lainnya juga disebut kiai. Kiai Sabuk Inten, Kiai Nagasasra, Kiai Plered, misalnya, sebutan untuk senjata; Kiai Slamet sebutan untuk kerbau di Keraton Surakarta.

Bagi Muslim Jawa, orang yang disebut kiai semula adalah mereka yang dipuja dan dihormati masyarakat karena ilmunya, serta memiliki jasa dan  rasa kasih sayang mereka terhadap masyarakat.

Dulu, kiai yang umumnya tinggal di desa benar-benar menjadi kawan dan juga tumpuan bagi masyarakat termasuk tempat bertanya dan meminta pertolongan.

Sebaliknya, kiai yang dipuja dan dihormati masyarakat itu memang mencintai masyarakat dan seperti mewakafkan dirinya untuk mereka. Kiai yang termasuk golongan mereka yang “yanzhuruuna ilal ummah bi’ainir rahmah”, melihat umat dengan mata kasih sayang, memberikan pelajaran kepada yang bodoh, membantu yang lemah, menghibur yang menderita dan seterusnya.

Komplek pesantren yang umumnya 100 persen dibangun kiai adalah bukti perjuangan dan pengabdian kiai kepada masyarakat.

Kiai dalam kalangan muslim jawa, baik dari kaum santri maupun abangan dianggap memiliki kelebihan khusus, terutama dalam bidang ilmu kanuragan atau kesaktian, ilmu ini hanya sedikit dipercaya di kalangan muslim, bahkan selain muslim jawa ilmu kanuragan bisa saja dianggap kesyirikan.

Ilmu agama dan ilmu kanuragan atau kesaktian ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak bisa dipisahkan. Sebab, seorang kiai harus dibekali kemampuan lebih untuk menjaga diri ketika berdakwah. Maka wajar kemudian kisah-kisah kiai di kalangan muslim jawa selalu lekat dengan ilmu kanuragan. Banyak kiai di Jawa yang selain dikenal memiliki ilmu agama mumpuni.

Kanuragan dan kesaktian para kiai juga dibutuhkan semasa pergerakan kemerdekaan RI untuk melawan penjajah. Kisah kesaktian kiai dan santri pada masa perang kemerdekaan di Surabaya adalah contohnya. Resolusi jihad NU menjadi pemicu meletusnya perang 10 November di Surabaya. Para pejuang kemerdekaan yang di dalamnya ada barisan pasukan Hizbullah, barisan para santri pondok pesantren yang dilatih perang untuk melawan penjajahan, menjadi kisah epik bagi para kaum santri.

Melihat dari peran kiai terhadap banyak aspek bagi kehidupan orang nusantara dan muslim jawa khususnya, maka sosok figur kiai menjadi tidak mungkin bisa tergantikan oleh sebuah teknologi, sebut saja mbah google.

Muslim jawa dan kiai adalah satu kesatuan, kiai adalah tumpuan bagi muslim jawa, dan masyarakat bagaikan tempat mengabdi para kiai, banyak kiai kontemporer yang ngendika “wong jowo ora iso urip tanpo kiai”. Dua hal yang sosok kiai tidak dapat tergantikan oleh sebuah teknologi adalah karena kiai memiliki rasa dan kasih sayang terhadap sesama muslim jawa.

labiq
Ketua II Bidang Eksternal PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.