Jumat, April 23, 2021

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Meneladani dan Mengambil Pelajaran Isa Al-Masih

Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati  di mana...

Munazarah, Sebuah Tradisi yang Hilang….

Membaca karya Prof Hasan tentang sejarah tradisi intelektual yang telah menghilang membuat saya terkagum-kagum, ternyata pernah  ada tradisi yang  mampu membuat ummat ini  disegani...

Pandemi Covid-19 dan Ruang Baru Masyarakat Digital

Belum ada tanda pandemi global akan berakhir. Pandemi Corona virus disease (covid-19) telah tersebar keseluruh penjuru negeri. Sampai saat ini telah ditemukan sebanyak 2.572.776 kasus...

Tuhan, Cinta, dan Rumi

Cinta adalah bagian dari fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Dengan cinta, kehidupan manusia dimulai. Misalkan saja dalam agama Islam di mana manusia pertama...
Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tindakan yang dihiasi dengan kebaikan dan kemuliaan, menjunjung tinggi norma-norma yang ada di masyarakat, serta bertanggung jawab secara penuh atas semua tindakan yang telah dibuatnya.

Pelajaran untuk menanamkan sifat budi luhur sangat mudah kita peroleh dari berbagai referensi yang tersedia. Sebagai bangsa dengan kekayaan nilai seni dan budaya ketimuran yang kental, tentu tidak sulit untuk menemukan dan menyemai pelajaran berbudi luhur untuk diterapkan pada kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Berbicara mengenai seni dan kebudayaan, wayang beserta tokoh yang ada didalamnya merupakan salah satu bentuk seni dan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa kita, dimana didalamnya kaya akan nilai-nilai kehidupan yang relevan diterapkan oleh manusia lintas zaman.

Tidak terkecuali nilai-nilai budi luhur yang bisa diambil dari para tokoh wayang. Petruk salah satunya, sebagai salah satu tokoh dalam pewayangan yang juga merupakan anak dari Semar dan bagian dari Punakawan ternyata memiliki sifat-sifat budi luhur yang mampu dijadikan contoh dan relevan diterapkan oleh masyarakat modern.

Terinspirasi dari buku “Petruk Dadi Ratu” bab ke-8 karangan Suwardi Endraswara (2014), tokoh Petruk digambarkan sebagai seorang pelayan yang memiliki pemikiran visioner. Petruk dianggap mewakili golongan muda yang memiliki visi membangun yang brilian.

Disamping itu, Petruk juga memiliki sikap pasrah dan sumarah yang diyakini sebagai cikal bakal tumbuhnya sifat budi luhur. Petruk seringkali digambarkan sebagai tokoh pewayangan yang tidak tampan secara fisik. Namun dibalik itu bentuk tubuh Petruk yang unik tersebut dianggap memiliki makna filosofis budi luhur yang sangat mendalam.

Sebagai contoh, hidung panjangnya digambarkan bahwa manusia harus senantiasa meniti jalan yang lurus sebagai bekal bagi keselamatan dunia maupun akhirat. Tubuh Petruk yang cenderung membungkuk diartikan sebagai pengingat bahwa manusia harus senantiasa ingat asal usulnya dan jangan pernah lupa diri ketika diberikan nikmat oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, Petruk juga memiliki kelebihan sifat yang mulia seperti gemar membantu sesama dan sering dikatakan “mengkurep tangane dibanding mlumah” (gemar bekerja dan memberi namun jarang meminta). Masih sangat terinspirasi dari buku “Petruk Dadi Ratu” dalam setiap cerita wayang yang dipentaskan oleh Dalang, cukup sering terlintas pesan-pesan kebaikan yang mampu ditangkap dan diteladani oleh manusia zaman sekarang, diantaranya Petruk mencontohkan kepada kita untuk hidup dalam ketenangan dan jangan mencari musuh. Petruk menasehati manusia untuk menahan lawwamah (jiwa yang masih cacat cela), amarah, dan sufiyah.

Setelah mampu menahan dan menghindari nafsu tersebut, maka harus mampu untuk mempraktekkan nafsu mutmainah dan selalu memunculkan jiwa yang terang, tujuannya agar manusia bisa selamat dunia dan akhirat.

Selanjutnya, Petruk selalu mengajarkan kepada manusia agar tidak membenci ketetapan yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Petruk mengajarkan agar manusia selalu mengutamakan sifat dan sikap bersyukur atas pemberian nikmat-Nya baik secara hati, lisan, maupun sikap perilaku.

Sebuah konsep yang sederhana namun membutuhkan niat dan keikhlasan yang luar biasa ketika harus menerapkannya. Apalagi jika dikaitkan dengan zaman saat ini, dimana kehidupan terasa begitu berat dan sarat akan konflik, maka diperlukan iman dan keikhlasan yang sangat kuat untuk selalu bersyukur dalam menerima ketetapan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Petruk juga sering berkata bahwa Tuhan pasti memberikan kebahagiaan bagi ummatnya meskipun seringkali bersifat sementara. Petruk juga sering mengingatkan bahwa kebahagiaan yang kita peroleh merupakan kebahagiaan dunia yang bersifat fana dan harus selalu diimbangi dengan ibadah agar nantinya kebahagiaan itu berlanjut hingga akhirat kelak.

Secara umum Petruk berpesan bahwa manusia harus selalu berusaha  dan bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan dunia serta terus mengutamakan ibadah sebagai tabungan kebahagiaan akhirat. Ketika manusia sudah mampu mencapai kebahagiaan dunia, Petruk juga berpesan untuk tidak menjadi manusia yang serakah. Sejatinya memang ketidakpuasan dan keinginan untuk mendapatkan hal lebih menjadi sifat alami manusia, namun bukan berarti manusia harus bersikap serakah untuk mencapai tuuan kebahagiaannya.

Sifat serakah justru akan membuat tatanan kehidupan menjadi kacau dan tidak seimbang. Manusia serakah akan menindas manusia lain, manusia serakah juga akan merusak alam guna mencapai tujuan kebahagiaannya. Salah satu pengingat bagi manusia agar tidak hidup serakah adalah kematian.

Kematian merupakan konsep dan konsekuensi yang sudah pasti. Setiap yang hidup pasti akan mati, tidak peduli tua, muda, sehat, sakit, jika sudah saatnya Tuhan memanggil, maka manusia harus siap menghadap.

Konsep ini yang seharusnya bisa menjadi alarm bagi manusia bahwa ketika hidup di dunia harus mampu memberikan manfaat bagi sesama dan beribadah untuk Tuhannya. Petuah-petuah Petruk yang sering tersampaikan melalui pertunjukan kesenian wayang sejatinya masih sangat relevan dengan kehidupan manusia saat ini.

Zaman yang semakin modern dan rentan akan kepentingan masing-masing golongan cenderung merenggangkan ikatan sosial manusia serta menjadikan manusia sebagai robot-robot baru yang tidak memiliki rasa kepedulian terhadap apapun, juga menghilangkan sifat alamiah manusia sebagai makhluk yang berbudi luhur.

Khusus di Indonesia, di mana kehidupan berbangsa dan bernegara kita seringkali ternodai oleh sikap-sikap diskriminatif, konflik horizontal, dan saling curiga antar golongan masyarakat. Maka filosofi dan nasehat-nasehat Petruk patut menjadi bahan renungkan dalam upaya menanamkan sifat berbudi luhur sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat yang lurus sesuai tuntunan kepercayaan masing-masing.

Menyikapi perbedaan dengan rasa syukur, saling menghargai sesama manusia, hidup rukun berdampingan tanpa membedakan kelompok dan golongan, serta menjunjung tinggi keadilan bagi sesama masyarakat Indonesia.

Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.