Senin, Juni 17, 2024

Ketika Paham Apatis menjadi konsumsi kaum Intelektual

Sabar Budi Simbolon
Sabar Budi Simbolon
Fakultas Hukum, Universitas Bengkulu Ketua Komisariat IUSACT GMKI Bengkulu Tahun 2013-2104

Manusia adalah ciptaan yang paling mulia yang diberikan akal dan pikiran untuk memikirkan apa yang harus diperbuat.Aristoteles juga pernah berkata bahwa Manusia adalah “Makhluk Sosial” yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam segala aspek kehidupannya.Tidak terkecuali kaum intelektual yang menjadi agen of change dan social control.

Artinya Mahasiswa menjadi pembawa perubahan di lingkungan sosialnya dan menjadi penyeimbang di kehidupan bermasyarakat.Yang menjadi dasar mengapa Mahasiswa disebut sebagai pembawa perubahan,karena Tri tugas Mahasiswa menjawab yaitu Pendidikan,Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

Artinya sudah jelas bahwa Mahasiswa berbeda dengan Masyarakat biasa.Mahasiswa mempunyai senjata untuk membawa bangsa ini kerah mana.Ya benar memang ketika prinsip kehidupan Mahasiswa seperti teori tersebut tetapi itu hanya menjadi masa lalu.Tapi,di kehidupan postmodern serba canggih,serba instan dan serba mudah dengan gemerlapnya teknologi yang hampir tidak bisa dibendung di kehidupan Manusia sekarang.

Tidak terkecuali Mahasiswa terkena imbas  kemajuan teknologi yang sudah menggerus nilai nilai budaya timur.Budaya yang mengedepankan sopan santun,keramahan dan gotong royong.Ketika dikehidupan sekitar mu sudah acuh tak acuh atau bahasa gaul nya Siapa loe siapa Gue itulah yang dikatakan paham Apatis.

Seberapa banyak lagi zaman sekarang kumpulan Mahasiswa nongkrong di warung kopi sekedar ngopi bareng atau berdiskusi masalah kuliah,organisasi atau masalah kebangsaan.Seberapa banyak lagi Mahasiswa yang mau ikut aksi untuk menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat.Memang benar kita harus mengikuti kemajuan teknologi.

Tapi yang terjadi teknologi sudah menjadi alat pemusnah nilai nilai kehidupan.Bayangkan ketika kita bisa terhubung dengan siapa saja yang kita mau hanya dengan bermodalkan gadget ataupun laptop dan modem ataupun wifi.Kita tak peduli lagi dengan apa yang terjadi diluar dari tempat tinggal kita.

Kita semakin tertutup dengan dunia luar karena apa yang kita rasakan sudah sangat mudah kita ungkapkan dengan status yang terkadang berlebihan untuk dipublikasikan.Kita tak lagi perlu kawan curhat karena media sosial sudah menjadi tempat curhat yang lebih mengasyikan dengan jumlah like yang banyak.

Kita juga asyik dengan permainan online yang sebenarnya membuat kita semakin tertutup dengan sosial kita.Apa yang terjadi ketika kita sebagai Mahasiswa mengkonsumsi paham tersebut dan mendarah daging.Kemungkinan negara ini akan dipimpin robot yang kita buat sendiri.Ini memang hal sepele mungkin juga hal tidak penting bagi sebagian kalangan Mahasiswa.

Tapi masih ada segelintir Mahasiswa yang memikirikan hal ini.Mari kita buka lagi ruang ruang untuk berdiskusi,bersosial dengan yang lain.Solusi bukan dapat dari layar montior,tapi dengan pemikiran dengan duduk bersama dan bertatap wajah.

Saya takut dimana ketika teknologi membuat manusia menjadi bodoh (albert einsten)

Sabar Budi Simbolon
Sabar Budi Simbolon
Fakultas Hukum, Universitas Bengkulu Ketua Komisariat IUSACT GMKI Bengkulu Tahun 2013-2104
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.