“We are Fighting against Human Animals” (Yoav Gallant)
Pada tanggal 25 Oktober 2023, Menteri Pertahanan Israel dalam konferensi pers menegaskan bahwa mereka akan melawan dan memerangi “human animals” yang dimaksud dengan narasi tersebut adalah Gaza, Palestina. Dengan menyebut Gaza secara terbuka dengan narasi yang sangat merendahkan, bahkan dari dunia barat sedikitpun tidak memberikan reaksi yang dapat membantu atau bahkan membela. Namun, apa yang terjadi? mereka memilih untuk membiarkannya menjadi narasi yang seolah dianggap itu adalah benar adanya.
Seperti yang sudah dikatakan dan diperingatkan oleh Edward Said, sejak abad ke XIX, Barat sudah membangun sistem narasi yang terstruktur yang menunjukkan sikap dehumanisasi kepada Timur (Asia) yang disebut sebagai Orientalisme (Said, 1978).
Orientalisme merujuk kepada bagaimana pandangan negara-negara Barat kepada negara-negara Timur menggunakan relasi yang dimuat antara negara-negara Barat dengan negara-negara Timur menjadi oposisi biner yang merujuk kepada “us” vs “them”, “dominan” vs “subordinat” dan “memerintah” dengan yang “diperintah”. Mereka (Barat) menganggap diri bisa membuat tolak ukur yang tidak berdasar kepada Negara timur, yang terlihat dari pernyataan Sir Alfred Lyal seorang (orientalis) yang menegaskan bahwa mereka (Barat) mempunyai Civilization yang lebih maju dan memposisikan Timur dibawah peradaban mereka (Barat) (Benni Amor, n.d.).
Oleh karena itu perlunya proses “adabisasi” kepada negara-negara timur, sehingga bangsa Timur dianggap setidaknya mempunyai nilai dan tatanan sosial dan beretika dalam menjalani kehidupan. Pandangan subjektif atau narasi yang mendehumanisasi Barat yang sebenarnya sudah ada sejak abad XIX ketika Prancis dan Inggris mendominasi Timur kemudian setelah perang dunia II digantikan oleh Amerika dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan Prancis dan Inggris (Cipta & Kurniawan, 2025).
Ada semacam Arogansi Intelektual yang mendarah daging dalam dunia melihat bangsa Timur. Dalam lanskap global saat ini, Arogansi tersebut termanifestasi nyata melalui hegemoni oleh bangsa Barat (Amerika Serikat) yang memposisikan dirinya sebagai polisi moral sekaligus menjadi standar tunggal peradaban, seolah olah suatu peradaban dapat dianggap maju jika kita mengadopsi cetak biru yang dirancang di Washington.
Superioritas yang dimiliki oleh bangsa Barat bukan hanya persoalan militer semata, melainkan penindasan epistemik yang merupakan sebuah gaya sistematis untuk membungkam kebenaran yang tidak sejalan dengan kepentingan Barat. Jika kita analisis lagi lebih dalam, kita bisa melihat pola ini secara berulang dalam legitimasi sistematik terhadap ideologi Zionisme, dimana standar ganda menjadi hukum yang berlaku. Di satu sisi, dunia seolah menggaungkan hak asasi manusia dan menjual nama perdamaian antar dunia, namun disisi lain penindasan dan kependudukan dilegitimasi atas nama superioritas, inilah wajah baru dari orientalisme yang sangat rapi dan menjadi neokolonialisme hari ini.
Diam di tengah arus ini, bukanlah sebuat kenetralan. Namun ketika kita membiarkan suatu etnis merasa paling superior atas segalanya, bisa menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang boleh musnah, maka kita sebenarnya sedang merawat kembali warisan Orientalisme yang mematikan.
Gaza disini tidak hanya menjadi korban perang biasa namun, adanya campur tangan narasi orientalis yang dilakukan dan didorong oleh Barat kepada Timur. Narasi yang memojokkan Tmur ini bukanlah hal yang baru, melainkan kelanjutan dari proyek kolonial yang terstruktur selama ratusan tahun yang lalu. Sejak era Napoleon Bonaparte menyerbu Mesir hingga kependudukan Inggris di Palestina (Cole, 2007). Barat telah banyak memproduksi ribuan karya sastra, peta, dan studi etnografi yang secara sengaja melabeli penduduk asli sebagai bangsa yang “statis”, “irasional” dan “tidak mampu mengolah tanahnya sendiri”.
Selain Narasi yang kita tarik undur beberapa ratusan tahun lalu, Barat juga sudah memperlihatkan dirinya sebagai standar ganda HAM yang membedakan konflik perang antara ukraina dan Palestina. Setelah serangan balasan yang diluncurkan oleh Hamas (Palestina), Presiden Ukraina Joe Biden secara langsung menyatakan belasungkawa terhadap Israel, dan menegaskan bahwa Israel berhak untuk membela diri atas serangan balasan oleh Palestina. Dalam Aljazeera, terdapat banyak kritik balasan yang gaungkan oleh pengguna media sosial bahwa mereka mempunyai standar ganda HAM.
Ketika Ukraina memberikan serangan balasan sebagai bentuk pembelaan diri atas Rusia, Banyak pemimpin Internasional, media, sampai diplomat secara terang terangan mendukung bahkan merayakan karena dianggap membela tanah mereka. Namun berbalik ketika Palestina meluncurkan senjata balasan kepada Israel yang dimana merupakan hak yang sama dengan Ukraina, bangsa Timur (Palestina) secara langsung mendapat kecaman dan dikatakan sebagai “Teroris” atas Israel.
Dari sinilah yang dimaksud dengan Said, bahwa Orientalisme yang terjadi saat ini memang sengaja dipangkas dengan lebih rapi dan terstruktur dengan bukti bahwa siapa yang mendefinisikan narasi maka dia yang menjadi penguasa. Dan menjadikannya sebagai infrastruktur ideologis yang menghidupkan mesin perang Zionis atas Gaza hari ini.
