OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Ketidakadilan Gender dalam Konstruksi Media Massa

Muhammad Iqbal Mubarak
Saya adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Ilmu sosial dan Politik, Prodi Sosiologi

Kekerasan terhadap perempuan salah satu fenomena yang sangat mengkhawatirkan dalam pembentukan mental. Seiring meningkatnya fenomena kekerasan terhadap Perempuan, maka mempautkan pada pemberitaan di media massa atau media sosial. Kekerasan terhadap perempuan setiap tahun mengalami kenaikan.

Pada tahun 2020 kekerasan terhadap perempuan mengalami penurunan 31,5 persen dari tahun sebelumnya. Seperti banyak media konvensional, jenis kelamin perempuan mendapat sorotan media online. salah satu hal nampak di kehidupan sehari-hari yaitu kecenderungan media dalam melakukan modifikasi peristiwa terhadap perempuan. Hal ini diatur dalam bahasa-bahasa penulisan judul berita.

Bentuk kekerasan terhadap perempuan dapat kita ihat dari bahasa dan kekerasan visual. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Komnas anti kekerasan terhadap Perempuan (2018 : 56) Media massa sedang melakukan peliputan terhadap korban kekerasan dan tidak berpihak kepada korban malahan menghakimi korban.

Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan mengatakan, pelanggaran kejahatan dengan perempuan selalu berkaitan dengan tubuh perempuan sebagai salah satu objek pornografi, yang mengakibatkan perempuan merasa tidak nyaman dengan penggunaan teknologi. Dan juga komentar dari masyarakat yang menyebabkan psikis bagi korban.

Faktanya bahwa media kasus kekerasan perempuan kurang eksistensi. Seperti contoh: PT KAO memasarkan produknya di media iklan dengan ciri khas produk deterjen yang memasukkan kehidupan sebuah keluarga, yang memberikan gambaran umum perempuan yang memiliki hubungan erat terhadap keluarga.

PT KAO mengeluarkan versi iklan Attack Easy di media televisi, salah satunya versi “Ibuku Cantik saat Mencuci” dalam kalimat tersebut mengandung sifat patriaki karena dalam iklan tersebut perempuan hanya bisa melakukan pekerjaan rumah. Dalam sebuah ilustrasi di atas bahwa perempuan merupakan mahluk yang lemah dan pasif.

Budaya patriaki dapat kita lihat dalam ketidakadilan gender terhadap perempuan. Budaya Patriaki merupakan merupakan salah satu realitas masyarakat, kemudian budaya tersebut menciptakan sebuah ketimpangan terhadap perempuan yang lebih sering dirugikan karena tidak terlalu penting. Sedangkan laki-laki merupakan objek yang aktif, berpikiran rasional, kuat dan menguasai segala peran di dalam masyarakat.

Selain itu terdapat ketidakadilan berbentuk subordinasi yang memposisikan perempuan yang dapat dijajah dan dapat dikuasai oleh para laki-laki untuk memuaskan hasrat biologis. Stereotipe atau sebuah pelabelan terhadap perempuan yang disebut pelacur yang dapat menurunkan martabat para perempuan. Gender laki-laki diposisikan di pihak yang berdominasi berkuasa yang dapat mengontrol perempuan. Budaya Patriaki merubah pemikiran masyarakat yang melahirkan perbedaan gender.

Langkah-langkah pengurangan ketidakadilan gender dalam media massa atau kekerasan terhadap perempuan yaitu melalui konsep:

  • Cyberfeminis
  • Merupakan salah satu gerakan kaum perempuan untuk melawan subordinasi. Cyberfeminis menunjukkan bahwa sebuah teknologi internet yang dapat digunakan untuk pemberdayaan suatu kelompok terpinggirkan. Cyberfeminis melawan berbagai permasalahan terhadap perempuan yang didominasi oleh para lelaki mengelilingi teknologi.
  • Program Hastag (#).
  • Selain itu juga media sosial membantu para perempuan untuk menyetarakan gender melalui Program ini berdampak baik untuk mendukung perkembangan para perempuan untuk menunjukkan jati diri mereka masing-masing. Media sosial merupakan alat untuk membuka peluang bagi bebas berpendapat dan berbagi ruang dan waktu. Media sosial dianggap paling mudah untuk menyebarkan berbagai informasi terutama kekerasan. Penggunaan media sosial bagi perempuan merupakan salah satu wadah untuk suara mereka dapat didengar oleh masyarakat lain.
  • Membangun kesadaran diri 
  • Membangun kesadaran itu sangat penting. Bagi setiap gender yang saling bermasyarakat wajib membangun kesadaran diri karena dengan kesadaan maka kita akan menilai seseorang dengan cara yang benar dan tidak membandingkan perbedaan gender. Seperti pria yang harus dilatih untuk menghargai kemampuan perempuan untuk memberikan mereka ruang untuk maju.
  • Stop Stereotip
  • Sering kita dengarkan di berbagai masyarakat seperti “Wah! Mobil itu ugal-ugalan dijalan, pasti perempuan yang mengemudi.” Dengan ucapan seperti itu kalimat stereotip yang dimana perempuan tetap menjadi biang masalah dalam suatu hal. Jadi bagi para laki-laki perempuan berada dibawah tingkatannya yang selalu aktif.
  • Menandai adanya bias gender 
  • Kesamaan gender bukan berarti harus sama dalam kesetaraan. Tapi hak dan tanggung jawab  tidak mempengaruhi mereka berjenis kelamin apa. Jadi semua jenis kelamin memiliki kebebasan dalam bermasyarakat dan bermedia sosial.

Ketidakadilan gender dalam media massa dapat kapan saja terjadi. Media massa turut mengonstruksi ketidakadilan gender dalam masyarakat luas. Dapat kita lihat bahwa media massa melakukan marginalisasi pada perempuan yang memberitakan mereka dengan menurunkan martabatnya dan merendahkan harkatnya sebagai mahkluk Tuhan. Media massa dan masyarakat memposisikan mereka sebagai derajat yang paling rendah dari pada laki-laki. Faktanya budaya patriaki masih melekat di dalam masyarakat yanng menyebutkan bahwa laki-laki merupakan objek yang aktif, berpikiran rasional, kuat dan menguasai segala peran di dalam berbagai bidang di masyarakat. Cara menanggulangi ketidakadilan tersebut maka harus membangun kesadaran diri yang berawal dari stop mengupload hal yang tidak penting, stop melakukan stereotip, dan menandai adanya bias gender dalam masyarakat.

Untuk waktu yang akan datang para laki-laki seharusnya sadar bahwa perempuan tidak dapat dinilai seperti yang telah disampaikan diatas, karena perempuan adalah manusia juga yang memiliki hak untuk mendapatkan ketentraman hidup. Dalam keluarga laki-laki harus menjadi sebuah panutan yang baik bagi istri mereka tanpa adanya ketidakadilan dalam kesetaraan.

Muhammad Iqbal Mubarak
Saya adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Ilmu sosial dan Politik, Prodi Sosiologi
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.