OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

Kesalahan Artikulasi Coen dan Astried

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Krisnaldo Triguswinri
Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Diponegoro

Tanggapan atas Coen Husain Pontoh dan Astried Permata. Membaca tulisan Coen dan Astried Permata yang dipublikasi pada 7 September dan 20 Agustus 2021 dalam kanal media alternatif, Indoprogress, setidaknya terdapat empat hal krusial dan ignorant yang patut dibantah. Pertama, Coen dan Astried tampak sembarangan dan miskin data dalam memberi komentar tentang fenomena gerakan solidaritas Warga Bantu Warga yang sedang berlangsung di Indonesia.

Kedua, alih-alih ingin memberi tanggapan kritis terhadap artikel Astried, Coen justru terjebak dalam oversimplifikasi kala, misalnya, menyebut gerakan solidaritas, Coen meminjam argumen Astried, “rentan terjebak ke dalam logika kerja neoliberalisme,” hanya karena dalam waktu yang bersamaan tidak mengintrupsi eksistensi neoliberalisme dan tak mengajukan gugatan pada negara demi dihasilkannya keadilan.

Saya berhipotesis bahwa Coen menganggap solidaritas tersebut sebagai sesuatu yang a-politis dan pasif. Coen tak mengerti bahwa solidaritas tersebut diorganisir dengan prinsip bahwa, sebenar-benarnya, simpul-simpul solidaritas tersebut tidak percaya, muak, serta menolak eksistensi dari otoritas apapun: baik negara, maupun pasar.

Ketiga, seperti kecerobohan Coen, Astried ternyata sama cerobohnya. Ia menyebut bahwa aktivitas solidaritas tersebut bisa terjebak dalam karakteristik neoliberalisme dengan, misalnya, menulis: “..ia seolah mengafirmasi bahwa persoalan hak-hak ekonomi bukan urusan pemerintah melainkan individu/masyarakat itu sendiri, bahwa masyarakat punya kebebasan untuk memutuskan dan bertanggungjawab mengurus hidupnya melalui pasar.”

Padahal, bila merujuk pada inisiatif solidaritas yang diselenggarakan beragam kolektif di banyak kota, aktivitas Warga Bantu Warga tersebut adalah salah satu upaya untuk mendekomodifikasi dominasi pasar bagi kehidupan kewargaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh Solidaritas Sosial Bandung yang, misalnya, melakukan pengelolaan dapur umum mereka dengan tidak mengakses pasar dalam pengertian neoliberal. Mereka menanam, memanen, dan kemudian memasak.

Selain itu, aktivitas Pasar Gratis dan Ruang Bebas Uang di banyak kota memperlihatkan bagaimana inisiatif tersebut diorganisir untuk menandingi eksistensi kapitalisme neoliberal. “Tidak ada yang gratis di bawah sistem ekonomi kapitalisme,” ujar seorang teman.

Keempat, bila Coen mengatakan bahwa kapitalisme neoliberal menghasilkan imperatif moral baru berupa individualisme, egoisme dan kompetisi. Maka saya melihat dari dekat bagaimana Warga Bantu Warga tersebut, tidak sekadar memfabrikasi kohesi sosial, namun ingin mengamplifikasi ulang kolektivitas, solidaritas dan kesetiakawanan sebagai jawaban atas krisis. Negara berserta intitusi koersifnya, juga pasar beserta struktur kontrol dan dominasinya, adalah penyebab utama krisis hari ini.

Oleh karena itu, saya (walau ini terbaca buru-buru) membayangkan utopia jenis ekonomi pasca-kapitalis dengan komune swa-kelola yang perencanaannya dilakukan secara demokratis dari bawah. Setidaknya, paraksis gerakan solidaritas hari ini sudah menuju kesana: otonom, demokratis dan non-hirarkis.

Bila Astried dan Coen ingin lebih teliti, maka seharusnya mereka meluangkan sedikit waktu untuk menilik keseluruhan kompleksitas motif, ide, serta metode yang menjadi basis solidaritas Warga Bantu Warga. Hal tersebut perlu dilakukan agar Coen dan Astried terhindar dari generalisasi. Namun begitu, saya sepakat dengan Astried, yang menyebut bahwa fenomena ini dapat menjadi inisiatif jangka panjang untuk menggantikan kegagalan kapitalisme dalam merespon krisis dan absennya negara dalam menghasilkan kesejahteraan.

Krisnaldo Triguswinri
Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Diponegoro
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.