Seorang bayi tidak sempat bisa menawar, ia ingin lahir dari rahim siapa dan ke dalam struktur sosial apa. Sebagian kecil lahir dari keluarga dengan modal ekonomi, sosial, dan kultural yang mapan. Namun sebagian besar lainnya memulai hidup dari keluarga yang rapuh secara ekonomi, dengan ruang gerak yang sejak awal telah dipersempit.
Perbedaan ini bukan sekadar soal pendapatan, melainkan perbedaan kelas yang bekerja sejak dini. Ada anak yang tumbuh dengan family time sebagai tradisi, banyak pula anak yang bahkan tak mengenal istilah itu karena orang tua terlalu sibuk menyusun strategi bertahan hidup. Dalam konteks ini, kemiskinan tidak hanya mencuri materi, tetapi juga waktu, kelekatan emosional, dan kesempatan tumbuh yang setara.
Tekanan ekonomi perlahan membentuk cara keluarga memandang anak. Di banyak keluarga miskin, anak tanpa pernah diminta persetujuannya, diposisikan sebagai jaminan hari tua. Ketika dewasa dan bekerja dengan gaji yang pas-pasan, anak dituntut memberi jatah bulanan kepada orang tua. Relasi yang seharusnya dibangun atas dasar kasih berubah menjadi relasi ekonomi yang timpang. Bukan karena orang tua tak menyayangi anak, melainkan karena kemiskinan memaksa cinta bekerja dalam logika kapitalisme.
Namun, menyederhanakan persoalan ini sebagai kesalahan orang tua semata juga tidak adil. Menjadi renta dengan tubuh yang tak lagi produktif adalah hukum alam. Justru karena itu, negara seharusnya hadir memastikan setiap warga memiliki perlindungan di hari tua. Manajemen dana pensiun, jaminan sosial, dan layanan kesehatan lansia tidak boleh menjadi kemewahan kelas menengah ke atas. Tanpa perlindungan struktural, orang tua dipaksa bergantung pada anak, dan anak dipaksa memikul beban yang seharusnya ditanggung bersama oleh sistem.
Di titik inilah ketahanan keluarga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan publik. Keluarga yang kuat bukan hanya soal keharmonisan internal, tetapi juga tentang sejauh mana negara menciptakan ekosistem yang memungkinkan keluarga bernapas. Ketika upah tak layak, akses pendidikan timpang, dan layanan kesehatan mahal, keluarga miskin berada dalam kondisi rapuh yang diwariskan lintas generasi.
Kemiskinan pun kerap disalahpahami sebagai persoalan kurang kerja keras. Padahal, jika kerja keras adalah kunci utama kesuksesan, maka kuli bangunan yang bekerja di bawah terik matahari setiap hari seharusnya hidup berkecukupan. Realitas berkata sebaliknya, yang membedakan bukan etos kerja, melainkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, jaringan sosial, dan perlindungan negara.
Perbedaan akses ini membentuk cara seseorang memandang dunia, tentang apa yang mungkin dan apa yang mustahil. Di saat yang sama, persoalan domestik seperti atap rumah yang bocor, dapur yang tak selalu berasap, dan utang lama orang tua menjadi beban struktural yang diwariskan kepada anak. Anak bukan hanya mewarisi nama keluarga, tetapi juga kerentanan.
Maka, keluar dari kemiskinan struktural tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu atau keluarga. Ia menuntut keberpihakan kebijakan yang serius pada perlindungan sosial, pendidikan yang setara, dan penguatan ekonomi keluarga. Tanpa itu, narasi ketahanan keluarga hanya akan menjadi slogan normatif, sementara keluarga miskin terus dipaksa bertahan di sistem yang sejak awal tidak ramah pada mereka.
