Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Kemerdekaan yang Terakhir | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Kemerdekaan yang Terakhir

Membentuk Pelajar Cakap Literasi Digital

Meski akses ke himpunan pengetahuan semakin mudah dengan internet dan perangkat cerdas, tidak berarti netizen terhindar dari wabah misinformasi. Justru dengan membanjirnya versi dari...

Tentang Usia, Kesempurnaan, dan Presiden

Saat itu media massa dan sosial seketika riuh dan gaduh (Kamis, 21 November 2019). Tampak Presiden Jokowi yang tersenyum santai, duduk beralaskan beanbag didampingi tujuh...

Raja Ampat dan Mereka yang Tak Dapat Bersekolah

Sejak krisis 1998, angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 diklaim merupakan keberhasilan Pemerintah mengentaskan kemiskinan sejak dua dasawarsa terakhir. Berdasarkan survey yang dilakukan...

Industri K-Pop dan Konstruksi Fantasi

Berkembangnya industri hiburan Korea rupanya telah menyihir masyarakat di penjuru dunia untuk terus mengikuti perkembangan mereka. Film, drama, dan K-Pop merupakan sihir yang membuat...
Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

Siapa manusia yang enggan untuk merdeka? Saya rasa tidak ada manusia yang tidak mau menjadi manusia yang merdeka. Menjadi merdeka berarti dapat meraih kesejahteraan, baik kesejahteraan raga maupun kesejahteraan jiwa.

Merdeka bisa jadi berbagai macam rupa. Merdeka dari belenggu orang lain, merdeka untuk mengutarakan pendapat, sampai merdeka untuk melakukan sesuatu yang dapat membawa diri kepada kebahagiaan. ⠀

Kemerdekaan yang sesungguhnya bisa jadi tak pernah kita raih, sebab kadang-kadang kita masih terikat dengan kepentingan orang lain dan membuat kita tidak menjadi merdeka sepenuhnya.

Sebagai contoh merdeka dalam berpendapat bisa hilang karena ketersinggungan orang lain atas pendapat kita. Contoh lain adalah kebebasan dalam berperilaku masih dibatasi oleh norma, adat, atau aturan moral yang berlaku di tempat kita tinggal.  ⠀

Berbagai situasi dapat menggerus hak kemerdekaan kita, tetapi ada satu kemerdekaan yang akan terus melekat dalam diri kita, yaitu merdeka untuk menentukan sikap terhadap situasi yang datang kepada kita. Berdasarkan sikap yang ditentukan diri kita bisa menjadi lebih kuat, tetapi bisa juga menjadi lebih lemah.

Seperti kutipan sebelumnya yang saya tulis, berbagai macam situasi yang terjadi menuntut kita untuk menyikapinya. Sikap yang diambil masing-masing individu dapat memengaruhi keadaan yang terjadi nantinya, termasuk keadaan kesehatan jiwa. Satu peristiwa dapat disikapi secara berbeda oleh masing-masing individu dan dapat berpengaruh kepada nasibnya.

Sebagai contoh, ketika seorang siswa mendapatkan hasil yang tidak diinginkan dalam ujian, siswa tersebut memiliki beberapa pilihan untuk menyikapinya; dia merasa kecewa terus menerus sampai stres atau dia merasa bahwa perlu untuk meningkatkan kualitas diri dan mencari motivasi agar mendapatkan hasil yang diinginkan pada ujian selanjutnya. Siswa tersebut memiliki kemerdekaan dalam mengambil sikap terhadap peristiwa tersebut.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun ini bersamaan dengan peristiwa yang tidak diinginkan, yaitu pandemi Covid-19. Peristiwa tersebut dapat juga menjadi contoh bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengambil sikap terhadap ujian berupa pandemi ini.

Apakah bersikap tidak peduli terhadap protokol kesehatan dan tidak selektif dalam mencari informasi kesehatan yang dapat meningkatkan angka kasus atau bersikap menaati protokol kesehatan dengan baik dan memilah informasi kesehatan yang dapat menurunkan angka kasus. Semua itu kembali kepada sikap kita masing-masing. Dengan adanya uji klinis vaksin di Bandung, tentu kita berharap pandemi dapat berakhir lebih cepat dan keadaan dapat menjadi lebih baik.

Mengambil sikap terhadap suatu peristiwa sesungguhnya berada dalam kendali kita sendiri. Sementara, sesuatu yang berada di luar diri kita, seperti harta dan jabatan, tidak sepenuhnya berada dalam kendali diri sendiri.

Inilah mengapa kemerdekaan yang sejati berada dalam jiwa manusia itu sendiri, bagaimana seseorang menyikapi segala sesuatu yang dialaminya. Dari sikap yang diambil, kita dapat meraih kesejahteraan jiwa dan raga. Kita adalah tuan bagi diri sendiri.

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.