Dalam sebuah obrolan, di sela-sela istirahat jam belajar, seorang guru menuturkan bahwa dahulu kenakalan remaja sekolah bisa dialamatkan pada sekolah tertentu. Namun, saat ini, hampir setiap sekolah ada saja kasus kenakalan remajanya. Ada juga seorang wali murid curhat kepada guru tersebut bahwa anaknya yang kini remaja dan bersekolah yang notabene berasrama, kok, malah merosot prestasinya? Padahal, sewaktu masih SD anak tersebut terbilang aktif dan berprestasi?
Kami pun bertanya-tanya: mengapa ini bisa terjadi? Ada apa yang terjadi dengan dunia pendidikan saat ini? Apakah ini akibat tidak adanya “isolasi” antara murid yang benar-benar ingin belajar dengan murid-murid yang hanya sekadar menggugurkan “kewajiban belajar sembilan tahun”?
Kasus-kasus semacam itulah yang menyeret saya pada sebuah perenungan: apakah kita perlu menghidupkan kembali sekolah dan kelas unggulan?
Tak jarang, saat ini ruang kelas berubah menjadi arena yang rapuh. Guru bekerja keras menjelaskan materi, tetapi energi mereka juga terkuras untuk menegur, menenangkan, bahkan menindak murid yang datang ke sekolah tanpa niat belajar. Pada kondisi ini, anak-anak yang memiliki tekad ingin belajar justru menjadi kelompok yang paling dirugikan. Pada titik inilah, wacana kelas atau sekolah unggulan perlu dilihat secara jernih: bukan sebagai bentuk elitisasi pendidikan, melainkan sebagai ruang aman bagi murid yang memiliki motivasi belajar yang kuat.
Atmosfer yang Rusak
Kita sering berasumsi bahwa sekolah merupakan ruang tertib untuk belajar. Namun realitasnya, tak jarang sekolah yang menunjukkan sebaliknya. Guru menghadapi kelas yang gaduh, murid yang sibuk dengan gawainya, kasus perundungan, hingga kasus-kasus yang mengarah pada delinkuensi remaja.
Fenomena semacam ini selaras dengan riset psikologi perkembangan yang menyebut peer contagion effect: perilaku negatif, khususnya pada remaja, akan lebih mudah menyebar dibandingkan dengan perilaku positif. Pada kondisi semacam ini, satu atau dua murid yang berperilaku destruktif dapat memengaruhi seluruh dinamika kelas. Akhirnya, guru lebih banyak berperan sebagai “pemadam kebakaran” dibandingkan pendidik.
Akibatnya? Fatal! Murid yang memiliki tekad belajar justru tertekan, kehilangan fokus, dan memaknai sekolah sebagai ruang yang penuh ancaman sosial. Dalam banyak kasus, mereka lebih memilih diam, mengurangi partisipasi, atau bahkan menurunkan kualitas interaksi akademiknya demi menghindari ejekan teman sebaya.
Motivasi Belajar yang Tercekik
Psikologi belajar telah lama menekankan bahwa motivasi intrinsik tidak akan lahir dari lingkungan yang penuh gangguan. Teori Self-Determination (Deci & Ryan) menegaskan bahwa anak hanya dapat tumbuh dan berkembang ketika lingkungan memberikan rasa aman, otonomi, serta dukungan kompetensi. Saat kelas dipenuhi tekanan sosial negatif, motivasi intrinsik akan padam.
Dengan demikian, kelas/sekolah unggulan hadir bukan untuk mengistimewakan anak pintar, tetapi untuk menyediakan ruang yang mendukung tumbuhnya motivasi belajar. Ia adalah pelindung bagi anak-anak yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
Kegagalan Sistem yang Seragam
Salah satu problem besar pendidikan kita ialah kecenderungan memaksakan keseragaman. Semua murid ditempatkan pada satu kelas tanpa mempertimbangkan motivasi, kedisiplinan, maupun kesiapan belajar. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua murid datang ke sekolah dengan tujuan yang sama.
Menyatukan mereka dalam ruang sering kali menciptakan ketidakadilan pedagogis. Anak-anak yang sungguh-sungguh belajar akan terhambat. Sementara. anak yang tidak sipa belajar tidak mendapatkan intervensi yang tepat.
Kelas unggulan sebenarnya bisa menjadi solusi untuk mengoreksi ketidakadilan tersebut. Di ruang ini, murid dengan motivasi kuat dapat berkembang. Sementara, kelas reguler difokuskan untuk pembinaan karakter, pendampingan perilaku, dan penguatan motivasi belajar.
Kasus-kasus Kenakalan Remaja dan Realitas Kelas
Tingginya angka kenakalan remaja di sekolah menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita membutuhkan pendekatan berdiferensiasi. Tidak sedikit sekolah yang melaporkan bagaimana satu murid yang sering membuat kegaduhan mampu “menguasai” ruang kelas, memengaruhi teman lain, dan membuat guru kewalahan. Ketika satu anak mendominasi dengan perilaku negatif, seluruh proses belajar dapat runtuh.
Sayangnya, murid yang kerap menjadi korban justru murid yang rajin. Mereka kehilangan ruang berekspresi, terhambat secara akademik, bahkan mengalami tekanan psikologis. Ini merupakan kerugian besar yang jarang diperhitungkan dalam perumusan kebijakan pendidikan kita.
Kelas/sekolah unggulan, dalam konteks ini, bukanlah pemisahan berbasis nilai akademik, tetapi mekanisme untuk memastikan murid dengan kesungguhan tinggi mendapatkan ruang belajar yang layak. Ini merupakan bentuk perlindungan terhadap murid yang rentang terhadap tekanan sosial negatif.
Isu Keadilan: antara Elitisme dan Perlindungan
Kritik utama terhadap kelas/sekolah unggulan adalah potensi reproduksi ketimpangan. Namun, kritik ini layak ditinjau kembali. Pertanyaan mendasarnya bukanlah “apakah kelas/sekolah unggulan membuat pendidikan tidak setara?”, melainkan “apakah sistem saat ini sudah adil bagi murid yang ingin belajar?”
Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sistem yang sepenuhnya menyatukan semua murid tanpa mempertimbangkan motivasi justru menciptakan ketidakadilan baru: murid yang siap belajar terhambat oleh murid yang tidak siap. Dengan kata lain, keseragaman yang dipaksakan tidak identik dengan keadilan.
Kelas/sekolah unggulan justru dapat menjadi strategi keadilan yang lebih jujur–memberikan ruang yang dibutuhkan oleh setiap kelompok murid berdasarkan kesiapan dan komitmennya.
Akhirnya, kelas/sekolah unggulan bukanlah jawaban bagi semua masalah pendidikan, tetapi ia dapat menjadi salah satu alat paling realistis untuk melindungi murid yang sungguh-sungguh ingin belajar. Kita tidak boleh terus berpura-pura bahwa semua murid berada dalam level motivasi yang setara. Ketika ruang kelas dipenuhi gangguan dan perilaku negatif, keadilan pertama yang harus ditegakkan adalah keadilan bagi anak yang datang ke sekolah untuk belajar.
Dalam dunia pendidikan yang kian kompleks, menyediakan ruang aman bagi anak yang ingin belajar merupakan tindakan moral yang tidak boleh lagi ditunda.
