Jumat, Juni 18, 2021

Kekayaan Harta Karun Bawah Laut di Nusantara

Sampai Kapan Lenyap dari Perhatian Publik?

Problematika tentang hak hidup, perebutan ruang, dan isu lingkungan terus bertahan dan berlipat ganda. Jika kita telisik lebih dalam lagi, problem hak hidup, perebutan...

‘La Nyalla Effect’ Membongkar Kebekuan Politisasi SARA

Jelas. Pernyataan La Nyalla Matalitti tentang ke-Islaman Probowo, menyentak zona nyaman politisi agama yang selama ini dijadikan 'mainan' politik. Isu keagamaan, RAS, hoaks dan...

Menyoal UU MD3 DPR, Mengerikan?

Sudah dua hari belakangan ini rumah Pak Widjojo terlihat sepi tak berpenghuni. Lima puluh meter arah timur dari rumah Pak Widjojo - ada sebuah...

Kopi Lanang

Saat ini para netizen sedang ribut dengan persoalan pemboikotan perusahaan kopi terkemuka, Starbucks. Rupanya kegaduhan di dunia maya ini muncul, lantaran dipicu oleh statemen...
Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sekitar 62% luas wilayah Indonesia adalah laut dan perairan. Tak heran jika Indonesia memiliki kekayaan laut yang sangat melimpah. Potensi kekayaan laut itu meliputi pengelolaan perikanan, pengelolaan pertambangan, pengelolaan perhubungan laut, dan pengelolaan pariwisata. Ditambah lagi dengan luas hamparan terumbu karang sebesar 24,5 juta Ha. Selain dari luas terumbu karang, negeri Indonesia juga masih menyimpan potensi kelautan lainnya. Salah satu potensi laut tersebut adalah kekayaan bawah laut.

Selain potensi kekayaan laut yang melimpah, namun terdapat potensi sumber daya arkeologi laut yang tak jarang diketahui. Sumber arkeologi laut yang berada di bawah permukaan laut mapun di sepanjang pesisir pantai merupakan salah satu bentuk sumber daya kelautan berupa tinggalan-tinggalan budaya dan aktivitas manusia dari masa lalu. Harta karun bawah laut tidak dapat terpisahkan dari warisan budaya manusia dan merupakan unsur penting dalam sejarah manusia, memiliki potensi yang besar. Tak heran jika harta karun bawah tanah mengundang sejumlah pemburu harta mengubek – ubek lautan nusantara. Konon, Harta karun bawah laut merupakan hasil penjarahan dari beberapa bangsa yang pernah menjajah di Indonesia.

Sejarah mencatat sejak abad ke-7 hingga abad ke-19 perairan Nusantara telah menjadi kuburan bagi bangkai kapal-kapal yang tenggelam. Mereka berasal dari kapal-kapal dagang Cina (dari berbagai dinasti), kapal-kapal Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC), Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Jepang. Serta kapal-kapal lainnya.

Sudah ribuan kapal mengalami nasib buruk sampai akhirnya karam karena berbagai sebab, seperti tak kuasa menghadapi badai dan cuaca buruk kurangnya pengetahuan navigasi geografis pelayaran sehingga kapal menabrak karang dan lain sebagainya. Kapal-kapal karam berikut muatannya yang dikenal sebagai Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) atau biasanya disebut oleh masyarakat sebagai “Harta Karun Bawah Laut” Benda berharga tersebut disebut juga sebagai cagar budaya bawah laut dan menjadi milik Negara yang menguasai wilayah tersebut. Dalam pengertian yang luas, warisan budaya diartikan sebagai benda-benda artistik, sastra, arsitektural, bersejarah, arkeologikal, etnologikal, pengetahuan atau teknologi baik bergerak dan tidak bergerak yang mewujudkan nilai suatu bangsa.

Pada abad ke-16 bahwa letak jalur perdagangan banyak terjadi di kawasan Asia Tenggara. Selat Malaka dan Selat Bangka adalah jantung lalu lintas kapal dari berbagai penjuru dunia. Muatan yang diangkut kapal yang melintas di perairan pada saat itu sangat beragam dari rempah – rempah, sutra, keramik, batu permata dan senjata. Sementara itu, kondisi teknologi pelayaran pada zaman itu belum cukup mumpuni.

Masih berbekal peta yang jauh dari kata akurat, para nahkoda yang harus menghadapi jalur pelayaran yang sarat akan jebakan batu karang. Begitupun teknologi komunikasi yang digunakan pun masih ala kadarnya. Jadi, tak sedikit kapal yang menabrak batu karang dan akhirnya tenggelam. Bangkai kapal pun terkubur didasar laut bersama dengan muatan berharga.

Menurut Andy Asmara, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Indonesia memaparkan bahwa terdapat 487 titik didasar laut Nusantara yang diperkirakan merupakan lokasi kapal terkubur.

Diperdalam oleh Tony Wells dalam bukunya, Shipwrecks & Sunken Treasure in Southeast Asia yang terbit tahun 1995, menjelaskan bahwa sedikitnya ada 185 kapal yang karam diperairan Nusantara atau 41 % dari total kapal karam di seluruh perairan Asia Tenggara. Wells juga menjelaskan bahwa kapal dari berbagai macam penumpang, militer maupun kerajaan yang datang ke Nusantara berasal dari berbagai daerah seperti, Portugis, Belanda,Cina, Amerika, Jerman dan Inggris. Mereka melayari melalui jalur utama seperti, Selat Bangka, Selat Gaspar, Laut Jawa, perairan Ambon, Bali, Sumatra, Flores, Sulawesi dan Irian.

Dan tak sedikit kapal yang menemui nasib nahas. Dari Selat Bangka dan Selat Gaspar menenggelamkan 43 kapal pada pertenghan abad ke-16 sampai abad ke-19. Prins Willem Hendrick adalah contoh kapal yang menabrak karang di Selat Bangka. Kapal Belanda ini bertolak dari Siam, September 1686, dengan membawa 400 penumpang dan 400 ribu koin emas. Dalam musibah ini, hanya enam awak yang selamat, termasuk Captain Andriaan van Kreningen. Belakangan, sang Kapten dihukum gantung di Batavia atas kecerobohannya mengemudikan kapal.

Dari tahun 1502 sampai 1852, di perairan Sumatra tenggelam 27 kapal. Salah satunya masih menjadi legenda dikalangan pemburu harta karun : Flor de la Mar yang karam pada akhir tahun 1511. Kapal Portugis yang berlayar di Lisabon ini dinahkodai Admiral Alfonso de Albuquerque berhasil menyelamatkan diri.

Namun, 400 penumpang lainnya tenggelam bersama kapal Flor. Yang membuat para pemburu harta tergiur dan penasaran, Flor memuat hasil pampasan perang tentara Portugis. Harta pedagang kaya raya dan keluarga kerajaan Malaka dikuras masuk ke kapal. Tak kurang dari 60 ton perhiasan emas dan pertama dalam berbagai ukuran dan bentuk berada di lambung Flor. Termasuk dalam muatan yang spektakuler ini adalah seperangkat mebel dan perabotan rumah tangga bersepuh emas milik Sultan Malaka.

Semua kekayaan potensi laut Indonesia merupakan anugerah Allah swt yang sudah semestinya dikelola dan dimanfaakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Melihat potensi kekayaan bawah laut Indonesia yang demikian, maka sudah sewajarnya jika pemerintahan kabinet Indonesia kembali membangun kejayaan potensi lewat laut.

Laut disamping sebagai sarana transportasi yang murah, juga menyimpan banyak sumber alam yang dapat dieksplorasi, antara lain berbagai sumber bangunan, sumber mineral dan sumber energi ombak.  Laut  juga sebagai sumber minyak bumi yang melimpah ruah dan sebagai sarana rekreasi dan kesehatan. Dengan demikian, banyak sektor yang dapat digali serta dikembangkan di wilayah lautan Indonesia.

Sumber :

Pusat Data dan Anlisa Tempo. 2018. Serial Data Tematik : Perburuan Harta Karun Di Laut Nusantara. TEMPO Publishing

Dwi Puspitasari, Maygy . 2014. Perlindungan Hukum Cagar Budaya Bawah Air Perspektif Hukum Internasional Dan Hukum Nasional. Fakultas Hukum. Universitas Airlangga

Eka Rabbani, Hilman. 2016. Status Kepemilikan Harta Bawah Laut Menurut Hukum Positif Dan Hukum Islam. Prodi Syariah dan Ilmu Hukum. Fakultas Agama Islam dan Ilmu Hukum. Universitas Muhammadiyah Malang

Subijanto. 2011. Potensi Kekayaan Alam Kelautan Mendukung Kebijakan Kemdi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 17, Nomor 5,  hlm. 576 -587

Sukamto. 2017. PENGELOLAAN POTENSI LAUT INDONESIA DALAM SPIRIT EKONOMI ISLAM (Studi Terhadap Eksplorasi Potensi Hasil Laut Indonesia). Malia,Vol.9, No.1, hlm. 35 – 62

Dinda Dwi Wijayanti
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.