Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Kasus UAS, Pantaskah Berbicara Akidah Dipidanakan? | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Kasus UAS, Pantaskah Berbicara Akidah Dipidanakan?

Trickle Down Effect: Kemana Air Sebenarnya Menetes?

Bendungan  sebagai tempat untuk menampung air seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana irigasi untuk mengairi sawah-sawah. Sifat air yang selalu mengalir dari tempat tinggi ke...

Salam Penghormatan untuk Dua Maestro Indonesia

Kita sudah pasti tak asing lagi dengan kabar berpulangnya Glenn Fredly dan Didi Kempot ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Selain kerabat dan keluarga,...

Pak Menteri, Kami Memang Miskin, Tapi…

Ilmu lisan tak bisa diperoleh dari sumber yang sembarangan. Ilmu lisan juga tak bisa dibeli di segala tempat. Ada jurus dan cara jitu agar...

Kampus "Kesadaran dan keberpihakan"

Kampus merupakan tempat dimana kita berproses untuk mencari jati diri, belajar dan berjuang serta menjadi tempat berinteraksinya para generasi muda. Sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dikejutkan dengan sebuah kasus yang menjerat Ustaz Abdul Somad atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebuatan UAS. Pasalnya, video ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) yang mengomentari soal salib menuai sorotan publik lantaran dinilai menyinggung umat Kristen.

Atas ceramahnya itu, Somad dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Selain itu, Somad juga dilaporkan oleh Komunitas Horas Bangso Batak ke ke Polda Metro Jaya dan Brigade Meo Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Polda NTT.

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah ketika diketahui bahwa ceramah tersebut ternyata sudah terjadi tiga tahun yang lalu. Hal tersebut mengundang pertanyaan, kenapa ceramah tiga tahun lalu baru viral saat ini? Itu pula yang diepertanyakan oleh UAS dalam video klarifikasinya. Dalam klarifikasinya, UAS juga menegaskan bahwa ceramahnya itu disampaikan di depan umat muslim, di tempat privat, bukan di ruang publik.

Namun, kenyataanya UAS saat ini sudah dilaporkan oleh beberapa pihak. Dengan demikian, saat ini, yang berhak memutuskan apakah UAS akan diproses hukum atau tidak adalah pihak kepolisian. Keputusan apakah perkara UAS masuk ke ranah pidana atau tidak menjadi tugas yang tidak mudah bagi jajaran kepolisian yang menangani laporan tersebut. Pasalnya, kasus ini menyangkut sebuah kepercayaan yang tentu sangat sensitif.

Bukan Ranah Pidana

Bagi saya, kasus ini tidaklah tepat jika dimasukkan ke ranah pidana dengan pasal penodaan agama sesuai dengan pasal 156A KUHP. Penyampaian sebuah ajaran yang menyangkut kepercayaan, atau dalam bahasa agama islam disebut akidah, tidak patut diseret ke ranah hukum. Akidah bersifat subyektif, suatu hal yang bersifat subyektif terlebih disampaikan di ranah privat tidak bisa disebuat sebagai sebuah tindak pidana.

Hukum pidana pada dasarnya menghakimi sebuah perbuatan, bukan pemikiran terlebih jika pemikiran itu berkaitan dengan kepercayaan. Oleh sebab itu, menyampaikan ajaran agama dalam kalangannya sendiri bukanlah suatu tindak pidana, begitu juga ketika membandingkan agama yang dianut dengan agama lain di ranah privat. Mempidanakan hal tersebut justru akan sangat berbahaya terhadap kelangsungan kebebasan hak berpendapat.

Justru yang perlu dilakukan oleh aparat berwajib adalah mencari tahu siapa penyebar video ceramah UAS sehingga menimbulkan kegaduhan seperti saat ini. Penyebar video tersebut yang sejatinya bisa dikenakan ranah pidana, bukan isi ceramah UAS yang disampaikan di kalangan umat muslim.

Tugas yang Cukup Berat

Bagaimanapun juga, saat ini kasus UAS sudah dilaporkan ke pihak berwajib. Dengan begitu, keputusan apakah perkara ini bisa dilanjutkan ke proses hukum atau tidak ada di tangan kepolisian. Sebagai pihak yang memeliki wewenang menyeleksi sebuah perkara, pihak kepolisian harus benar-benar bekerja secara hati-hati dalam menanggapi laporan tersebut.

Pihak kepolisian harus bisa memastikan apakah yang disampaikan oleh UAS tersebut disampaikan dalam ranah privat atau ranah publik. Hal tersebut sangat penting untuk bisa menentukan apakah ceramah itu bisa dikategorikan sebagai penodaan agama atau tidak. Selain itu, pihak kepolisian juga perlu untuk mendalami motif dari penyebaran video tersebut mengingat kejadiannya sudah tiga tahun silam.

Bisa jadi penuntutan hukum terhadap UAS bukan lagi sebagai proses hukum murni, tapi ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu yang ingin membuat suasana negeri ini menjadi gaduh. Hal semacam ini sangat rentan terjadi di Indonesia yang terdiri dari berbagai Suku, Ras, dan Agama.

Kedepankan Musyawarah

Sebagai negara yang ber-bhineka tunggal ika, perkara ini sepatutnya mengedepankan musyawarah antar lintas agama. Alagkah baiknya jika para pemuka agama masing-masing agama duduk bersama untuk mencari kesepakatan terkait kasus ini agar di kemudian hari tidak terjadi kegaduhan yang diakibatkan oleh peristiwa yang sama.

Selain itu, sudah tentu para penganut agama di negeri ini akan sangat menghormati keputusan pemuka agamanya masing-masing. Sebagiamana kalangan muslim yang akan menuruti apa yang disampaikan oleh ulamanya, begitu juga dengan penganut agama lainnya. Jangan sampai kasus ini berlarut-larut sehingga menimbulkan keresahan yang tak kunjung usai serta menimbulkan kobar api yang lebih besar lagi.

Mempidanakan pemuka agama yang sedang menyampaikan ajaran agamanya di kalangan mereka sendiri justru akan berbahaya terhadap kelangsungan bangsa ini, sebab bukan hal yang mustahil akan banyak pemuka agama yang dipidanakan. Bukankah sudah mejadi tugas pemuka agama untuk menyampaikan akidah sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing?

 

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.