Sabtu, April 17, 2021

Kartini, Nyai Ahmad Dahlan, dan Ibu Sinta Nuriyah

Sudahkah Anda Makan Hari Ini?

Tangis, kecewa, takut, gelisah, galau adalah perasaan yang pasti pernah kita alami. Tak ada yang tak pernah merasakannya. Tak ada yang bisa lepas dari...

“Literation Cycle” dan Anti Sentimen dalam Al-Qur’an (2)

Keberlanjutan Komunitas Dari Segi Ekonomi Sebuah Komunitas dalam melakukan pelayanan sosial tidak terlepas dari manajemen dari setiap komunitas tersebut. Seringkali masalah yang dihadapi oleh komunitas...

Jangan ‘Pinjam Baju’ Islam

Islam sebagai dinnul hadharah (agama berkeadaban) yang memiliki orientasi kedepan/berkemajuan dan moderasi memiliki pondasi pada nilai-nilai utama, yang bukan hanya terkait dengan teosentris, melainkan...

Amerika Latin dalam Arus Modernisasi

Jika berbicara tentang Amerika Latin, negara-negara yang berada pada kawasan tersebut sangat lekat kaitannya dengan sebutan negara dunia ketiga dan negara-negara komunis. Pertumbuhan Amerika...
Hardian Setya Permana
Penikmat Literasi, Pemerhati Sastra dan Budaya. Saat ini bergabung di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Seorang Ibu dan seorang wanita adalah yang pertama kali memperkenalkan kita pada dunia, pertama kali mengajari tentang keragaman dan aneka warna-warni benda. Tanpa keuletan dan kasih sayang mereka, mungkin kita tak akan sepandai ini, tak juga sedewasa ekarang.

Bagaimana seorang ibu kemudian menjadi ksatria untuk memperjuangkan pendidikan dan penghidupan yang layak pada setiap anak-anaknya, yang notabene dia adalah seorang wanita. Gender yang dipandang lebih lemah dari dari lelaki.

Jauh melampau sosok pahlawan super mana pun, Ibu adalah pahlawan super itu sendiri. Pahlawan bagi keluarga juga pendidikan bangsanya. Figur seorang Ibu (baca:wanita) adalah pijakan awal bagi anaknya untuk mengenal dinamika sosial dan peradaban, maka Ibu yang terpelajar dan berwawasan luas tentu akan sangat “pas” dalam mengarahkan buah hatinya menjadi sosok tangguh dan berguna bagi bangsa dan negara.

Kartini seorang perempuan terpelajar yang berfikir melampaui zamannya. Pemikirannya terus bergema sampai sekarang, memperjuangkan hak kaumnya untuk memperoleh kesetaraan dalam pendidikan dan kebudayaan. Penggerak dan pemantik semangat kaumnya untuk berfikir maju. Ide dan gagasannya tak terbendung, menembus sekat – sekat bangsa terangkum dalam kumpulan suratnya yang dibukukan dalam “Door Duisternis Tot Licht” oleh Jacques Henrij Abendanon, temannya berkebangsaan Belanda.

“Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan.

Dan, siapa yang bisa paling banyak berbuat untuk yang terakhir itu, yang paling banyak membantu mempertinggi kadar budi manusia? Perempuan. Karena, di pangkuan perempuan lah pertama-tama manusia menerima pendidikannya. Di sana anak mula-mula belajar merasa, berpikir, berbicara. “ Cuplikan surat RA Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer, 1900.

Membaca Kartini

Kegelisahan Kartini adalah kegelisahan seorang perempuan pada umumnya yang dinomorduakan  peranannya dalam keluarga maupun masyarakat. Kondisi tersebut membatasi akses informasi dan ilmu pengetahuan yang mereka dapat. Bahkan pada masa itu, untuk beberapa kalangan masih dirasa “tabu” seorang perempuan bumiputera mendapatkan pendidikan yang setara dengan kaum lelaki. Mereka masih terbelenggu dengan norma dan kepantasan dalam masyarakat.

Idenya tentang feminisme kemudian menjadi inspirasi kaum wanita terpelajar yang lain. Beberapa diantara kita mungkin ingat Nyai Ahmad Dahlan yang mendirikan Aisyiyah, atau Raden Dewi Sartika  keduanya adalah tokoh yang merintis kesetaraan pendidikan bagi kaum perempuan. Ada juga Ibu Fatmawati Soekarno yang setia menemani Bung Karno dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Kartini masa kini

Perempuan adalah sosok sentral dalam setiap peradaban, penyokong perjuangan dan perubahan sosial. Butet Manurung seorang sarjana Antropologi Unpad, seorang perempuan madiri yang mendermakan ilmunya untuk pendidikan Suku Anak Dalam di Sumatra. Ia adalah sosok Kartini masa kini yang berjuang tak hanya untuk kaumnya, tetapi juga untuk bangsa nya.

Melawan keterbatasan, Saur Marlina Manurung atau yang lebih dikenal dengan nama Butet Manurung memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi Suku Anak Dalam di pelosok hutan Sumatera. Adalah Ibu Sinta Nuriyah istri mendiang KH Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia ke-4 yang pada tahun ini menjadi salah satu dari 100 Tokoh yang paling berpengaruh di Dunia versi majalah TIME.

Ibu Sinta Nuriyah dengan Wahid Institute aktif memperjuangkan kemanusiaan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia. Menjadi Kartini bukan hanya mengenakan kebaya dan pakaian adat yang dilakukan setiap tahun sekali sebagai rangkaian selebrasi Hari Kartini.

Menjadi kartini bukan pula lalu meniadakan batas–batas adab antara lelaki dan perempuan. Akan tetapi menjadi perempuan Indonesia seutuhnya yang menduplikasi semangat berkemajuan dan visi hidup Kartini yang terpelajar, mandiri dan empati terhadap isu–isu feminisme.

Sebagai rangkaian terakhir tulisan ini berikut salah satu penggalan fragmen profil tokoh Nyai Ontosoroh pada novel Bumi Manusia oleh Raden Mas Minke.

“Dalam perjalanan pulang aku tak mampu berkata barang sesuatu. Nyai kurasakan telah menyihir kesadaranku. Annelies memang cantik gilang gemilang. Namun ibuya yang pandai menaklukan orang untuk bersujud pada kemauannya.”

Hardian Setya Permana
Penikmat Literasi, Pemerhati Sastra dan Budaya. Saat ini bergabung di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.